Follow Us @soratemplates

Monday, April 9, 2012

Lesson, part 1*Psychological Abuse*


Sepulang ayah melepas kangen sama si ganteng kemarin.
Pertanyaan pertama saya buat ayah adalah " Ayaah, gimana Fawwaz? Sehat?Senang?"
Seperti biasa, si ayah mengangguk lalu mulai cerita lumayan detail kejadian-kejadian selama nengokin si ganteng di Jember.
Sampai akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa si ganteng betah di kampung sama Utinya .
Alhamdulillah......
Tapi lalu ada tambahan "Perasaan ayah campur aduk"
Pastinya. Melihat putra tersayang betah sama eyang putrinya sudah membuat saya dan suami bersyukur, dalam artian dia menikmati hidup barunya di kampung, dan bahagia. Tapi yang jelas itu bukan hal yang mudah untuk orang tuanya, jauh dari anak dengan terpaksa bisa sangat menyiksa ya ternyata.

Akhir-akhir ini saking banyaknya waktu untuk ngobrol berdua, saya banyak membicarakan tentang anak-anak dan pola asuh.
Mau nggak mau, saya dan suami harus kembali melihat ke belakang, mereview ulang, dan harus bisa menarik benang merah tentang pola asuh. Satu yang menjadi catatan saya.
Setelah masa transisi dari Bogor ke Jember, saya bisa melihat Fawwaz menemukan dirinya lagi. Dia kelihatan lebih happy, pede, dan lebih bersahabat.
Padahal pola yang saya terapkan masih sama, nggak ada yang dirubah. Pada prinsipnya setiap kebaikan atau kesalahan yang diperbuat pasti akan ada imbalan reward atau punishment. Itu saja, selain saya juga menanamkan tentang prinsip bersikap baik, menghargai orang lain, dan bersabar. Semua langsung praktek dalam hidup sehari-hari seperti disiplin tidur siang, makan dengan baik, berkata sopan sampai menghargai orang lain dengan sabar mengantri giliran pas belanja di tukang sayur.
Tapi kok, pas di Cibinong (Bogor) saya agak kesulitan ya? Semua harus berulang-ulang saya ingatkan, waktu itu sih saya pikir karena dia masih kecil jadi belum terekam baik apa yang saya ajarkan, tapi masa iya semua bisa berubah dalam hitungan hari?
Peraturan kan masih sama, cuman beda tempat. Dulu di Cibinong, sekarang di Jember.

Saya baru dapat titik terang perbedaannya pas lagi ngobrol nggak juntrung sama Fawwaz, dari mulai membahas masalah guru baru nya yang dikeluhkan Fawwaz cuman gara-gara selalu salah nulis namanya:
FAWWAZ -------------> VAWAS (versi parah)
FAWAS (nggak terlalu parah)
FAWWAS (kesalahan paling normal)
sampai kepala sekolah harus melongok Akte kelahirannya dan mensosialisasikan cara menulis "fawwaz" yang baik dan benar.
Sampai akhirnya sampai pada obrolan tentang bahwa untuk sementara waktu Fawwaz akan berada di Jember sama Uti, untuk sementara jauh dari ayah dan ibu sebelum nantinya akan merantau ke negeri seberang bersama-sama. Supaya nggak terlalu sedih, saya mengatakan:
"kita beli mobil yaa....." (tentu aja setelah ayah dan ibunya punya SIM untuk mobil, kalo beli sekarang sapa yang mo nyetir??)
Ujuk-ujuk Fawwaz bilang:
"siapa yang pengen mobil? aku cuman pengen maen salju sama ayah ibu.....yang selalu sombong-sombongin mobil itu kan si XXX" plus muka cemberutnya yang bikin makin gemes :D
Kaget dong saya, seinget saya, pas di bogor, si ganteng selalu bilang kalo dia pengen punya mobil kayak punya si XXX. Nah, mengertilah saya sekarang, kalo hampir semua sikap tidak kooperatifnya adalah karena hasutan, atau doktrin atau apalah namanya yang bikin Fawwaz jadi aneh dan rewel.
Pantes aja, dulu, kalau dia mulai bertingkah dan saya ingatkan:
"mas Fawwaz, jangan begitu dooooong, kan nggak baik....."
dia akan selalu me-reply:
"Tapi kok si XXX boleh begitu? trus, mamanya diem aja?"
Kok saya dari dulu nggak 'ngeh' ya.....begitu besarnya pengaruh teman untuk psikologis anak. Dulu saya super duper yakin dan pede dengan pola asuh saya, maksudnya, separah apapun lingkungan luar mendera, tapi dengan kasih sayang dan perhatian yang cukup, anak-anak kita tetap akan selamat dari "paparan buruk".
Tapiiiiii, ternyata, lingkungan tetap punya pengaruh besar, dan saya lupa kalau si ganteng masih belum cukup umur untuk mengkonter pengaruh buruk lingkungannya.
Gambaran lengkapnya: anak usia 4-5 tahun adalah masa-masa mereka akan punya banyak teman-teman baru. Disatu sisi, sebagai ibu, saya maunya anak saya juga mulai belajar tentang bagaimana cara memelihara pertemanan yang baik. Harapannya dia akan pede (kayak ibunya ^_^), punya empati yang baik, dan bisa menempatkan diri. Sebenernya sih saya sudah mulai memberi apa ya namanya....semacam "wacana" buat si ganteng gimana caranya berosialisasi termasuk di dalamnya bagaimana 'memilih' teman. Mungkin terkesan pilih-pilih, tapi itu juga saya berlakukan setelah mengamati beberapa temannya dan berkesimpulan kalau beberapa dari mereka masuk kategori keterlaluan.
Keterlaluan dalam hal sangat agresif hingga punya kecenderungan memukul, dan juga berkata-kata yang enggak banget didengar kuping.
Tapi rupanya salah satu dari anak 'black list' ini bisa-bisanya jadi kayak idola buat anak saya. (-_-")
Alasannya, semua keinginan si anak ini selalu di amini sama ortunya, kelihatan dengan gampang di hidup sehari-harinya, mengolok-olok orang dibiarin, mukul anak orang dibiarin, jajan mainan saban hari okeh, sampai ngelempar batu ke temennya pun ortunya diem aja, padahal jelas-jelas kejadiannya di depan mata mereka, owww, hampir selalu dapet semua yg dia mau ini sepertinya menimbulkan 'kekaguman' si ganteng sama anak ini, padahal jelas itu bukan aturan di rumah saya.
Untuk hal ini, saya tegaskan sama anak saya dari kecil, saya bilang itu bukan perilaku yang baik, dan untungnya anak saya sedikit-demi-sedikit mulai paham bahwa rules setiap rumah mungkin berbeda.
Tapi saya lupa bahwa interaksi si ganteng dan si XXX ini sangat intens di sekolah dan penitipan anak. Saat main dirumah, sering saya dengar si XXX ini bilang:
" Ahhhhh, punya Fawwaz nggak bagus nih, bagusan juga punya aku" atau
" Sepeda motor Fawwaz butut ahhh, beli kayak motor aku donggg, kereeen" sampai
" Fawwaz, lihat nih, aku punya baju batik baru"
naaaaah, kalau dirumah, saya akan selalu bilang:
" nggak boleh begitu kalo maen dirumah tante, kalo kamu nakal, kamu pulang aja, nggak usah maen sama fawwaz!" hahahahahahh... ciut lah dia , saya sebenernya kesian, tapi saya juga nggak mau anak saya jadi korban Mental/ Psychological Abuse anak depan rumah yang gak tau diri inih.
Kalo ngintip definisi mental abuse via Wikipedia, ini dia satu kalimat yang saya kutip:
is a form of abuse characterized by a person subjecting or exposing another to behavior that may result in psychological trauma, including anxiety, chronic depression, or post-traumatic stress disorder.
dan anak saya kelihatannya memperlihatkan salah satu ciri-ciri 'result'nya, mungkin lain waktu akan saya bahas dengan judul yang lain.

pernah juga soal baju batiknya yang baru, saking keselnya saya reflek bilang:
" Fawwaz punya baju batik baru 5 biji, baru dikirim sama utinya dari Jember, kalo kamu nggak percaya sini tante tunjukin di lemari Fawwaz!" spontan dia langsung kabur dari rumah saya, hahahah, lagian penting banget pagi-pagi buta masuk rumah orang pamer baju. Saat itu juga si Fawwaz dan saya ketawa bareng-bareng, dan nggak lupa saya sisipkan "moral of the day" hari itu: Tidak boleh sombong sama orang lain kalo punya sesuatu, ucapkan syukur Alhamdulillah aja banyak-banyak. :D
Mungkin saya memang bisa menangkal 'siksaan mental' dari anak itu selama dirumah, tapi rupanya tidak disekolah. Karena saya melihat si ganteng mulai sedikit nggak pede dengan apa yang dia bisa, contohnya sederhananya, dia mulai bilang:
"ibu, aku nggak bisa gambar mobil bagus kayak si XXX"
kaget lah saya :
"Siapa bilang gambar dia lebih bagus??, ibu lebih suka punya Fawwaz karena lebih rapi warnanya" sambil saya peluk dan cium dia.
Tapi rupanya, hal sepele perbedaan mana yang boleh dan tidak versi saya dan XXX ini bikin anak saya bingung dan dilema. Kelihatannya, anak saya belum cukup baik bisa mengabaikan kata-kata "punya fawwaz nggak bagus, aku lebih bagus" dari teman depan rumahnya. Masuk akal juga siih , kalo cuman sekali dua kali saya yakin anak saya bisa bertingkah cuek, tapi kalo diucapkan hampir setiap kali mereka berinteraksi, bisa kayak mantra yang nempel dikepala. Akibatnya udah jelas, pedenya tergerus, makanya saya bersyukur banget untuk sementara saya bisa 'menjauhkan' anak saya dari mental abuse macam ini. Meski itu berarti jauh juga dari saya untuk sementara waktu.
Dan melihat anak saya kembali lagi percaya diri seperti 2-3 tahun pertamanya adalah hal yang selalu membuat saya bersyukur selalu.

Menyadari itu semua, bikin saya otomatis bersyukur.
Belum terlambat untuk lebih selektif soal teman dan menanamkan prinsip supaya lebih "aware" tentang pertemanan ini untuk anak saya.
Setidaknya makin bertambah pelajaran yang bisa dipetik dengan kejadian senang dan sedih secara beruntun untuk keluarga kecil saya bulan-bulan belakangan ini :D
Anyway, sekali lagi, terima kasih ya Allah...
sudah 'jewer kuping' saya sekali lagi, saya jadi punya pelajaran yang berharga banget buat keluarga kecil saya....
Amiin.




No comments: