Follow Us @soratemplates

Saturday, April 28, 2012

Resensi Novel: Vanishing Acts (Jodi Picoult)

7:50:00 AM 0 Comments
NOvel
Judul                    : Vanishing Acts
Pengarang           : Jodi Picoult
Genre                   : Drama
Penerbit               : Gramedia Pustaka
Jumlah halaman  : 528 halaman
Harga                  : Rp 55.000 (tapi gara-gara diskon , saya beli cuman 15ribu)
(kategori 4 bintang ahhh)****


Novel ini ditulis dengan alur flash back oleh si pengarang. Walau begitu cukup mudah untuk menarik benang merah dari potongan-potongan kisah masa lalu itu karena si pengarang cukup lihai untuk menulis ulang kejadian yang sama dari berbagai sudut pandang dan pemikiran tiap-tiap tokoh tanpa kita perlu merasa bosan untuk membaca novel drama ini.

Kisahnya diawali oleh sosok perempuan yang kelihatannya punya kehidupan yang nyaris sempurna, yaitu Delia. Punya seorang putri cantik dan ayah yang sangat penyayang, teman-teman dan pekerjaan yang sempurna untuk hidupnya. Dan dengan tiba-tiba kehidupan indahnya harus berbalik seratus delapan puluh derajat hanya karena sepotong ingatan masa lalunya yang ternyata membuka rahasia besar tentang dirinya sendiri. Cuman karena dia bermimpi tentang pohon limau yang ditanam di belakang rumahnya yang lalu berbuntut pada penangkapan ayah kandung Delia atas kasus penculikan seorang gadis kecil 28 tahun silam.

Cerita asmara Delia sendiri pun akhirnya terkena imbas. Yang semula cukup mantap untuk menikah dengan seorang teman masa kecil yang juga adalah ayah dari putri tunggal Delia, hingga akhirnya semua impian indah tentang keluarga mungil  yang hangat dan bahagia hanya jadi impian semata. Hehehhe, disinilah rumitnya cerita ini, bagaimana ajaibnya sepotong mimpi yang akhirnya merubah hidup manusia-manusia yang terlibat di dalamnya.

Justru bagian yang paling menarik buat saya sih bukan sesi romantis dari novel ini. Yang kayaknya sudah banyak bertebaran di toko-toko buku novel-novel romatis yang bisa lebih menyentuh dari pada novel ini, dan si pengarang sepertinya sadar betul tentang hal itu. Tapi justru itulah, Si mbak Jodi Picoult (sok dekat heeheh) ini banyak mengungkap fakta, dan entah kenapa menurut saya aroma 'berpikir rasional' sangat kental di setiap bagian novel. Mulai dari pekerjaan masing-masing karakter, cara tiap tokoh berperan, bahkan saat menuliskan bagian-bagian yang menyangkut perasaan pun sangat rasional. Kita bisa nemuin tentang rumus kimia, istilah medis, kehidupan penjara, kenal sedikit istilah dalam sistem peradilan, sampai detail hidup etnis gypsi.
Saya sih suka aja.....jadi kalau berharap menemukan kisah tentang gadis yang terobsesi cinta sampai melakukan tindakan-tindakan yang enggak banget misal kayak mengemis cinta atau berharap menemukan kata-kata puitis penuh roman untuk yang terkasih, sebaiknya anda nggak beli buku ini. Soalnya pasti kecewa.
hehehehhe.

So far saya puas baca buku ini,
Ada beberapa hal yang saya setujui dari novel ini, misalnya seperti kalimat yang saya kutip ini:
" sering orang mengira bahwa anak-anak adalah milik para orang tua. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, anak-anaklah yang memiliki orang tua mereka"
hehehhehe,
betul dan 'dalem' banget. :D

Wednesday, April 18, 2012

Yang paling nggak efektif

10:39:00 PM 0 Comments

Dua-tiga minggu ini kayaknya adalah hari-hari paling nggak efektif seumur hidup saya, peribahasanya macam : Hidup segan, mati pun tak mau.
Bukan saya bosen hidup siih, tapi merasakan bosan yang amat sangat dikantor. Apalah itu namanya ya...mau kerja serba nanggung. Akibatnya rasa bosen tingkat kelurahan ini kebawa-bawa sampe kerumah.
Di rumah saya tetep sih lebih rajin ketimbang dikantor siih, secara nggak ada ART, semua dikerjain sendiri. Tapi, kalo dibanding dulu, saya bisa dibilang males.





(Ps: gambarnya diambil dari gugel, jadi geli, inilah ibu-ibu yang kudu tetep ngantor dan mbak-nya si kecil nggak masuk kerja *pengalaman pribadi*, berapa banyak perempuan yang seperti ini ya???)

Kalo inget-inget hidup dan kegiatan saya pas di rumah imut-imut saya lengkap 3 orang, Ajib bener saya waktu itu ya?
BAyangkan, saya kerja full time (memang sering dateng telat siih, kekekkekek, kalo saya dateng pagi itu artinya pasti ada acara atau sesi yang penting dikantor), saya nggak punya ART, selesai sekolah fawwaz langsung dititipin di daycare dan dijemput jam 4-5 sore, jadi praktis semua pekerjaan rumah tangga yang nggak pernah selesai itu saya handle sendiri, belum lagi urusan Online shop saya, mulai dari reply inbox, foto2 produk, upload, edit, sampe packing semua ditangani sendiri, saya juga hampir selalu masak buat suami dan si ganteng anak saya.

Laaah sekarang,
saya cuma berdua sama suami, anak sama utinya dikampung, kerjaan kantor lagi longgar, online shop juga lagi vakum untuk sementara waktu, tapi justru saya lebih males ketimbang yang dulu-dulu.
Menyedihkan ya? hehehehheheh *malu*

Moral of the story: males itu bukan perkara anda punya kerjaan atau nggak, tapi memang anda MAU ngerjain atau enggak.

Dan ternyata keberadaan seorang anak, biarpun bikin ibu-ibu jadi rempong, kenyataannya bisa jadi semacam sumber energi buat si ibu supaya bisa bertahan di tengah 'badai', entah itu badai pekerjaan, finansial dan 'badai-badai' yang lainnya, termasuk bertahan di rumah yang berantakan hehehhehehe.
Lihatlah saya sekarang, dikantor bosen, dirumah bengong, atau nonton tivi doang, beberes cepet capek, nggak produktif deeeh, imbasnya adalah merosotnya transaksi di buku tabungan saya hehhheehehhe, padahal ini adalah waktu yang tepat buat memulai lagi yang namanya strategi bisnislah, belajarlah, bikin paperlah, atau bikin cerpenlah atau apalah lagi yang lain yang bikin hidup saya nggak kayak pengangguran terselubung macem gini.
Akhirnya saya membuat 3 minggu saya dengan hasil yang kurang maksimal.

Pembelaan; Saya masih dalam masa transisi jadi perlu lebih banyak waktu untuk recovery hati dan perasaan saya.
Okeh, diterima, tapi semoga saya bisa lekas normal lagi dalam waktu yang nggak terlalu lama. (Amiiiiiin). Supaya saya bisa se-produktif atau bahkan lebih baik dari yang kemarin-kemarin, Anggap saja ini rapelan me-time time saya dari tahun-tahun belakangan dimana saya sering merasa saking sibuknya sampe nggak sempat ngurus diri saya sendiri. :D

Yuk mari kumpulkan semangat
Cemungudh eeeaaaaaa
*4l4y*

Monday, April 9, 2012

Lesson, part 1*Psychological Abuse*

11:56:00 PM 0 Comments

Sepulang ayah melepas kangen sama si ganteng kemarin.
Pertanyaan pertama saya buat ayah adalah " Ayaah, gimana Fawwaz? Sehat?Senang?"
Seperti biasa, si ayah mengangguk lalu mulai cerita lumayan detail kejadian-kejadian selama nengokin si ganteng di Jember.
Sampai akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa si ganteng betah di kampung sama Utinya .
Alhamdulillah......
Tapi lalu ada tambahan "Perasaan ayah campur aduk"
Pastinya. Melihat putra tersayang betah sama eyang putrinya sudah membuat saya dan suami bersyukur, dalam artian dia menikmati hidup barunya di kampung, dan bahagia. Tapi yang jelas itu bukan hal yang mudah untuk orang tuanya, jauh dari anak dengan terpaksa bisa sangat menyiksa ya ternyata.

Akhir-akhir ini saking banyaknya waktu untuk ngobrol berdua, saya banyak membicarakan tentang anak-anak dan pola asuh.
Mau nggak mau, saya dan suami harus kembali melihat ke belakang, mereview ulang, dan harus bisa menarik benang merah tentang pola asuh. Satu yang menjadi catatan saya.
Setelah masa transisi dari Bogor ke Jember, saya bisa melihat Fawwaz menemukan dirinya lagi. Dia kelihatan lebih happy, pede, dan lebih bersahabat.
Padahal pola yang saya terapkan masih sama, nggak ada yang dirubah. Pada prinsipnya setiap kebaikan atau kesalahan yang diperbuat pasti akan ada imbalan reward atau punishment. Itu saja, selain saya juga menanamkan tentang prinsip bersikap baik, menghargai orang lain, dan bersabar. Semua langsung praktek dalam hidup sehari-hari seperti disiplin tidur siang, makan dengan baik, berkata sopan sampai menghargai orang lain dengan sabar mengantri giliran pas belanja di tukang sayur.
Tapi kok, pas di Cibinong (Bogor) saya agak kesulitan ya? Semua harus berulang-ulang saya ingatkan, waktu itu sih saya pikir karena dia masih kecil jadi belum terekam baik apa yang saya ajarkan, tapi masa iya semua bisa berubah dalam hitungan hari?
Peraturan kan masih sama, cuman beda tempat. Dulu di Cibinong, sekarang di Jember.

Saya baru dapat titik terang perbedaannya pas lagi ngobrol nggak juntrung sama Fawwaz, dari mulai membahas masalah guru baru nya yang dikeluhkan Fawwaz cuman gara-gara selalu salah nulis namanya:
FAWWAZ -------------> VAWAS (versi parah)
FAWAS (nggak terlalu parah)
FAWWAS (kesalahan paling normal)
sampai kepala sekolah harus melongok Akte kelahirannya dan mensosialisasikan cara menulis "fawwaz" yang baik dan benar.
Sampai akhirnya sampai pada obrolan tentang bahwa untuk sementara waktu Fawwaz akan berada di Jember sama Uti, untuk sementara jauh dari ayah dan ibu sebelum nantinya akan merantau ke negeri seberang bersama-sama. Supaya nggak terlalu sedih, saya mengatakan:
"kita beli mobil yaa....." (tentu aja setelah ayah dan ibunya punya SIM untuk mobil, kalo beli sekarang sapa yang mo nyetir??)
Ujuk-ujuk Fawwaz bilang:
"siapa yang pengen mobil? aku cuman pengen maen salju sama ayah ibu.....yang selalu sombong-sombongin mobil itu kan si XXX" plus muka cemberutnya yang bikin makin gemes :D
Kaget dong saya, seinget saya, pas di bogor, si ganteng selalu bilang kalo dia pengen punya mobil kayak punya si XXX. Nah, mengertilah saya sekarang, kalo hampir semua sikap tidak kooperatifnya adalah karena hasutan, atau doktrin atau apalah namanya yang bikin Fawwaz jadi aneh dan rewel.
Pantes aja, dulu, kalau dia mulai bertingkah dan saya ingatkan:
"mas Fawwaz, jangan begitu dooooong, kan nggak baik....."
dia akan selalu me-reply:
"Tapi kok si XXX boleh begitu? trus, mamanya diem aja?"
Kok saya dari dulu nggak 'ngeh' ya.....begitu besarnya pengaruh teman untuk psikologis anak. Dulu saya super duper yakin dan pede dengan pola asuh saya, maksudnya, separah apapun lingkungan luar mendera, tapi dengan kasih sayang dan perhatian yang cukup, anak-anak kita tetap akan selamat dari "paparan buruk".
Tapiiiiii, ternyata, lingkungan tetap punya pengaruh besar, dan saya lupa kalau si ganteng masih belum cukup umur untuk mengkonter pengaruh buruk lingkungannya.
Gambaran lengkapnya: anak usia 4-5 tahun adalah masa-masa mereka akan punya banyak teman-teman baru. Disatu sisi, sebagai ibu, saya maunya anak saya juga mulai belajar tentang bagaimana cara memelihara pertemanan yang baik. Harapannya dia akan pede (kayak ibunya ^_^), punya empati yang baik, dan bisa menempatkan diri. Sebenernya sih saya sudah mulai memberi apa ya namanya....semacam "wacana" buat si ganteng gimana caranya berosialisasi termasuk di dalamnya bagaimana 'memilih' teman. Mungkin terkesan pilih-pilih, tapi itu juga saya berlakukan setelah mengamati beberapa temannya dan berkesimpulan kalau beberapa dari mereka masuk kategori keterlaluan.
Keterlaluan dalam hal sangat agresif hingga punya kecenderungan memukul, dan juga berkata-kata yang enggak banget didengar kuping.
Tapi rupanya salah satu dari anak 'black list' ini bisa-bisanya jadi kayak idola buat anak saya. (-_-")
Alasannya, semua keinginan si anak ini selalu di amini sama ortunya, kelihatan dengan gampang di hidup sehari-harinya, mengolok-olok orang dibiarin, mukul anak orang dibiarin, jajan mainan saban hari okeh, sampai ngelempar batu ke temennya pun ortunya diem aja, padahal jelas-jelas kejadiannya di depan mata mereka, owww, hampir selalu dapet semua yg dia mau ini sepertinya menimbulkan 'kekaguman' si ganteng sama anak ini, padahal jelas itu bukan aturan di rumah saya.
Untuk hal ini, saya tegaskan sama anak saya dari kecil, saya bilang itu bukan perilaku yang baik, dan untungnya anak saya sedikit-demi-sedikit mulai paham bahwa rules setiap rumah mungkin berbeda.
Tapi saya lupa bahwa interaksi si ganteng dan si XXX ini sangat intens di sekolah dan penitipan anak. Saat main dirumah, sering saya dengar si XXX ini bilang:
" Ahhhhh, punya Fawwaz nggak bagus nih, bagusan juga punya aku" atau
" Sepeda motor Fawwaz butut ahhh, beli kayak motor aku donggg, kereeen" sampai
" Fawwaz, lihat nih, aku punya baju batik baru"
naaaaah, kalau dirumah, saya akan selalu bilang:
" nggak boleh begitu kalo maen dirumah tante, kalo kamu nakal, kamu pulang aja, nggak usah maen sama fawwaz!" hahahahahahh... ciut lah dia , saya sebenernya kesian, tapi saya juga nggak mau anak saya jadi korban Mental/ Psychological Abuse anak depan rumah yang gak tau diri inih.
Kalo ngintip definisi mental abuse via Wikipedia, ini dia satu kalimat yang saya kutip:
is a form of abuse characterized by a person subjecting or exposing another to behavior that may result in psychological trauma, including anxiety, chronic depression, or post-traumatic stress disorder.
dan anak saya kelihatannya memperlihatkan salah satu ciri-ciri 'result'nya, mungkin lain waktu akan saya bahas dengan judul yang lain.

pernah juga soal baju batiknya yang baru, saking keselnya saya reflek bilang:
" Fawwaz punya baju batik baru 5 biji, baru dikirim sama utinya dari Jember, kalo kamu nggak percaya sini tante tunjukin di lemari Fawwaz!" spontan dia langsung kabur dari rumah saya, hahahah, lagian penting banget pagi-pagi buta masuk rumah orang pamer baju. Saat itu juga si Fawwaz dan saya ketawa bareng-bareng, dan nggak lupa saya sisipkan "moral of the day" hari itu: Tidak boleh sombong sama orang lain kalo punya sesuatu, ucapkan syukur Alhamdulillah aja banyak-banyak. :D
Mungkin saya memang bisa menangkal 'siksaan mental' dari anak itu selama dirumah, tapi rupanya tidak disekolah. Karena saya melihat si ganteng mulai sedikit nggak pede dengan apa yang dia bisa, contohnya sederhananya, dia mulai bilang:
"ibu, aku nggak bisa gambar mobil bagus kayak si XXX"
kaget lah saya :
"Siapa bilang gambar dia lebih bagus??, ibu lebih suka punya Fawwaz karena lebih rapi warnanya" sambil saya peluk dan cium dia.
Tapi rupanya, hal sepele perbedaan mana yang boleh dan tidak versi saya dan XXX ini bikin anak saya bingung dan dilema. Kelihatannya, anak saya belum cukup baik bisa mengabaikan kata-kata "punya fawwaz nggak bagus, aku lebih bagus" dari teman depan rumahnya. Masuk akal juga siih , kalo cuman sekali dua kali saya yakin anak saya bisa bertingkah cuek, tapi kalo diucapkan hampir setiap kali mereka berinteraksi, bisa kayak mantra yang nempel dikepala. Akibatnya udah jelas, pedenya tergerus, makanya saya bersyukur banget untuk sementara saya bisa 'menjauhkan' anak saya dari mental abuse macam ini. Meski itu berarti jauh juga dari saya untuk sementara waktu.
Dan melihat anak saya kembali lagi percaya diri seperti 2-3 tahun pertamanya adalah hal yang selalu membuat saya bersyukur selalu.

Menyadari itu semua, bikin saya otomatis bersyukur.
Belum terlambat untuk lebih selektif soal teman dan menanamkan prinsip supaya lebih "aware" tentang pertemanan ini untuk anak saya.
Setidaknya makin bertambah pelajaran yang bisa dipetik dengan kejadian senang dan sedih secara beruntun untuk keluarga kecil saya bulan-bulan belakangan ini :D
Anyway, sekali lagi, terima kasih ya Allah...
sudah 'jewer kuping' saya sekali lagi, saya jadi punya pelajaran yang berharga banget buat keluarga kecil saya....
Amiin.




Shawl ^^

12:33:00 AM 0 Comments
Inilah akibatnya kalo sendirian di rumah 4 hari lima malam, jadi super bingung mau ngapain.Si Ayah lagi nengokin Si ganteng tercinta di rumah utinya.

Hari pertama, saya masih ngantor. Jadi masih nggak terlalu berasa sepinya.
Hari kedua, udah libur, memutuskan untuk beres-beresin halaman, pas siang mulai bosen ngurusin halaman, akhirnya memutuskan baca novel yang udah seminggu dibaca dan nggak kelar-kelar. -_-!
Hari ketiga, dengan tekad bulat menembus gerimis untuk pergi jalan-jalan.

dan , taraaaaaa, pas jalan-jalan ketemu konter kerudung yang lagi ngadain sale, sampe 50% intip-intip dan intip akhirnya mantap untuk ambil dua warna favorit, krem sama merah tua, biarpun sebenernya belum yakin bisa make shawl yang saya beli, bonek aja lahhh, toh bisa liat-liat di youtube tutorialnya, hihihi
Murah banget kemaren belanjaan saya, untuk 2 shawl dan satu inner baju warna kulit cukup ngeluarin kocek 82ribu rupiah, dan dengan kualitas barang yang yang bagus, mereknya H*ssa, sebelumnya belum pernah tau merek ini siih, tapi karena diskonnya bikin gregetan, akhirnya beli juga,

Ini dia poto saya setelah hampir satu jam mantengin you tube, dan ngubetin shawl di kepala sampe agak puyeng dikit
jangan diketawain ya....belum rapi banget...tapi lumayan lahhhhh :D

Shawl merah tua ini ukurannya lebih lebar dan ringan dari pada yang warna krem, harga 68ribu(sebelum diskon) udah dapet sama inner shawl dengan warna senada lhooo ^^Nah, ini yang warna krem, bahannya lebih jatuh dan berat, tapi tetep nyaman karena adem banget, dan kali ini makenya lebih simpel dari pada yang warna merah, soalnya udah capek poto-poto :D

foto close up ahhhh, biar lipstik pink-nya keliatan hehehhehe :D

Monday, April 2, 2012

My everything

8:45:00 PM 0 Comments
You’re My First, My Last, My Everything


The first, the last, my everything
And the answer to all my dreams
You're my sun, my moon, my guiding star
My kind of wonderful, that's what you are
I know there's only, only one like you
There's no way they could have made two
You're all I'm living for
Your love I'll keep for evermore
You're the first, your the last, my everything

And with you I've found so many things
A love so new only you could bring
Can't you see it's you
You make me feel this way
You're like a fresh morning dew on a brand new day
I see so many ways that I
Can love you till the day I die
You're my reality, yet I'm lost in a-a-a a dream
You're the first, the last, my everything

I know there's only, only one like you
There's no way they could have made two
Girl you're my reality
But I'm lost in a-a-a a dream
You're the first, you're the last, my everything

Lyric of You’re My First, My Last, My Everything
Singer: Barry White

Sedang Suka sama lagu ini, secara dulu si ganteng suka nyanyi lagu ini dengan pede abis, walau kayaknya doi nggak tahu detail arti lagunya, cuman menangkap pesan cinta ibu-anak di iklan tivi dan langsung ikut-ikutan peluk-peluk saya sambil nyanyiin lagu ini hihihihi.......


Love you Son,
So sorry for leaving you now
but it just a point in time we will remember someday
unforgettable moments to tell with laugh and love between us later
-mom&dad-