Follow Us @soratemplates

Friday, December 21, 2012

cerita segelas CARICA

1:38:00 AM 0 Comments
Carica itu......sejenis makanan ringan dari tempat asal ayah(suami saya maksudnya... *blushing). It taste sweet, juicy because of the syrup and crushed fruit in it. But, sekarang nggak mau cerita carica-nya, but the story behind :D

Konon,
Ketika si ayah masih masih dalam masa-masa pedekate, doi pernah kasih oleh-oleh dari tanah kelahirannya segelas CARICA, macam-macam keripik dan saya lupa apalagi yang ada dikantong oleh-oleh itu.
Waktu itu saya lagi ngontrak di rumah kecil bareng temen saya, bunda (begitulah saya memanggilnya sekarang setelah kami semua jadi ibu), berdua di rumah yang 'berdiri segan rubuh tak mau' itu otomatis bikin kita berdua jadi merasa senasib sepenannggungan. Selain kami berdua, ada satu lagi Penghuni Gelap Tetap (sekarang jadi mama Cipa)yang nyaris rutin nginep di rumah kenang-kenangan itu.
Jadilah kami bertiga selalu hampir bisa ditemukan sama-sama, cuman karena beda gedung aja kita ngga bisa nge-lab bareng-bareng, kalo memungkinkan, bisa jadi dikantor nge-lab pun sambil ngerumpi hahahhahah...

Suatu ketika, berdering hape saya dari si abang Farid (begitulah saya memanggil suami dulu hihihihi #malu berat), yang secara implisit bilang , 'bisakah kita bertemu?, karena aku punya sesuatu untukmu' hahahahaha.......namanya juga mau dikasih hadiah saya oke aja. Dan jadilah kita ketemuan di pusat kota Bogor, daaan taraaaa.... saya dapet tiga jenis keripik (dan setelah saya menikah saya baru tau kalau Wonosobo punya banyak banget varian keripik), satu Carica yang ajaib itu, dan satu lagi yang sudah janji sama ayah nggak boleh dipublish karena menyangkut harga diri katanya hihhihihi........

Nah, pas sampai pulang kembali di kontrakan imut dan pengen buka botol carica yang nampak segar itu, saya minta tolong si bunda untuk bukain tutup botolnya. Gagal. Dicoba lagi dengan tenaga lebih kuat. masih gagal.
Akhirnya mama Cipa turun tangan, dengan serius dan energi berlipat tutup botol diputar, Tetap nggak bergeming. Akhirnya si bunda dengan asal nyeletuk bahwa siapa yang bisa buka tutup botol itu akhirnya bakal dapet si abang.

Hahahhahaahh...... itu jenis omongan orang yang putus asa kepengen makan cemilan tapi koq susah bener dibuka tutupnya. Daaaan....nggak disangka sodara-sodara, setelah dua orang temen saya kecapean tapi belum berhasil juga, iseng-iseng saya putar tutup botol minuman manis itu, dan..'sret...sret"...tutup botol terbuka dengan gampangnya....hihhihiihi....Alhasil kita bertiga melongo sejenak dan dilanjut dengan ketawa sampai air mata berlinang....hahahahaha...
Dan nyatanya, 6 bulan kemudian, saya memang sah jadi istri si abang Farid.

Mungkin, itu cuman kebetulan,
Atau mungkin, saat si bunda ngomong dengan nada putus asa itu ada malaikat lewat dan mengamini ucapannya.
Atau mungkin, itu memang sudah garis takdir atau semacam pertanda.
Apapun itu, buat saya, setiap kali pulang kampung ke tanah kelahiran suami dan lihat botol Carica ini di etalase toko Oleh-oleh, saya selalu langsung senyum-senyum sendiri. Lirik-lirik ayah, dan takjub sendiri...koq bisa ya? hahahahhahah.......

And the stories began....















Friday, December 14, 2012

fawwaz VS online games

7:16:00 AM 0 Comments
'Ibuuu, aku nanti mau maen game"
Akhir-akhir ini koq kalimat ini yang sering keluar dari mulut kecil mas Fawwaz.
Yang juga selalu menebalkan beda pendapat saya dan ayah tentang aturan maen games ini.

Personally, saya bukan orang yang anti games sama sekali, sejujurnya saya juga suka maen "burung-burung pemarah" atau 'laba-laba yang kemaruk". Tadinya sih, setelah mencoba 'mendengar' pendapat ayah, saya pikir, okeh, boleh maen game dengan prasyarat. Artinya , maen game itu adalah reward kalau dia sudah belajar berdoa, aktivitas fisik diluar (atau lari-lari nggak juntrung), mewarnai, berhitung atau apa aja pokoknya jauh-jauh dari gadget. However, it doesn't work, walaupun pembatasan waktu sudah berlaku, sepertinya mas fawwaz sudah lumayan addict sama yang namanya games online. Daaaan, seketika ibunya terjerat panik....

Symptoms- nya jelas, lebih aggressive, jadi (lumayan) malas beraktivitas diluar, dan yang paling berat itu doi mau ini-itu dengan janji dia akan dapet reward boleh main games.  Dan itu butuuuuuh banyak stok sabar untuk mengatasi tantrum yang tiba-tiba muncul akibat hasrat maen games yang tak terpenuhi. Meskipun tanda-tanda itu baru saja kelihatan dua minggu belakangan, tapi sangat annoying daaaan menguras banyak energi tentunya. -_-

Setelah search kesana kemari (lagi, dan untuk yang kesekian puluh kali) tentang games, sudah diputuskan (paling enggak saya setuju dengan keputusan yang saya buat sendiri) kalau games akan ditunda tampil atau dimainkan atau dilihat sama Fawwaz sampai dia Sekolah Dasar. Dan nantipun saat dia SD, akan tetap berlaku pembatasan jam dengan konsekwensi jika dilanggar. Sebagai orang tua amatiran, saya nggak menampik ada games yang edukatif. Tapi setelah ditimbang-timbang, positifnya lebih sedikit ketimbang negatifnya. Dan bukannya kami as parents nggak pernah nyoba ngenalin games yang edukatif ini. Sudah beberapa kali, dan hasilnya...fawwaz jadi makin ahli download sendiri free games online yang dia suka,,,,misal semacam monster truck, drag racing, dan entah apalagi yang menguras emosi, akibatnya dia jadi lebih gampang merajuk, karena lelah tentunya.

Mungkin untuk anak-anak lain, maen games ini nggak akan terlalu berdampak. Tapi ternyata untuk anak saya, dampaknya luar biasa. Dan itu sangat bisa dimengerti kalau meninjau ulang karakter dia. Memang harus diakui saya nggak pernah punya kesulitan mengajarkan sesuatu yang sifatnya lumayan akademik untuk dia, dan saya berusaha untuk menjadikan acara belajar ini seperti maen-maen dan men-challenge dia, karena saya tau persis, anak saya adalah tipe anak yang nggak pernah tahan kalau dia dapet tantangan untuk menyelesaikan sesuatu. Sejalan dengan hasil IQ dan Multiple Intelligent-nya yang memang lebih diatas rata-rata, sepertinya dia nggak pernah susah untuk paham tentang sesuatu. Nah negatifnya, anak-anak macam begini jadi gampang bosan, selalu pengen belajar hal baru, dan punya imajinasi yang kadang lewat batas. Masih saya ingat dengan jelas beberapa kali dia protes kenapa bu guru di sekolah selalu mengulang hal yang sama padahal mas Fawwaz sudah bisa. Dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa sebaiknya Allah memang cuman satu aja, karena kalau ada dua manusia akan bingung mau bertaqwa sama yang mana.

Rupa-rupanya, games online ini sangat menantang buat dia. Ya iyalah, setiap kali satu level terlewati, akan muncul level yang lebih menantang. Dan itu nggak terlalu menonjol di games edukasi yang cenderung lebih sering monoton (menurut saya sih).
Dan finally, ini tantangan berat, semacam wake up call untuk saya untuk lebih baik lagi, membaca dan belajar lebih serius lagi untuk jadi orang tua, tidak denial dengan kenyataan kalau anak saya mulai menunjukkan tanda-tanda games addict. Yang penting harus teteup semangat. 

Iyaaa,,,,satu tantangan lagi ditengah saya berkutat dengan pengurusan paspor, visa, dan family health cover menjelang keberangkatan kami sekeluarga ke negeri kanguru.
Hope life will be better for tomorrow......

oh ya,,,, saya selalu welcome dengan opini dan saran koq, kalau ada diantara pembaca yang punya solusi atau sharing pengalaman atau informasi.....
silahkan tinggalkan komen....dan saya akan sangat bertirima kasiiiiih....paling enggak untuk membaca curhatan ibu-ibu yang sedang galau ini..

:D


Thursday, December 13, 2012

When the peanuts giving birth ^^,

1:12:00 AM 0 Comments
"ibuuu, look at this," my son said to me.
"ibu, my peanuts giving birth, yeaaay...."
Oh-My-God, when I looked into the small bowl, I could see there were 4 out of 6 sprouting peanuts. Each of the peanuts performed a small bud, which had white-pale green colours. 
And thanks God, he didn't say the peanuts hatched, hahhaha....
The only one reason why we made a mini laboratory experiment, is to introduce him the changes which might happen when something grow, and we start it with plants (growing the peanuts).

After that, we scrutinized the peanuts' growing state for few days. Unfortunately, our peanuts were not successfully growing. All of it were covered by fungi, and we decided to throw it before we took some photos of the peanuts' amazing growth. 
however, at least, he record the changes shown by the peanuts haha...
But then, an unexpected question was asked by my-lovely-clever boy,
"Ibu, when we throw the peanuts, do their mother will look for them?"
oh yes, there was another hard question to be answered. ^^,
What dayya think?