Follow Us @soratemplates

Friday, March 2, 2012

Patah Tulang

Cerita ini awalnya di sore hari, tepatnya tanggal 17 Januari 2012.
Bismillah, semoga saya bisa menuliskan cerita ini dengan emosi yang bisa dikendalikan, karena ini adalah satu peristiwa yang pastinya ngga akan bisa saya lupakan seumur hidup saya, suami dan anak saya-Fawwaz.

Waktu itu saya sengaja pulang cepat dari kantor, karena ayah besok harus hadir di wawancara beasiswa ADS dan saya harus menyiapkan printil-printil untuk wawancara ayah esok harinya. Ngga lama kemudian pintu saya diketok tetangga saya dan dapat kabar kalau Fawwaz jatuh karena ditendang, dan catat: tidak ada satu kalipun maaf dari si tetangga depan rumah ini, yang notabene adalah ayah dari anak yang bikin fawwaz patah tulang. Waktu itu saya cuma bisa istighfar banyak-banyak, plus nahan jengkel luar biasa kalo inget ekspresi orang itu (baca: si tetangga) yang masuk kategori menjengkelkan, menujukkan raut puas, karena merasa sudah bertanggung jawab dengan bawa fawwaz ke rumah sakit TANPA sepengetahuan saya.

Waktu itu juga saya langsung protes, 'kenapa saya ngga dikasih tau? fawwaz kan anak saya?'
jawabnya: blablablablabla.....(tepatnya saya lupa, soalnya menurut saya jawaban itu sama sekali ngga masuk akal).
Saya langsung siap-siap mau jemput anak saya dari TKP( salah satu sekolah plus daycare di cibinong ), eh ternyata ayah datang sama Fawwaz yang keliahatan kesakitan dan pucat, dan jelas sekali bahu lengannya ngga sama datar alias turun sebelah.
Refleks saya nangis, ngga tega lihat anak saya yang tadi pagi masih sehat ceria bahkan semangat ke sekolah, dalam waktu beberapa jam sudah berubah drastis. Malam itu, dia tidur dengan raut wajah nahan sakit, dan tentu saja, saya nagis sepanjang malam.

ESok harinya, saya ngga masuk kantor, dan Fawwaz bangun dengan nangis kesakitan, tapi karena saya blm melihat bagian bahu yang ditendang, saya peluk dia, meyakinkan kalau dia akan sembuh, dan kalau dia anak yang kuat (ini pun sambil menangis diam2, yang saya tau, dia akan makin sedih kalau saya nangis). Baru di siang hari, saat dia sudah bisa dirayu untuk lepas baju, barulah saya sadar kemungkinan terburuknya, yaitu ada fraktur tulang. ooooooooowwww, tidaaaaak, tadinya saya mikir keseleo aja, tapi begitu lihat ada bagian belikat bahu yang melesak ke dalam, saya langsung panik, mau ke dokter sudah siang hari, dan saya masih belum tau mau dibawa kemana, yang jelas saya akan ke orthopedi, tapi rumah sakit mana saya belum tau. Cuman yang bikin agak tenang, dia ngga sudah ngga terlalu kesakitan.
Besok paginya, saya ketemu dokter dan sekali sentuh si dokter langsung bilang,
"rontgen ya bu,"



No comments: