Follow Us @soratemplates

Thursday, March 8, 2012

Patah Tulang (2)

"Rontgen ya bu"
Duuuuh hati saya langsung merinding pas dokter orthopedinya bilang begitu, tadinya mau protes, tapi ngga jadi, akal sehat saya setuju sama keputusan dokter kalau sesuatu pasti ada yang ngga beres, meski hati saya kok ngga tega dan ngga siap kalau hasilnya memang prediksi terburuk saya.
"Oke dokter".
singkat aja, dan saya setuju.
Proses rontgennya sendiri syukur Alhamdulillah ngga pake lama, entah kenapa Allah seperti memudahkan semua urusan saya hari itu di rumah sakit. Hasil rontgen yang mustinya baru bisa diambil esok harinya, hari itu juga bisa langsung diambil. Untuk satu ini aja saya bersyukur banget, karena besok harinya adalah jadwal saya untuk wawancara ADS, dan kalau saya harus pending untuk tau hasil rontgennya, hampir pasti saya ngga akan tenang.

Dan benar aja, begitu dapet hasil rontgen, saya duduk bentar di pintu keluar bagian radiologi, tarik nafas dalam-dalam sambil melihat Fawwaz main mobil-mobilan dengan anteng. Tarik kertasnya, angkat ke atas, dan sekali lihat, saya langsung tahu tulang belikat fawwaz bergeser, jauh dari tempat yang semestinya.
Refleks air mata saya jatuh, tapi berharap semoga saya salah lihat, dan berusaha meyakinkan diri kalau saya mungkin salah mengartikan hasil rontgen bahu kanan Fawwaz.

Tenyata dokter pun bilang hal yang sama, patah bu, bagian yang ini, dan blablabla.....saya udah ngga inget lagi, yang ada di pikiran saya cuman, penyembuhannya gimana? pas saya nanya bagian ini ke dokter, dia kelihatan agak ragu-ragu, tidak menyarankan pen, karena berbagai alasan medis yang menurut saya logis, dan solusinya dikasih penyangga lengan, ngga banyak gerak dan kontrol lagi 2 atau 3 minggu kemudian. Ouwh....tidak...., pas saya tanya kemungkinan terburuknya apa, dokter bilang bahunya jelas tidak akan kembali sama rata. :((
Duuuuh kalo bisa pingsan saya pengen pingsan, tapi kalo saya pingsan, fawwaz gimana, saya kan ke rumah sakit cuman berdua aja? Jadilah saya berusaha kuat, ngga nangis ditempat dan cepat-cepat pulang.
Di perjalanan pulang, saya ngabari suami, saya ceritain detail, dan kami langsung sepakat untuk ngga lagi nyekolahin Fawwaz di tempat yang sama, karena dalam beberapa hal boleh dibilang sangat kecewa.Okelah, kejadian itu bisa terjadi dimana saja, saya masih bisa realistis kalau kali ini kebetulan aja terjadi di sekolah, tapi yang benar-benar bikin saya ngga habis pikir, saya benar-benar ngga dikabari pas kejadiannya, guru dan kepala sekolah lebih memilih kasih kabar kepada orang tua si anak yang nendang daripada ngabarin saya.
Waktu saya utarakan ini, kepada kepala sekolah, alasannya dia sudah berusaha memberi saya kabar via sms, tapi kehabisan pulsa, jadiyang terkirim hanya satu ke pada orang tua anak penendang itu. WHat??? serius? setahu saya ada lebih dari 2 pengasuh dan tak satupun ada yang bisa ngabari saya tentang kejadian ini? mereka semua kehabisan pulsa? , aneh, dan kalau dibilang ngga tau nomor hape saya, kenapa beberapa kali mereka bisa sms, "bunda maaf, bedak , dan sabun habis, besok dibawakan ya bun? terimakasih"
Jelas dong saya ngga percaya, emangnya saya bodoh ya....
dan kedua, jelas saya sangat kesal dengan pertolongan pertamanya. Anak saya dibawa ke tukang urut bayi. Jelas ini sangat menyalahi aturan.
Menurut prediksi saya, ketika Fawwaz ditendang, belikatnya memang patah, tapi DIURUT ini yang bikin belikatnya bergeser jauh. Saya kesal setengah mati kalo inget yang satu ini, andaikan waktu itu saya dikabari, pijat urut ngga jelas ini bisa saya cegah dan Fawwaz pastinya terhindar dari trauma.
KAlo boleh saya curcol, anak saya trauma. Sempat dia ngga mau disentuh sama sekali.
Tapi ya sudah lah, saya ngga mau memperpanjang masalah, saya memilih berdamai. Di pikiran saya sih, kalau dengan memperpanjang pertikaian anak saya bisa sembuh saat itu juga, pasti mereka semua saya tuntut.
Tapi ngga ada gunanya.
Pas saya ngasih masukan dengan baik-baik kepada pihak sekolah supaya lebih "belajar" lagi tentang pertolongan pertama, mereka bilang "kami sudah punya bukunya"
Oh ya? kalo gitu BACA dong, disitu pasti ada cara memberikan pertolongan pertama untuk kasus begini dan jelas bukan urut bayi lah. -_-!
tapi tentu saja, dipermukaan, saya cuman senyum dan berkata dalam hati, owww defensif sekali, pertanda memang merasa bersalah dan ketakutan.
YA Sudahlah. Yang penting saya sudah memberi masukan yang menurut saya penting, saya ngga pengen kejadian ini berulang pada anak lain. Tapi responnya seperti itu. makanya segera saya sudahi aja.
Yang penting, kedatangan saya hari itu saya sudah menyampaikan uneg-uneg saya, kekecewaan saya, masukan dan terima kasih karena anak saya sudah mengenyam pendidikan disana hampir 2thn-an.
Dan pastinya saya tidak akan melupakan itu.
hal itu juga yang merupakan pertimbangan besar saya untuk memilih berdamai dengan sekolah, dan tentang pihak yang melukai anak saya, saya pun memilih untuk mendiamkan saja, karena kalaupun saya mengutarakan keberatan saya, saya sama sekali ngga yakin bisa mendapatkan tanggapan seperti yang saya inginkan.
Jadi diam dan berusaha memaafkan dan lupakan mereka.


No comments: