Follow Us @soratemplates

Sunday, November 7, 2010

SEBAL ;((

8:20:00 PM 0 Comments

Ketika membuat tulisan ini, saya sedang banyak dikejar deadline pekerjaan, anak saya yang baru sembuh dari sakit, dan saya pun saat ini sedang sakit flu yang lumayan parah (indikatornya adalah suara serak2 seksi yang tiba2 muncul menggantikan suara merdu saya :))))) ). Ditambah lagi suami yang sedang kursus di Sidney, jadi dirumah hanya ada saya, Fawwaz si anak sholeh dan eyang putrinya (mama saya, dan beliau ini secara khusus datang menemani saya selama hubby training di LN). Belum lagi berita tentang meleduk-nya Gunung Merapi yang mengiris hati (ngga ada hubungannya sih dengan keruwetan di kepala saya, tapi tak disangkal berita ini cukup mengisi beberapa persen ruang otak saya).

Teman saya bilang ini Balada Ibu-ibu Kantoran, seperti kisah klasik yang selalu ada untuk para working mom seperti saya. Biasanya sih tak jauh berbeda, masalah dengan ART yang suka seenak hati pulang dan pergi, perasaan sedih ketika si kecil sakit namun dituntut untuk tetap ke kantor, tumpukan pekerjaan yang tiba-tiba datang dan harus dikerjakan dengan sempurna tanpa si pemberi tugas itu tahu apakah kita ini masih single, punya suami atau punya anak 1,2 atau 5 orang. Yang penting, harus selesai besok. :((. Yang ada kepala tiba-tiba jadi pening dan kadar emosi meningkat...., huaaaaa, sabar....sabar....

Dan kemarin itu........rasanya saya hampir menyerah........Saat saya sedang konsentrasi merawat Fawwaz yang terserang batuk dan radang tenggorokan, tiba-tiba entah dari mana (ehm sebenarnya saya tahu sih siapa si pemberi surat ) datang surat perintah yang mengharuskan saya untuk mengisi lembar-lembar self asessment penelitian, lembar-lembar HAKI, mengharuskan saya untuk cepat-cepat menulis laporan, menyiapkan presentasi, membenahi logbook, dan blablabla......

What?? Ok-lah.....saya coba untuk tenang, dalam hati saya yakin semuanya pasti bisa saya selesaikan dengan mudah. Dengan resiko weekend tanpa tidur saya boyong semua pekerjaan administratif itu ke rumah. Dan saya berani bilang bukan saya kalo tak bisa menyelesaikan pekerjaan saya on time. Walaupun demi itu saya cuma tidur kurleb 4 jam di hari sabtu minggu, dengan flu berat, merawat anak saya yang belum sembuh 100%, sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya (karena saya memang tak punya ART di rumah). It is well done anyway, dan dengan semua perjuangan itu pantaslah saya gondok saat pekerjaan saya di copas oleh seseorang. Huah......rasanya......berang!! hehehee. Dan peristiwa copas itu cuma sejentik dari banyak hal yang bikin saya ingin meledak marah seperti Merapi.

Dalam kondisi lelah lahir dan batin seperti itu saya ingin menyerah, ok, mungkin saya memang tak bisa meng-handle rumah dan kantor sekaligus. Mungkin saya harus lepaskan salah satu diantaranya, dan tentu saja saya akan memilih melepas pekerjaan saya (yang sebenarnya juga saya sukai karena sesuai dengan idealisme saya saat kuliah). Tapi biar bagaimanapun menariknya pekerjaan saya, Family comes first. Buat saya pribadi tak ada yang salah dengan menjadi Ibu Rumah Tangga, itu profesi yang juga menyenangkan dan mulia. Dan saya seratus persen yakin saya akan tetap punya kesibukan di rumah.

Anyway.....saya berusaha tenang sejenak, berpikir dengan realistis tentang bekerja kantoran dan dirumah. Memikirkan dua hal itu dengan cara berpikir yang lebih logis tanpa mengesampingkan naluri seorang ibu. Saya mulai belajar melihat hidup saya sebagai seorang working mom dari sisi yang lain. Ok, tak bisa dipungkiri, saya memang kehilangan sebagian waktu saya untuk anak dan suami saya, tapi disisi lain, saat saya tak dirumah, mereka berdua juga bekerja dan belajar, (mungkin kondisi ini juga bisa berubah saat saya punya anak ke-dua, hmmm). Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumah tangga? Semua ini memang saya kerjakan sendiri, memasak, beres-beres, merawat tanaman dan bunga-bunga kesukaan saya. Ok, semua itu memang melelahkan, tapi …....saya suka mengerjakannya, jadi....tak terlalu jadi masalah. Berikutnya, pekerjaan saya. Yang jelas, saya memang suka. Hehehehe....OK lah....saya suka dirumah, juga dikantor. Masihkah saya akan tidak mensyukuri keadaan saya sekarang?

Allah sudah mencukupkan semua yang saya mau. Yang jelas, memang perlu ekstra kerja keras dan sabar,......sabar......dan sabar. Ya Allah, mudahkan saya mendidik dan menjaga anak saya menjadi anak yang sholeh, jadi istri yang sholehah untuk suami, Kuatkan saya, amiin.

Thursday, October 14, 2010

Smart parenting (Jelek gini koq dapet E ???)

11:12:00 PM 0 Comments

Cerita menarik tentang betapa kita sering terjebak menjadi Orang-Tua... ;))
Copas dari milis ....
Selamat menikmati dan direnungkan


Jelek gini koq dapet E ???

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji.
Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. "Saya mengerti", jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
"Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini," lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!"
Dia pun melanjutkan argumentasinya. "Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat", ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.
Saat ujian doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.
Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan kebaikan itu ada udang di balik batunya.
Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement.
Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat : karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut.
"Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah
menunjukkan kemajuan yang berarti."
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan atau rasa takut?
Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman : gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman : Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di pihak lain dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.
Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi ada juga orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

by Rhenald Kasali.
Sumber : Sindo, Kamis 15 Juli 2010.

Thursday, July 29, 2010

Being a cake maker

9:36:00 PM 0 Comments
Hmmmmmmmm.....Love to write this story.
Surely, there is nothing special about this cake except................
this is the first cake that we are really made and well done....

Di latar belakangi keinginan ibu-ibu pkk Perumahan Puri Nirwana tempat aku tinggal untuk mengisi kegiatan PKK dan arisan bulanan ibu-ibu agar lebih variatif, jadilah kami-kami ini yang notabene gabungan wanita pekerta dan ibu rumah tangga yang hidup rukun dan damai (amin),
berinisiatif untuk membuat kue.
Tadinya sih......bikin kuenya rencanaya buat acara lebaran, dengan idealisme tingkat tinggi pengen menyajikan kue lebaran sendiri untuk keluarga, hahahaha......
padahal, sebagian besar dari kami yang berkumpul hari itu asing dengan membuat kue, maklum
rata-rata berbackground wanita pekerja atau mantan pekerja kantoran yang lebih sering membeli kue daripada membuat kue.






Padahal kami punya 2-3 orang anggota PKK yang amat canggih kalo bikin kue,
sayangnya saat itu ibu2 andalan kami ini belum sempat hadir.
jadinya....bonek saja, tinggal ikuti resep, sesuai takaran, dan aduk...aduk...aduk...
jreng-jreng.....jadilah kue-kue ini (menurut saya sih membuat adonannya hampir mirip seperti kalo saya kerja di laboratorium, lihat resep, ambil takaran , campur dengan baik hehehe, gak ada bedanya sama bikin reaction mix buat PCR, bedanya adonan ini masuk pemanggang, kalo PCR masuk Termocycler xxixixiix.....)




whala...jadi juga
bangganya nggak kepalang tangung
walaupun .........
tentu saja akhirnya si ibu canggih pembuat kue turun tangan juga ...
tak ayal kami terpesona melihat kecepatan tangannya membuat adonan, memanggang dan menghias (sedikit, karena akhirnya beliau meminta kami berkreasi sendiri)

hahaha....senangnya bikin kue

Wednesday, July 7, 2010

first trophy ;)))

11:18:00 PM 0 Comments



Menjelang kenaikan kelas kemaren, Fawwaz dapat piala dari sekolah. HUhuhuhu........senangnya, walhasil piala pertamanya itu menemani gerak-geriknya sampai tiga hari berikutnya. mulai dari makan, main, minum susu, bobo siang dan malam, bahkan bangun tidurpun yang dicari adalah PIALA. Pokoknya hanya tentang piala dan piala lagi.
Padahal sejujurnya,Fawwaz masih belum benar-benar sekolah, karena masih banyak menghabiskan waktu di day care ketimbang play group, fawwaz benar-benar akan masuk Play group mulai pertengahan bulan Juli 2010.
Lalu piala itu untuk apa?
piala itu bukanlah piala akademik fawwaz,
piala itu adalah inisiatif dari Ummi untuk fawwaz, karena sudah aktif di kegiatan sekolah, menyanyi, menari
dan yang terpenting, piala itu adalah untuk meningkatkan kepercayaaan diri Fawwaz tentang eksistensinya di sekolah dan day care.
hehehehe.......terima kasih banyak Ummi.....

ACARA DI MEKAR SARI



Fawwaz dan gendis, maen di mekar sari



Fawwaz pas dapet piala........takjub tak percaya...... biarpun muka lelah seharian maen, tapi tetap senang.......

Thursday, May 20, 2010

Tentang Belajar Membaca

9:29:00 PM 0 Comments
Membaca.
yah.......episode ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan teman lama saya tentang saat-saat dia belajar membaca. Mau tidak mau, saya jadi berinstrospeksi diri tentang cara saya dan Tuan kecil saya berinteraksi dalam kegiatan yang resminya disebut "Belajar". Ah...............saya jadi merasa sedikit bersalah pada si Tuan Kecil.
Sebenarnya, si Tuan Kecil ini memang punya development stage yang sedikit lebih cepat.
Saya masih ingat betul, 9 bulan lebih 1 minggu dia sudah menapakkan kaki mungilnya di lantai. Genap 10 bulan, dia sudah mahir berjalan dan berlari. Itulah saat-saat saya benar-benar takjub melihat tumbuh kembangnya.
Di usia 1 tahun dia mahir memegang pensil. 1 bulan kemudian dia bisa menggambar bulat dan garis, ditambah kemampuannya membedakan bentuk bulat, segitiga, oval, persegi panjang dan kotak(bujur sangkar). Dan Saat itu dia mampu berhitung sampai 10 dan mengikuti saya menyanyikan lagu dengan bahasa inggris.
Dalam 22 bulan, dia bisa membaca Abjad A-Z in English, mengikuti suara Adzan, berhitung 1-10 indonesia&Inggris, mengenali bentuk yang lebih rumit, mengahafal pulau-pulau di Peta Indonesia plus beberapa kosakata dalam bahasa Inggris. Dan saat itu, saya merasa tidak terlihat ada nada terpaksa ketika dia menyebut angka atau huruf, sebaliknya dia terlihat bangga luar biasa. Dan saya memang selalu memberi reward jika dia bisa belajar sesuatu yang baru, mudah saja, seperti cium pipi dari ayah ibu plus sanjungan bahwa Fawwaz adalah anak hebat dan sholeh. And it works, dia selalu senang mendapat pujian hebat dan terpacu belajar lebih banyak lagi. Ketika dia lupa tentang sesuatu yang saya tanyakan, dia tetap menjawab meskipun sekenanya, dari sana saya mendapat kesan dia memang little bit ambisius, pekerja keras dan superior.
Tanpa saya sadari ambisi si Tuan kecil menular pada saya. Saat itu saya bercita-cita untuk membuatnya bisa membaca di Usia 3 Tahun, dan itu berarti 2 bulan lagi. Nyatanya, sudah kurang lebih 6 bulan, dan dia belum bisa membaca kata! (kalau mengeja huruf dia sudah ada di tingkat mahir) kalaupun bisa, saya rasa itu karena dia mengenali susunan hurufnya, seperti AYAH, DADDY, MOMMY, BOY, FAWWAZ dan INDONESIA. Hahaha......yang lainnya dia main tebak saja, seperti Dede bayi untuk tissue basah bergambar bayi, padahal jelas-jelas disitu tertulis M*T*(nama Brand Tissue basah yang lembut), ya.....pasti karena gambar bayi mungil yang ada di kemasannya.....Hahahahaa.......
Saya tak marah, malah tertawa, tapi sekaligus berpikir.....rupanya cara saya bermain dan belajar membaca dengan si Tuan belum klop.
Sampai saya akhirnya membaca tulisan teman lama saya, Miss Unita. Dia bercerita tentang saat-saat dia bisa membaca. Yang membuat saya tersadar, mungkin saya terlalu berambisi plus cara belajar yang tidak bisa bisa melibatkan emosi si Tuan kecil. Atau mungkin memang dia sekarang ada pada tahapan belum berminat untuk membaca. Memang sih dia lebih tertarik dengan lingkungannya, membuat pertanyaan bersambung yang sulit untuk dijawab dengan bahasa mudah. Mengkritisi dongeng-dongeng yang menurutnya tak masuk akal, menyimak cerita tentang banjir, siklus air, kebakaran, dll dari pada membaca.
Saya jadi merasa bersalah, bisa membaca adalah ambisi saya, bukan putra saya.
Terima kasih banyak miss, anda sudah mengingatkan saya.
dan saya tahu betul MissUnita termasuk kategori pelajar yang cerdas di sekolah, meskipun mungkin ibundanya dulu sempat panik karena belum bisa membaca saat masuk SD (Ah tentu saja saya tak mungkin salah tentang hal ini, saya kan satu sekolah saat SD dan SMA ;P, jadi saya benar-benar tahu kapasitas dia)
Jadi rasanya, tak ada alasan bagi saya untuk cemas........hahahha.....
Sekarang saya lebih membebaskan dia untuk memilih, apa yang ingin dipelajari si Tuian Kecil hari ini. Memotret (hobi barunya adalah memotret dengan kamera handphone saya), mendongeng, berlarian di sekitar rumah, atau bermain petak umpet.
Apapun, karena saya yakin dia tetap akan bisa membaca pada saatnya, kapanpun dia ingin belajar, saya pastikan saya adalah orang pertama yang tahu dan membimbingnya membaca.

I Love You Son.....
So much.......





Wednesday, May 19, 2010

Growing Up

7:45:00 PM 0 Comments
Syukurlah.......
Fawwaz makin betah di sekolah and Day care-nya.
Ada beberapa hal yang jadi perhatian saya di bulan-bulan pertamanya ini.
Pertama yang shocking buat saya adalah: He can sing along
Lagunya tak lain dan tak bukan adalah Ibu Kita Kartini (eh judulnya bener ngga sih..... ???)
Dan memang setelah perayaan Kartini di sekolahnya beberapa waktu lalu, fawwaz tak pernah absen menyanyikan lagu ini.
tak peduli apakah sedang nonton TV, sambil memainkan pesawatnya, di jalanan ketika berangkat sekolah, di angkutan umum, bahkan sebelum tidur setelah berdoa. Mulai ketika dia masih bisa menyanyikan setengah lagu hingga sekarang tuntas satu lagu penuh.
"Bunda, hari ini Fawwaz nyanyi Ibu Kita Kartini 20X lebih" itu komentar dari Ummi kepala sekolah fawwaz. Hahahaha........
Terlalu, tapi buat saya, ini surprise besar.
Gimana enggak, setelah hampir putus asa mengajaknya bernyanyi dan belajar menghafalkan lagu sejak dia masih di dalam perut, akhirnya dia bisa. Dan kalau bernyanyi bersama ibu, dia akan senyum2 ditengah jalan, lalu diam dan memilih mendengarkan suara ibu. Oh......padahal ibu sangat ingin mendengarnya bernyanyi. jadi dengan ke-bisa-an barunya ini, sungguh bikin ibu bahagia. hehehe.............



Second thing yang bikin hepi adalah koleksi doa-nya bertambah.
Yang tadinya baru bisa doa mau tidur aja, sekarang bertambah doa mau makan plus artinya.
Dan doa ini sudah bisa dihafalnya setelah kurang lebih 3 minggu di sekolah baru. Sekarang Tuan kecil ini sedang sibuk mempersiapkan acara kenaikan kelasnya, itupun ibu tau karena bocoran dari Ummi Kepala Sekolah.
Perubahan yang lainnya adalah sikap yang mandiri, hehe..tapi tetep belum bisa mandi sendiri.
Ada satu yang cukup bikin ibu keheranan, Fawwaz sangat rajin sekolah, bahkan pilek-pilek pun tak menghalangi niatnya untuk pergi ke sekolah.
Usut punya usut, kelihatannya si Tuan kecil sudah menemukan dunianya yang tak kalah asik di sekolah. Sifat yang sekarang jauh lebih mandiri ternyata menyokong superioritasnya di sekolah.
wah-wah.........bayangkan saja, tanpa segan si Tuan kecil bisa memberi "perintah sederhana" pada temannya yang sebagian besar sudah jauh lebih besar. Olala.....
Ibu cuma bisa geleng kepala.

Dan kelihatannya si Tuan kecil juga sudah merasa seperti dirumah saat dia sekolah, bukannya apa, si Tuan kecil ini tetap membawa kebiasaaan-kebiasaan di rumah yang biasanya dilakukan bersama ibu, salah satunya adalah sesi curhat sebelum tidur. Memang sih.....sedari kecil saya membiasakan untuk bercerita dengan Tuan kecil sebelum tidur. Entah itu sekedar membacakan satu buah dongeng, atau bertanya tentang kegiatan menariknya hari ini. tapi khusus untuk dongeng saya mulai selektif memilih dongeng yang reasonable. Bukannya apa, si Tuan kecil bisa langsung protes memotong cerita kalau menurut dia dongengnya agak aneh dan tidak masuk akal versi dia, lalu kemudian melanjutkan cerita dengan ending yang diinginkannya.
Nah, ternyata dia tetap melakukan kebiasaan itu dengan Ummi kepala Sekolah, hingga tak ayal lagi Ummi bercerita bahwa Fawwaz selalu punya cerita sebelum tidur.
Ahahaha....lagi-lagi ibu cuma bisa tersenyum simpul....

Ah Tuan Kecil.......kau sudah mulai tumbuh besar.....

Tuesday, May 4, 2010

When You Take My Hand

11:43:00 PM 0 Comments
"Kok ngga gandeng tangan lagi???"
Entah berapa kali ya....kemarin ditanya seperti itu. Kebetulan saya dan hubby memang bekerja di Instansi yang sama hanya saja, bidang keahlian kami beda.
Tapi, meskipun setiap hari berada di satu kawasan, bukannya lantas menjadikan kami bisa sering 'bertemu' dengan sengaja atau tidak setiap harinya.... ohoho..... ;p
Tapi memang saya akui, saya 'suka' menggandeng tangan hubby atau sekedar menggamit lengannya saat kami jalan berdua. Dan saya rasa hubby pun begitu (ups, saya belum konfirmasi untuk hal ini. Lain kali saya akan bertanya apakah dia memang hobi juga atau sekedar terbawa kebiasaan saya ;p), buat kami sih, tidak ada yang aneh dengan itu. Tak ter-kecuali jika kami sedang jalan bertiga, maka rantai-tangan yang kami buat akan semakin panjang dengan telapak mungil Fawwaz kami.
Lucu-nya saya tak menyangka kebiasaan ini rupanya menarik perhatian teman-teman saya yang notabene adalah teman-teman hubby juga (ya iyalah, kami kan seangkatan, cpns bareng, bahkan sempat sekelas saat prajab -yang baru saya sadari sebulan setelah kami menikah- bahkan diklat fungsionalpun bareng-bareng). Hehehe.....
Hingga akhirnya, muncul kalimat tanya diatas dari teman-teman kami.
Oh ya? mungkin keliahatannya aneh ya....hare gene masih gandeng tangan? hahahaha.......kayak pacaran ajah........nah mungkin itu juga sebabnya, soalnya sih kalau dihitung dengan cermat kurang lebih 8 bulan sejak pertama kali saya tahu nama hubby dan dia 'memaksa' saya main tenis di Kebun raya Bogor, dia resmi jadi suami.
Eniwei........saya senyum-senyum saja sih, pertanyaan seperti itu harus dijawab gimana ya....
hahaha.....Mungkin saya memang terlalu sering menggandeng tangan suami saya. Jadi menarik perhatian teman-teman saya. Dan karena kemarin memang ada acara kantor dan kami sempat ngobrol tak tentu arah jadi teman-teman ingat dan mencetus-kan hal itu pada saya, setelah sekian lama ada dipikiran mereka. ;p
Tak tahulah saya....
lagi pula, saya ngga keberatan kok....
mungkin memang kelihatan aneh.....tapi saya suka...
hehe....

Thursday, April 29, 2010

When He Goes to School

10:13:00 PM 0 Comments
Mengantar si kecil ke sekolah ternyata tak semudah yang diduga, buktinya sempat diwarnai air mata.
Tapi Syukurlah, Fawwaz tak butuh waktu terlalu lama untuk menikmati playgroup plus daycare-nya.
Kalau beberapa minggu yang lalu melepas ibu kekantor dengan wajah menahan tangis, sekarang santai dan ceria tanpa beban bilang ' dah ayah....dah ibu..'
Sedetik kemudian sudah berbaur dengan teman-teman.
Alhamdulillah....
that's my boy!

Kenapa gaya-nya selalu begini ya...sekarang kalo di foto?
(ngga habis pikir)
Demi melihat senyum seperti ini saat mau berangkat sekolah, ibu rela bangun pagi buta setiap pagi.
dan lelah itu lenyap setelah diobati cium pipi dari Fawwaz.




Sekolah seperti jam kerja ibu. Berangkat jam 8 pagi, pulang jam 16.15.
Selamat dan sehat ya .....
jadila anak sholeh dan pintar!!

YOUR EYES

8:39:00 PM 0 Comments

I love your eyes, those twinkling eyes,
They speak of a thousand things.

It glows and I drown in its intensity,
I would love to stay there forever.

It evokes myriad memories,
And leaves an imprint on me.

I consider myself lucky enough,
To have experienced its warmth.

When cupid's arrow strikes,
The world seems apparelled in celestial light,
Like the glory and freshness of your eyes.

Just like the morning dew,
Exotic and beautiful.

Every time I look into your eyes,
I'm lost in innumerable memories,
Thus forgetting the world behind me.

I wouldn't expect anything much,
Than just being the Apple of your eye!

Author: adieus50@hotmail.com

Tuesday, January 12, 2010

Sebelum 1000-kali

9:41:00 PM 0 Comments
Wah.......Senangnya saya, bagaimana tidak? kejadian 'mendapat hadiah ' ini bisa memotivasi semangat saya lagi untuk bisa belajar menulis. Ceritanya nih, saya sedang belajar menulis. Sebenarnya menulis bukan hal yang baru bagi saya. Sejak di bangku sekolah, terutama saat kuliah, saya banyak berkutat dengan bidang tulis-menulis. Tapi dulu tulisan yang saya buat berkisar tentang karya tulis yang sifatnya sangat ilmiah. Mulai sekedar membuat karya tulis ilmiah yang sifatnya hanya studi literatur hingga semacam proposal yang berujung pada perolehan dana hibah yang sangat lumayan jumlahnya untuk tugas akhir saya. Hm...saat itu sih semuanya rasanya mengalir lancar saja, seingat saya waktu itu saya sama sekali tak mengalami kesulitan untuk menuangkan pikiran dan ide saya ke dalam bentuk tulisan. Proposal saya tak terhalangi tuk jadi pemenang, dan dampaknya.....selain pada dana untuk mensupport penelitian, saya selalu merasa senang ketika melihat pembimbing-pembimbing saya mengangguk puas setiap kali saya selesai mempresentasikan karya saya. Beberapa kali beruntung dalam pertandingan ilmiah, sesekali juga saya diminta untuk berbagi tentang tips dan trik tentang karya ilmiah. Wah......serasa jadi trainer kecil-kecilan di kampus. Apapun itu, semua menyenangkan.

Keraguan saya tentang tulisan saya mulai muncul di tahun-tahun awal saya bekerja, tepatnya ketika saya sedang hamil putra pertama saya. Karena satu dan banyak hal lain, saya 'libur' dari kegiatan harian di laboratorium dan mendadak punya waktu senggang yang sangat banyak. Nah, mulailah saya berkelana di dunia maya setiap hari. Bersilaturahmi dengan paman Google setiap waktu. Hingga akhirnya, saya tertarik untuk ikut lomba tulis-menulis. Kalau saya tak salah, lomba menulis yang pertama kali saya ikuti adalah menulis semacam esai dan saya gagal. Okelah...tak masalah..pikir saya, toh saya masih punya banyak list lomba menulis yang lain, yang bisa saya ikuti untuk mengisi hari-hari kosong dan memanaskan sel otak saya.
Entah sudah berapa macam lomba menulis yang saya ikuti, dan saya selalu gagal. Pernah terpikir bahwa saya memang tak bisa menulis selain tulisan ilmiah, tapi rupanya, saya bukan satu-satunya orang yang sering kali gagal. Dari internet juga saya mengetahui banyak orang yang sukses menjadi penulis setelah ribuan kali tulisan mereka ditolak. Huff.....berita yang sekali lagi menyelamatkan semangat saya. Dari hari ke hari tak bosan saya menulis, meskipun belum ada bukti konkrit dari hasil belajar saya. Atas saran suami tercinta saya, saya mulai juga rajin mengunjungi blog atau website yang banyak mengulas tema tentang menulis. Tapi apa mau dikata, hingga si kecil saya lahir, belum satupun tulisan saya dimuat atau menjuarai lomba.Tapi rupanya kebiasaan jalan-jalan di dunia maya ini sudah melekat. Ketika si kecil lahir, pencarian saya berubah, tidak hanya tentang penulisan, tapi juga tentang tumbuh kembang si kecil. Wah rasanya takjub melihat banyaknya informasi yang bisa kita baca dan temukan. Mulai tahapan perkembangan anak, tahapan imunisasi hingga resep-resep kesukaan balita. Saya banyak terbantu dengan berbagai informasi ini, karena sebagai ibu baru dan jauh dari ibu mertua dan ibu kandung, seringkali saya mengalami kesulitan dengan bayi mungil saya. Tak bisa dipungkiri, tumbuh kembang jagoan kecil saya pun hasil 'belajar' saya dari dunia maya. Syukur alhamdulillah, sekarang si kecil sudah mulai belajar membaca diusianya yang baru 2,5 tahun, sehat dan cerdas. Hmm........terima kasih banyak untuk sesama ibu yang mau banyak berbagi di dunia maya.


Kegiatan membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi hingga akhirnya koleksi tulisan saya-pun menumpuk. Akhirnya saya merengek pada suami untuk memandu saya ber-blogging-ria. Saya sangat bernafsu ingin punya blog yang bisa saya kelola sendiri. Isinya pun dikonsep blog dengan tema beragam, seperti one stop shopping. Suamipun meluluskan permintaan saya. Akhirnya terwujudlah blog pertama saya (yang ternyata rasa dan isinya seperti gado-gado *malu mode on*), www.srikartika.co.cc. Rupanya kebiasaan saya selalu eksis di dunia maya ini menggerakkan hati suami saya untuk mulai mengarahkan tulisan-tulisan saya agar lebih profit. Perlahan tapi pasti saya mulai dipandu untuk melihat peluang berbisnis di internet. Suami saya adalah pemain lama di bisnis dunia maya, sedangkan saya adalah pemain baru. Bertahap, beliau mulai memberikan arahan, kami pun mulai berbagi tugas. Menantang kebolehan saya menulis sesuatu yang berbau ilmiah, suami menyarankan untuk menulis semua yang saya ketahui tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan-tulisan pendek semacam kamus (www.biomedict.co.cc). Sedangkan suami, bertugas untuk mengelola promosi iklan, transfer, profit dan lain sebagainya. Alhamdullillah, tulisan-tulisan yang saya buat di waktu senggang mulai menuai dolar, dan seratus dolar pertama saya dipersembahkan untuk memenuhi panggilan Qurban di Hari Raya Idul Adha. Bahagia tentunya. Dan puncaknya adalah saat saya mendapat hadiah buku. Sungguh saya yang mulai (lagi) meragukan kemampuan saya menulis yang berbau non-ilmiah, tiba-tiba ingin berkarya lagi. Kejadiannya ketika malam hari sebelum tidur, tiba-tiba pas pos dengan kelelahan meneriakkan nama saya dari pintu. Ooopss....ada apa ya? ternyata saya mendapat 'sepaket' buku. Masih dalam keadaan mengantuk saya belum bisa berpikir jernih dari mana datangnya buku itu.

Keesokan paginya setelah berpikir lama, saya baru ingat beberapa hari yang lalu saya berniat mengirimkan tulisan tentang mimpi dan cita-cita saya ke salah satu tabloid yang
berhadiah buku. Tapi beberapa saat setelah e-mail terkirim, saya menerima notifikasi 'mailer-daemon' alias pengiriman gagal. Saya pun pasrah dan melupakan kejadian itu. Saya mulai melupakan menulis dan mulai eksis di forum diskusi, http://www.kaskus.us/come_inside.php (Ow ....iya....saya ingin menambahkan, forum diskusi ini isinya lumayan lengkap, hampir mirip seperti kantong doraemon dimana semua ada di situ. Mulai dari forum jual beli sampai forum belajar TOEFL). Tapi beberapa minggu kemudian, keberadaan sepaket buku itu memaksa saya kembali untuk mengingat-ingat dari mana datangnya, dan kecurigaan saya berujung pada tulisan saya itu. Dan....jreng...jreng....ternyata saya memang memperoleh juara harapan. Waaaah.....senangnya. Senyum saya pun terkembang. Harapan saya terbit lagi. Ehm...bahagianya. Padahal mungkin sebagian orang akan berkata: "ah cuma juara harapan, hadiahnya cuma buku lagi, bukan duit". Anyway, terserah deh, yang jelas, saya sangat senang, uhuy......

Jelas sekarang saya ingin berterima kasih, buat teman-teman di dunia maya. Special thanks buat teman-teman di milis menulis saya, sekolah kehidupan dan wordsmartcenter. Saya mengagumi karya teman-teman di milis ini, yang banyak memberikan pencerahan dalam kehidupan saya sebagai seorang ibu, istri, anak, menantu , pekerja kantoran ataupun pebisnis amatiran. Meskipun.....mungkin saya anggota paling pasif yang pernah ada. Tapi boleh dibilang sayalah penggemar sejati milis ini. Tak lupa juga untuk teman-teman di kaskus yang bersedia share apa saja. Juga buat google yang selalu bisa menjawab pertanyaan saya tentang jurnal ilmiah terbaru, informasi lomba terbaru, resep masakan untuk keluarga, hingga informasi tumbuh kembang balita. Atau pertanyaan saya yang aneh-aneh dan ngga penting, misalnya tentang Drakula.
Anyway, sekali lagi, hidup memang untuk belajar.
Dan saya akan tetap menulis, tentang apa saja.
Sebelum 1000 kali saya mencoba hingga akhirnya tulisan saya diakui , atau bahkan lebih dari 1000 kali.
Doakan saya ya!
Salam dan pesan untuk para ibu diseluruh dunia, internet seperti jendela ilmu lho...:))))


Thursday, January 7, 2010

liburannnnn akhir tahun

9:48:00 PM 0 Comments

Liburan akhir tahun kemaren fawwaz jalan-jalan kerumah bulek di bekasi trus menginap di rumah pakdhe di kleder....wah ngga nyambung yah..tapi begitulah dalam sehari menjelajahi tiga tempat yang lumayan berjauhan, BOGOR- BEKASI- KLENDER
Dengan semangat 45 yang ngga padam sampe malam hari, akhirnya malemnya boboknya kurang enak, menggigau terus.....hehehe........
Foto ini dambil sesaat sebelum foto Fawwaz ala fotomodel hihihi...









ini dia foto ala juragan besi tua ...(kata budhenya...hihi)
maklum, dia salah satu produk blasteran dari keluarga ayah......
blasteran dalam negri kok.....jawa-madura
lumayan deh.....