Follow Us @soratemplates

Monday, December 30, 2013

Tentang belajar membaca (4).

8:54:00 PM 3 Comments
Menyambung tulisan saya sebelumnya tentang perjalanan Fawwaz mengenali huruf, kata hingga rangkaian kata membentuk kalimat, sepertinya tulisan ini akan jadi episode akhir tentang kisah Fawwaz belajar membaca.

Setelah sebelumnya saya bertutur banyak tentang Sight Words disini, lalu, setelah anak kita mahir memakainya, apa selanjutnya? berhenti begitu sajakah? atau menambah jumlah sight words-nya?
Menambah jumlah sight words yang bisa dihafal, digunakan dalam percakapan atau dalam proses menulis. Tapi menghafal saja rupanya belum cukup, apalagi kalau si anak sudah menunjukkan tanda-tanda bosan.
Tadinya saya sempat mikir kira-kira gimana cara bu Guru disekolah Fawwaz menambah tingkat kesulitan dalam proses belajar ini. Dirumah, saya punya cara sendiri untuk bikin Fawwaz tetap belajar tentang kalimat yang baik dan proses merangkai cerita.
Tapi nanti dulu deh, sebaiknya kita mulai saja dari yang disekolah ya…






Suatu hari sepulang sekolah, si ayah bercerita kalau Mrs.Heyden chatting dengan anak saya. Ha? nah bukannya setiap hari mereka juga ngobrol, heheh. Rupanya, chat tertulis di atas buku sight words Fawwaz yang sudah tuntas dikuasai.
               
                                                




Beberapa lembaran chatting antara bu Guru dan mas Fawwaz di sekolah, beberapa masih ada salah grammar atau salah spelling. Tak apalah, namanya juga belajar. dan lucunya, setiap anak akan punya buku chatting sendiri2 dengan ibu guru, tapi tentu saja setelah mereka menyelesaikan sight words. Bisa kebayang lelahnya bu guru ini menanggapi pertanyaan satu persatu dari setiap muridnya, heehheh. 

Setelah itu, murid-murid di sekolah juga akan bermain dengan potongan2 kertas membentuk suatu kalimat seperti ini :



Dari buku-buku ini bisa terlihat dari hari ke hari, bu Guru menambah tingkat kesulitan Fawwaz. Dari hanya menyusun kalimat dari potongan-potongan kata, hingga menceritakan sebuah gambar.
Masih ada salah disana-sini, tapi bu Guru selalu memberi komentar membangun, karena memang yang patut dihargai bukanlah hasilnya, tapi kerja keras si murid.

Sampai akhirnya, Fawwaz mulai merambah buku tingkat akhir dari proses membacanya, yaitu mulai mengarang suatu cerita. Ah senangnya. Mari kita intip beberapa lembar halamannya. Tetap masih ada salah spelling atau grammar, hahhah……




Nah, itu aktivitas belajar Fawwaz disekolah selain belajar matematika, science, dan history, dan di akhir tahun kemampuan bahasa inggrisnya juga diamati dan dinilai mengingat Bahasa Inggris adalah bahasa ke-dua-nya. Bukan bahasa ibu, hasilnya cukup menggembirakan sih, belum perfecto, tapi penggunaan bahasa inggrisnya sudah sangat efektif. Well done Son!

Nah Sekarang, apa yang ayah-ibu lakukan dirumah? 
Hahahahah, jiper saya mo cerita. Sebenernya nggak banyak, yang saya ajarkan dirumah adalah hasil browsing kesana-kemari tentang pentingnya belajar narasi untuk anak-anak. Jadi, ada beberapa hal yang rutin dikerjakan, misalnya one day one page writing. Fawwaz cuma meng-copy satu halaman buku ceritanya, untuk ditulis ulang di buku tulis. Buku ceritanya apa aja, suka-suka dia. Prinsipnya, saya nggak membantasi buku cerita apa yang mau ditulisnya hari itu, karena saya pengen dia belajar banyak kosakata dan gaya seorang pengarang bercerita sebelum dia bisa menentukan gaya kepenulisannya sendiri, dan punya style menulis yang unik, itu aja. Dan saya tau sih, ini bukan proses mingguan atau bulanan, tapi tahunan. Gaya menulisnya yang unik baru akan bisa saya lihat bertahun-tahun kemudian, sementara itu masih cukup waktu buat saya memperbaiki kualitas menulis saya sendiri, nah gimana saya bisa memberi masukan kalau ilmu menulis saya pun cetek, heheheheh. 
jadi sepertinya, saya sedang berlomba dengan anak saya sendiri, supaya saya tetap bisa menjangkau daya pikir dia kelak.
Contoh tulisan Fawwaz di acara one day one page ini seperti ini, dengan tulisan yang masih berantakan hehehhe.


Teknik narasi yang lumayan ampuh juga yaitu dengan story telling, jadi dia diminta menceritakan ulang buku yang sudah dibaca, lebih enak lihat videonya ya…
bisa dilihat di link berikut
https://www.facebook.com/photo.php?v=10200784735084084&set=vb.1334149841&type=3&theater

nah sayangnya saya nggak tau, kalo bukan teman di fesbuk saya, bisa nggak ya buka link ini?
Udah saya setting 'public' sih, semoga sukses acara nontonnya.
Jadi, aktivitas baca-tulis ini sudah jadi acara wajib sehari-hari, selain membaca Iqro, bermain-main, atau menggambar. 
Apalagi yaaa….rasanya cuman itu aja…
inti kegiatan ini sih sebenernya membentuk kebiasaan positif sedari kecil, dan dia pun sudah cukup sibuk setiap harinya, tetap tanpa nonton tivi, tanpa main games berlebihan (karena main games tetap saya batasi 1 atau 2 jam setiap hari, no more!), dan kalaupun nonton film, saya unduh filmnya dari youtube, itupun dengan persetujuan bersama menentukan film yang akan ditonton.
Kelihatan ribet? sedikit….
Capek? pastinya !, belum lagi sesi bed time story dan pep-talk sebelum tidur.

Semoga, suatu saat nanti jerih payah saya dan suami bisa terbayar saat melihat dia dengan gagah bisa menjalani hidupnya sendiri tanpa rasa takut karena ketidakbisaan, semoga.

Hehehe, malah ngelantur..
selamat belajar ya Kawan,
Cheers….


Library Visit.

6:19:00 AM 0 Comments

Salah satu program liburan Fawwaz yang sudah direncanakan jauh-jauh hari adalah kunjugan ke perpustakaan.
Sebenernya pepustakaan adalah tempat yang termasuk sering dikunjungi Fawwaz, hampir setiap minggu, bahkan kadang seminggu-pun bisa sampai dua-tiga kali.
Sebabnya banyak, karena banyak buku (iyalah, namanya juga perpus hehhe..), tempatnya nyaman, dan akses juga amat sangat gampang. Dan biasanya memang, perpustakaan yang paling sering dikunjungi adalah yang paling dekat dgn rumah, yaitu perpustakaan Toowong.

Nah kali ini, mengunjungi yang ada di pusat kota, yaitu Brisbane Square Library. Menurut catalog, kota Brisbane punya 33 buah perpustakaan, tersebar di seantero kota Brisbane. Nah, sayangnya baru sempat mengunjungi dua tempat, yaitu Toowong library dan Brisbane Square Library. pengennya siiiiih…bisa mengunjungi minimal separuh dari ke-33 perpustakaan itu. Hehehehe… #ngimpi.





Seperti apakah perpustakaan kota Brisbane ini? yuk kita intip.

Yang pertama : TOOOWONG Library.
Salah satu sudut koleksi buku Fiksi Toowong Library.
Area membaca untuk para dewasa.
Area yang paling menarik buat Fawwaz tentu saja area anak-anak, buku berwarna-warni, bantal-bantal besar, meja dan kursi mini, dan satu buah komputer, belum lagi ruangan yang di-cat warna-warni, saya pun bahagia bukan main di area ini, karena bisa reunian dengan beberapa buku bacaan saya pas masih anak-anak, asterix-obelix, dragon ball, tintin, hahahahha…….senang pokoknya! :D
Salah satu sudut area membaca untuk anak-anak yang tampak meriah .
Bagian atas area membaca anak-anak pun dihias sedemikian rupa.
Tenggelam diantara buku bacaan, hahah.
Sudut untuk menulis, menggambar, mewarnai, atau sekedar duduk-duduk. 


Perpustakaan Toowong dilengkapi dengan beberapa komputer untuk akses Internet dan ruang baca mungil untuk para remaja. Seingat saya juga punya satu atau dua meeting room, koleksi bacaannya pun sangat beragam dan terawat baik, mulai dari majalah, buku-buku, VCD, dan bibliography. Beberapa buku berlabel merah nggak bisa dipinjam dan dibawa pulang, hanya boleh dibaca di tempat, keliahatannya karena buku-buku ini termasuk koleksi langka, dan kebanyakan adalah literatur yang menceritakan perkembangan kota Brisbane dari masa ke masa.


Nah, lalu? bagaimana dengan perpustakaan Kota?

Ini dia, ternyata ada 3 lantai. Lantai 1 (ground), adalah tempat anda bisa kongkow2, karena disediakan tempat duduk yang nyaman banget, disini pula peminjaman buku bisa dilakukan. Tadi saya sempet muter2 di lantai 2 nyari mesin otomatis buat minjem beberapa buku, nggak ada, ternyata hanya ada di lantai satu ini, hahahah….

lantai dua ada toilet (info penting ini :D ), komputer, meeting room (kalo nggak salah ada beberapa), daaan area bacaan anak-anak, Yihaaaa, dan ada pula Xbox gratis…asal anda mau ngantri, dan televisi segede gaban.
Luas, nyaman, adem dan bersih, satu lagi, koneksi internetnya yahud !!
Xbox, salah satu fasilitas gratis di perpustakaan kota.
Mari nonton TV :)
Salah satu sudut koleksi buku di perpustakaan kota.
Ini maenan apa sih namanya? saya juga nggak tau, touch screen, edu gamesnya pun macem-macem,  bisa maen sendirian, ataupun beramai-ramai.
           
Beberapa brosur yang dikumpulkan hari ini, berupa informasi tentang acara liburan anak-anak, berbayar ataupun gratis, tinggal kunjungi web-nya, booking, dan nikmati acaranya di hari-H nanti.
           
Overall, sejauh ini, saya dan Fawwaz selalu puas setiap kali mengunjungi perpustakaan di kota Brisbane.  Mendaftarnya pun cukup gampang, cukup tunjukkan ID anda dan keterangan yang menunjukkan dimana anda tinggal, waktu itu saya cukup nunjukin student card dan leasing agreement ajah, tunggu 10 menit-an, dan kartu anda pun siap dipakai. Bagusnya lagi mereka sudah punya sistem terpadu, jadi kalaupun anda pinjam di satu perpustakaan, anda boleh mengembalikan buku, majalah ataupun VCD di perpustakaan manapun. Satu kali pinjam bisa sampai 20 buku dalam rentang waktu satu bulan, dan kalau masih belum tuntas, proses renew bisa dilakukan secara online untuk satu bulan berikutnya. Mudah bukan, belum lagi koleksi mereka yang sangat up to date, sssttt, tadi saya sempet nyomot (baca:pinjem) Vogue terbaru.  :D

Belum lagi mereka punya beberapa acara reguler yang sangat ramah untuk anak-anak,  misalnya acara baby and books rhymes, toddler time, children's story time, Sangat recommended untuk anak-anak dan para orang tua.     

Yuk, mari kita berkunjung ke perpustakaan :D                                                                                           

Tuesday, December 17, 2013

Paper-1 : Introduction-MuPyV

11:47:00 PM 0 Comments
Kali pertama mau nyoba nulis tentang pekerjaan saya.
Pekerjaan yang menyenangkan, yaitu Membaca. hahhahah…..
Kalau biasanya nge-post sesuatu tentang yang dibaca oleh anak ganteng saya, kali ini adalah buku atau paper yang dibaca ibunya.

Tetap akan ditulis ke dalam bahasa mudah.
Karena ternyata, saya sadar kalo udah urusan beginian bahasa yang saya pakai amat sangat seperti buku pelajaran disekolah dan jadi sedikit boooring.
Jadi ini seperti tantangan sendiri buat saya, hehhehh.
Merubah bahasa dari langit ke-tujuh jadi bahasa yang lebih membumi :D.






Judul paper kali ini adalah:
A microbial platform for rapid and low-cost virus-like-partikel and capsomere vaccines.


Rupa-rupanya paper ini adalah hasil kerja bareng dari 3 institusi yang berbeda, yaitu: Univerisity of Queensland, Griffith University dan satu lagi The Queensland Institute of Medical Research. Porsi menarik dari sebuah paper (menurut saya pribadi) adalah bagian introduction, atau latar belakang. Sebabnya adalah karena banyak hal, jelas bagian ini adalah yang akan memberi kita informasi alur sebab-akibat dan kenapa suatu riset dikerjakan dan menjadi menarik atau bahkan penting.
(walau sedihnya, sering kali dan sebagian besar orang melewatkan pentingnya bagian ini dan langsung melihat 'result and discussion'. Bahkan, seakan-akan bagian ini 'hanya' jadi pelengkap).
Padahal, keunikan suatu jurnal bisa dengan mudah ditemukan disini.

Jadi sekarang, saya akan coba ulas bagian 'latar belakang' dari jurnal yang dikirim buat saya dari Frank. Diawali dengan informasi umum seperti pentingnya Vaksinasi yang secara efektif meng-enyah-kan penyakit tertentu dari muka bumi, jurnal ini lalu
membeberkan fakta tentang jumlah kematian anak-anak dibawah 5 tahun disebabkan oleh penyakit tertentu yang kebanyakan terjadi di negara-negara sedang berkembang (Indonesia termasuk dong ya? kita kan masih "developing country" belum berubah jadi "developed country"). Tetapi ternyata problematika vaksinasi ini bukan cuma jadi masalah di negara berkembang lho, bahkan negara yang masuk kategori maju, cukup dibuat repot ketika kemaren flu burung menyerang masyarakat dunia.
(lebay gak sih ini bahasanya? hahahhah). Nah, kejadian ini menjadi tekanan tersendiri bagi mereka untuk bisa memproduksi vaksin dengan cepat, murah dan bisa diproduksi masal untuk memenuhi permintaan dari banyak pihak.

Setelah penjelasan singkat tentang kebutuhan vaksin ini, mulailah ada penjelasan tentang Virus-like Partikel (VLP), yang aman dan punya tingkat efikasi cukup tinggi. Sejauh ini, VLP-vaccine sudah tersedia untuk hepatitis B dan kanker servik. Dan poin penting kenapa VLP menjadi menarik bagi grup peneliti ini adalah karena VLP vaksin ini ternyata terbukti mampu menginduksi sistem kekebalan humoral dan seluler manusia walaupun tanpa penggunaan adjuvant.
Hmm, lain kali mungkin sebaiknya akan saya tulis lebih detail tentang perbedaan vaksin VLP ini dengan vaksin reguler, sekaligus paper yang memberikan pernyataan menarik soal "tanpa adjuvant" ini, tapi nanti dong yahhh…masih panjang ini. hehhe.

Nah, setelah informasi umum soal VLP, berikutnya tentu saja penjabaran lebih detail tentang VLP, yang ternyata untuk bikin VLP ini tentu saja butuh yang namanya "appropriately folded protein", alias protein punya aktivitas, bukan sekedar produksi protein tertentu aja. Proses pembuatan VLP dari protein tertentu butuh segudang pekerjaan yang melibatkan interior sel dan interaksinya dengan lingkungan (lingkungan sel lho yah, bukan lingkungan alam semesta). Nah, karena membuat VLP secara 'in vivo' butuh proses panjang, para peneliti mulai melirik yang namanya teknik "in vitro". Karena proses perakitan nya relatif lebih mudah dan terukur, merujuk satu paper utama yang disebut beberapa kali di dalam paper ini, yang intinya dengan teknik 'in vitro', dengan memakai E.coli, akan menekan biaya dan rentang waktu pembuatan vaksin.

Lalu dimanakah uniknya paper ini? Jelas mereka tertarik dengan yang namanya produksi VLP secara in vitro dengan E.coli, lalu apakah yang mereka produksi? sekedar "mengulang" kesuksesan paper rujukan mereka kah?. 
No, dengan jelas mereka menulis kalau mereka akan bikin vaccine platform untuk Polyomavirus (MuPyV)-VP1 baik dengan capsomere dan VLP, dan penggunaannya ditujukan untuk influenza dan Group A Streptococcus (GAS). Nah saya lupa bilang tadi, kenapa capsomere jadi menarik selain VLP?  adalah karena capsomere ini juga ditemukan cukup antigenik bagi sistem kekebalan tubuh manusia, Jadi kalau dirunut, mereka akan produksi VP1 protein dengan E.coli, nah formasi pentamer dari VP1 ini disebut capsomere, selanjutnya, dengan assembling tertentu, si capsomere akan dirubah jadi VLP yang sangat terkenal itu, dan karena capsomere ini cukup imunogenik, jadilah akan diproses sekaligus bersamaan dengan VLP, semacam potong kompas, kalau kita bisa pakai capsomer-nya, VLP akan jadi pilihan kedua, karena prosesnya lebih panjang.
heheheh…..

Untuk tujuan penggunaan vaksin influenza, yang digunakan adalah M2e protein yang dipasangkan ke dalam polyomavirus-VP1 capsomere, purifikasi, dan melakukan serangkaian test untuk potensi antibody binding.
Sedangkan untuk tujuan GAS, peptida yang digunakan adalah J8 karena nggak ada cross reaction dengan protein manusia., tapi oh tetapi, tantangannya adalah bagaimana 'merubah' J8 protein ini jadi sedikit imunogenik dan tetap aman digunakan. Masuk akal bukan? sekedar nggak ada cross reaction memang aman untuk manusia, tapi hampir dipastikan nggak akan bisa menginduksi sistem kekebalan tubuh kita memproduksi yang namanya antibodi, Nah, jadi J8 ini akan dimodifikasi supaya sedikit imunogenik, dikenali sebagai antigen dan badan kita bisa memproduksi antibodi yang diinginkan, namun tetap aman.

Overall, ini paper yang bagus, meski saya sedikit terbata-bata karena kecepatan saya mencerna jurnal mulai melambat karena liburan, hihhiii…
Anyway, satu nih yang saya masih belum bisa melihat benang merahnya, kenapa influenza dan GAS?
dua hal ini kayaknya agak 'jauh' beda, meski dua2nya penting, apakah ada korelasi antara influenza dan GAS ini, atau enggak?
kudu cari tau lagi, maklum masih newbie..
wkwkwkk…

silahkan kalau mau komplain atau diskusi,
siapa tau ada yang harus dikoreksi atau saya salah mencerna..
fell free to contact me or just write your comments here..
enjoy!





Friday, November 29, 2013

Tentang belajar Membaca (3)

7:15:00 AM 3 Comments
:D
Kali ini, bagaimana kisah dan proses interaksi Fawwaz dengan kata dan huruf saya tulis adalah karena dua hal: 
satu, saya pernah punya janji disini kalau saya akan menulis step-by-step detail proses membaca Fawwaz.
Dua, supaya punya arsip, yang siapa tau berguna kelak dikemudian hari.

okeh, mari kita simak satu persatu metode belajar Fawwaz kemaren.
Tapi saya ingetin ya…, semua yg diceritain disini adalah semata pengalaman kami sekeluarga aja, kalau ditanya itu metode apa, basisnya darimana, sepertinya saya nggak akan bisa jawab.
:D





Hari pertama Fawwaz datang ke sekolah, kita langsung ambil seragam, seperangkat peralatan untuk satu tahun dan tas sekolah. Ehm, tepatnya beli.
Dan, kalo nggak salah, beberapa hari kemudian, di tas sekolah ada folder yang berisi Pictionary, sight words book dan buku cerita untuk early reader pinjaman dari sekolah. Kalau boleh saya bilang, Sight Words book inilah salah dua yang paling "kena" buat Fawwaz sepanjang perjalanan belajar membaca selain koleksi bacaan yang ada di sekolah.
Ini dia Halaman pertama Sight Words book Fawwaz.

Halaman Awal buku Sight Words Fawwaz, yang isinya pengenalan kosakata bahasa inggris, dimulai dari yang paling mudah.
Jangan salah, Sight Words book ini bukan semacam buku cetakan pabrik, melainkan buku tulis bergaris biasa yang ditempelin print out 100 kata elemen utama dalam percakapan sehari-hari. Mulai dari kata "I", "a", "the" dan seterusnya.
Tiap kata ini harus bisa dibacaa dalam rentang waktu kurleb 3 detik, kalau masih agak lama baru si anak bisa 'membaca' kosakatanya, berarti kata ini harus diulang lagi keesokan harinya.
Tapi yang harus diingat adalah nggak ada patokan setiap hari si anak harus hafal sekian kosakata, bebas aja. Disisi lain pengayaan kosakata ini dibantu dengan buku-buku cerita sesuai level membaca si anak, jadinya nggak bosen, dan tentulah buku-buku ini mayoritas bergambar.
Setiap kata yang bisa dihafal dan dikenali dengan cepat dicentang, dan setiap kali bisa menyelesaikan satu halaman si murid berhak dapet bintang, yey.

Halaman kedua Sight Words book, mash berisi kata-kata umum untuk percakapan dalam bahasa inggris.
Seiring dengan proses perkenalan huruf ini, para orang tua pun diharapkan punya peran aktif.
Dan, sangat salut untuk ayah Fawwaz yang punya ide untuk bikin mainan sederhana tapi cukup efektif untuk media belajar. Jadi, suami saya ini menuliskan setiap kata yang ada di lembaran buku sight words di potongan kertas kecil berukuran kurang lebih 10X10cm. Setiap satu kata ditulis di satu potongan kertas. Dan, saat mereka bermain, kertas-kertas itu akan dilempar berhamburan di udara. Setelah itu mereka akan berlomba mengumpulkan potongan-potongan kertas yang ada, dan setiap potongan kertas yang berhasil dikumpulkan harus dibaca dan diucapkan dengan lantang. Heheheh, rupanya Fawwaz menganggap makin banyak kertas yang dikumpulkan dia akan jadi pemenang, konsekuensinya dia akan membaca lebih banyak, mengulang lebih banyak kata. :)
Jadilah, bermain dan belajar bersama ayah ini cukup signifikan membantu proses belajar membacanya.


Di sekolah, group reading pun diadakan setiap pagi.
Jadi, para murid akan dibagi kedalam beberapa grup dengan berdasarkan level bacaan.
Biasanya sih satu grup berisi 5-6 orang. Masing-masing meja akan didampingi satu "guru", dan seringnya para wali murid akan ikut turun tangan karena guru dikelas hanya ada dua orang, sedangkan grup siswa bisa sampai 5 meja, jadilah setiap hari ada 3 orang volunteer yang bisa mengawasi setiap meja. Hehe, tapi saya belum pernah ikutan jadi volunteer, sadar diri ini, pronunciation saya kan masih kadang nggak bener, takut malah bikin kacau bibit-bibit pemula yang cemerlang ini. :D
Di grup kecil ini setiap anak akan dapat satu buku, dan mereka bertugas membaca buku itu secara lantang untuk teman2 yang lain. 
Jadi selain membaca, mereka juga akan berlatih 'bicara' di depan banyak orang.

Kalau diperhatikan, setiap lembar halaman sight words ini berisi 10 kata yang diberi nama seperti purple list, brown list, yellow list dst. Total jumlah keseluruhan sight words yang harus bias dipahami dan digunakan secara mahir dalam kalimat ada 100 buah kosakata.
Saya katakan digunakan secara mahir karena murid diharapkan bisa menuliskan kata2 ini secara mandiri dan betul. Bu guru tidak akan beranjak dari halaman yang sama dan menempelkan list baru di halaman baru kalau list lama si murid belum seratus persen paham cara membaca, menulis dan menggunakan setiap kata dengan betul didalam sebuah kalimat. Bukan pekerjaan mudah kan?
Tapi sekali lagi, seperti yang sudah diingatkan pihak sekolah, bahwa ini bukanlah pertandingan membaca, maka setiap tahap disesuaikan dengan kemampuan si anak tanpa paksaan.
Maka jangan heran, jumlah list yang ada dibuku setiap anak akan berbeda-beda, sesuai kemajuan mereka masing-masing. 
Buat yang berminat 100 magic words ini terdiri dari kosakata apa saja, silahkan japri saya ya…
Bisa dikirim via e-mail, :D

Oh iya, tulisan ini akan masih bersambung,
saya juga akan cerita proses belajar yang lain setelah si anak mahir menggunakan 100 magic words ini. Tetapi tentu saja…akan sedikit butuh waktu.

Selamat belajar kawan 
:)



Friday, September 6, 2013

Tentang belajar membaca (2)

7:33:00 AM 5 Comments
Duluuuuu sekali, saya pernah nulis tentang bagaimana saya menghentikan ambisi saya supaya Fawwaz bisa membaca di usia terlalu dini. (bisa ditengok cerita lengkapnya disini).
Karena nyatanya memang bisa membaca di usia 3 tahun itu adalah ambisi terparah untuk putra saya.
Untungnya, saya punya banyak teman yang bisa "mengingatkan" saya via tulisan-tulisan mereka, dan saya merasa sangat bersyukur untuk itu.

Dan sekarang, tiga tahun kemudian, tanpa diduga, Fawwaz bisa lancar membaca dan menulis dalam dua bahasa. Suka membaca setiap potongan kertas yang ada, dan juga tampaknya mulai tumbuh menjadi seorang book-lover seperti ibunya. Menakjubkan ya?
Nah disini kewajiban saya untuk juga berbagi, kronologi kemajuan membaca Fawwaz.
Semoga bisa bermanfaat, paling enggak menepis kegalauan para ibu yang menemukan putra-putri belum juga bersemangat belajar membaca. It is totally fine ibu-ibu. Sekarang saya bener-bener percaya kalau otak si kecil memang perlu waktu untuk"menelan" informasi berupa susunan huruf, tugas kita hanyalah meng-introdusi bahwa susunan huruf itu punya makna dan rupanya sangat menyenangkan untuk membacanya.




Usia 4-5 tahun.
Iseng-iseng saya beli buku yang judulnya kurang lebih: 'panduan membaca untuk si kecil'.
beberapa hari memperkenalkan Fawwaz dengan metode membaca di buku itu, yang saya perhatikan adalah: Fawwaz sama sekali belum sadar kalau rangkaian ejaan kata itu punya makna. Maka saya hentikan membaca buku panduan belajar membaca itu. Dan saya balik lagi ke acara semula, lebih banyak bercerita dari buku, tentang apa saja.
Hafalan Fawwaz dikala itu lebih banyak tentang surat-surat pendek saja.
Selebihnya adalah menggambar, berhitung sederhana, dan spelling huruf (bukan membaca).

Masalah mulai timbul ketika di sekolah TK-nya di Kampung halaman saya (kota Jember_Jawa timur).
Bu guru meminta Fawwaz menulis satu halaman penuh.
Dan karena sebelumnya saya memang belum pernah mengajarkan bagaimana cara menulis, jadilah tulisan Fawwaz macam cakar anak ayam yang baru lahir, besar-kecil, tebal-tipis, pun nggak juga bisa dibilang lurus. Saya inget betul gimana utinya, ibu-saya, stress bukan kepalang melihat tulisan anak-saya. Maklum, kalau dibanding tema-temannya di TK itu, Fawwaz memang bisa dibilang nggak bisa nulis sama sekali. Tapi dengan tenang saya bilang pada ibu saya "nggak papa ma, nanti juga bagus koq tulisannya, cuma perlu latihan aja".

Sempet juga saya kursusin bahasa inggris untuk persiapan ke Brisbane, sebenernya sih yang ini supaya Fawwaz nggak bosen aja. hehehehe. Nyatanya.... kursusnya cuma bertahan 1.5 bulan.
Selama kursus pun rupanya dia lebih banyak menikmati bersosialisasi dengan teman-teman baru ketimbang 'bahasa inggrisnya'. Tak apalah, pikir saya.
Oh iya, Fawwaz sempat menikmati dua sekolah semasa TK.
Sekolah pertama di Bogor, dan sekolah kedua di Jawa Timur.
Nah selama itu pula saya punya catatan pribadi tentang perkembangan 'akademik' Fawwaz, buku catatan ini saya bikin sendiri, bukan dari sekolah. Mengapa? karena sejujurnya, saya sama sekali nggak merasa puas dengan "rapor" Fawwaz dari sekolah. (Catet: saya emang tipe ibu-ibu rewel ya :p )
Satu catatan besar saya dikala itu: walau dengan bombardir pe-er menulis, belajar membaca dan berhitung setiap harinya (dan menurut saya itu kebanyakan untuk takaran anak TK), saya belum melihat tanda-tanda Fawwaz mulai pengen membaca kalimat.
Mulailah saya panik dikit mengingat Fawwaz bentar lagi mau SD, baca sana-baca sini, cari-cari metode supaya Fawwaz paling enggak tertarik sama bentuk benda segi empat yang namanya BUKU.
Dia minta buku apapun, saya OK-in.
Hasilnya? dia tetep belum bisa baca, hahahhahah....

Usia 5-6 tahun.
Tepat di usia Fawwaz 5.5 tahun, kami sekeluarga hijrah ke Brisbane, Australia.
Sejujurnya, dalam hati, saya ngerasa seperti ngasih pil pahit buat anak saya.
Saya aja udah kursus bahasa inggris 6 bulan masih jiper ngomong sama bule di hari-hari pertama, lah apalagi anak saya?
Duuuuuuuh.......
Tapi rupanya, Fawwaz jauh lebih tangguh dari pada ayah-ibunya. Setelah 3 hari nggak berucap sepatah katapun, hari ke-empat disekolah he started making friends. Oh senangnya :D.
Dan ini yang menarik, saya sempet "curhat" kekhawatiran saya sama ibu guru wali kelas, dan apa tanggapan beliau? "it doesn't matter, he would be good". Dan beliau tampak sangat yakin dengan setiap muridnya kalau mereka semua adalah juara.

Sejak awal, Fawwaz dibekali sebuah buku yang judulnya "SIGHT WORDS" book.
Buku ini berisi potongan-potongan kata yang sangat lazim digunakan dalam bahasa inggris. Lupakan grammar, ini adalah pelajaran mengenal kata. Kapan-kapan saya akan upload halaman-demi halaman buku sight words ini (karena ternyata hari ini folder Fawwaz lagi dikumpulin di sekolah :D )
Dimulai dari simple word macam HE, SHE, MOM, DAD, IS de elel, sampai level agak susah.
Daaan.... saya rasa ini yang paling penting: Fawwaz dapat pinjaman buku 4 buah buku cerita setiap minggu dari sekolah.
Dan setiap minggu para orang tua wajib lapor perihal proses membaca buku cerita itu.
Buku-buku ini juga diberi label sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari level 1 sampai berapa ya? saya belum tau (sampai sekarang Fawwaz ada di level 14).
Dari buku ini Fawwaz mulai suka membaca jenis
buku lain selain twaddle books.
Level satu berisi dua-tiga kata disetiap halaman. misalnya kalo dihalaman pertama tertulis :Apple is red. maka dihalaman kedua akan tertulis : tomato is red.
Bosan ya? memang, karena tujuannya supaya anak-anak kenal kata : RED.
dan sekali mereka nemu kata "red" di halaman berikutnya, mereka punya rasa percaya diri yang besar kalau kata itu harus dibaca "red". prinsipnya adalah : mengulang.
So, di setiap buku, paling enggak anak-anak akan kenal satu kosa kata. Minimal.
kalau bisa 3-4 kata, itu bonus.
Rupa-rupanya karena rajinnya bu guru meminjami anak saya buku-buku ini, mau nggak mau Fawwaz jadi punya kebiasaan membaca buku. Paling enggak sebelum tidur.
Dan kalau saya lagi sibuk mencari-cari sesuatu informasi di sebuah buku, maka dia akan berlagak sibuk membaca buku-bukunya pula. Sambil pamer, kalau dia sudah lancar membaca satu buku. hahhaha.
pernah juga dia membantu saya menstabillo tiga halaman penuh jurnal saya pas lagi ditinggal memasak, alasannya: Supaya ibu gampang mencari kata-kata penting.
Rupanya dia tertarik ketika saya mencoret beberapa baris di paper akademik untuk tugas-tugas kuliah saya, sampai berinisiatif untuk mencoret semua lines yang ada di paper akademik itu :D.

Sejak Fawwaz ada di level 12, saya mulai ngajarin dia untuk membaca buku-buku yang ada dirumah. Buku pertama adalah "The miracle Planet". Buku tua, saya dapet gratisan. Isinya tentang bumi tentu aja, dengan gambar yang apik.
Dan tentu saja, supaya sebuah buku kelihatan menarik, orang tua atau pendidik perlu "melakukan translasi bahasa", dari bahasa buku yang baku ke dalam bahasa keseharian anak-anak. Gimana caranya?
Anda harus paham isi bukunya supaya bisa menjelaskan
dengan baik.
"Diary of Wimpy Kid", buku yang akhir-akhir ini ditenteng
Fawwaz kemana-mana, Supermarket, mau tidur, makan sampai
akhirnya sempet ketinggalan di sekolah .
Kalaupun kurang paham, janjikan bahwa saat senggang anak-dan orang tua bisa mencari tahu bersama-sama. Sama sekali bukan pekerjaan mudah, karena biasanya saya butuh waktu beberapa menit untuk menjelaskan ke bahasa anak-anak. Kadang juga saya dan suami butuh bantuan youtube, atau wiki map, untuk menjelaskan bagian-bagian tertentu.
Pokoknya tunjukkan setiap sisi fantastik dari buku-buku yang dibaca, walau cuman satu halaman.
Mengetahui bahwa sekarang tubuh mungilnya mulai paham akan sesuatu, bersama itu pula percaya dirinya akan tumbuh dengan sangat baik.

Beberapa minggu terakhir ini, setiap wiken, disaat ayah harus ke perpustakaan dan berkutat dengan tugas-tugas, saya cukup mengeluarkan tumpukan buku-buku untuk dibaca oleh Fawwaz, dan kadang berkarya dengan inspirasi yang datang dari buku-buku itu. Berita baiknya, dalam kurun waktu kurleb delapan bulan, dari sama sekali nol soal membaca, sekarang sudah beralih jadi seorang penikmat buku. Saya mulai menangkap kebosanan di buku-buku pinjaman dari sekolah (karena bisa dibaca dlm waktu 5 menit aja), dan akhirnya saya mulai memperkenalkan dia dengan buku-buku yang keliahtannya agak berat, nggak ada paksaaan untuk harus dibaca setiap lembar, tapi saya usahakan akan ada pelajaran berharga di setiap lembar yang dibacanya, itu aja.

Dan semoga, kebiasaan membaca ini benar-benar jadi hobi yang melekat sepanjang hidupnya.
Aamiin.

Sekian dulu ya....
semoga minggu depan saya bisa upload detail buku sight words Fawwaz...
dan bisa jadi inspirasi untuk metode belajar si buah hati

Cheers,

Friday, July 12, 2013

Parenting : Rapor

5:05:00 AM 0 Comments


Semester pertama sudah berlalu buat kami sekeluarga, dan sudah pula menerima "rapor" masing-masing. Dan rupanya anggota keluarga terkecilah yang punya rapor paling bagus, dua orang lainnya? Yaaa Alhamdulillah, nggak perfecto kayak punya si kecil sih, tapi nggak ada juga yang failed. Tetap disyukuri dapet nilai segitu ditengah kesibukan yang tiada tara menyeimbangkan hidup antara student dan orang tua.


Satu hal yang bikin saya pribadi takjub adalah saat menerima rapor mas Fawwaz, karena tadinya saya
Resah menunggu bis ke sekolah
pikir saya bakal terima satu buku, yang berisi beberapa lembar, dimana tiap semester cukup diwakili satu halaman aja. Nyatanya, rapor Fawwaz jauh dari ekspektasi. Saya menerima 8 lembar kertas A4, yang isinya kemajuan Fawwaz seorang,  diceritakan secara detail untuk setiap mata pelajaran di sekolah, yang mencakup bahasa inggris, science, matematika dan sejarah.

Dan apa yang saya baca dilembaran- lembaran itu memang begitulah putra saya adanya.


Salut .


Saya nggak yakin seorang guru bisa menulis sebanyak itu kalau dia nggak mengenal muridnya dengan baik, karena menulis rapor semacam itu bukanlah mengarang suatu cerita fiksi.
Jadi rasanya itu sih bukan rapor, tapi personal report, haha.






Anyway, tiga kali pindah sekolah,saya jadi lumayan paham bedanya sistem edukasi di Indonesia dan Australia. Sedihnya, dengan berat hati, saya akui kalau saya lebih suka membaca rapor anak saya dari produk edukasi Australia ketimbang rapor fawwaz semasa sekolah di Indonesia yang berisi angka, dan minim komentar membangun dari para guru.
Dan dengan berat hati pula, saya akui, sekolah Fawwaz yang ini punya metode belajar yang lebih FUN, akibatnya, anak-anak bisa belajar lebih banyak tanpa mereka sadar kalau mereka sedang belajar.

Saya pun belajar banyak hal disini, terutama tentang parenting, dan biasanya pula, belajarnya pun tanpa
sengaja. Seperti misalnya, saat suatu sore saya ngobrol dengan orang tua teman Fawwaz yang berasal dari Syiria. Dari beberapa kali ngobrol, saya tau kalau si ibu ini merelakan karirnya demi mengurus anak-anak. Dia pernah bersekolah di Amrik untuk belajar program bahasa Inggris, dan dulunya pun adalah seorang guru bahasa Inggris di Syiria. Dan suatu ketika, ditengah obrolan kami, tiba-tiba putranya memotong pembicaraan,
"Mommy, I know that 5 and 5 makes 11"
"Hmmmm, really?" Sahut si ibu sambil sedikit berkerut kening.
"Yeah, sure!"
"Well yea,  maybe we can count it together"
Saat itulah si ibu mengacungkan  ke-10 jarinya , dan mereka mulai berhitung bersama hingga si bocah paham kalau 10 adalah jawaban terbaik.
Situasi semacam itu pernah juga saya dapati dikelas, dan ibu guru pun menggunakan pensil sebagai media berhitung, samapai akhirnya murid bisa menemukan jawabannya sendiri.
Dari kejadian itu saya tersadar, para orang tua dan guru itu nggak pernah bilang kata "salah".
Walaupun jelas-jelas jawaban anak-anak itu tidak betul, mereka nggak semerta merta bilang, " itu salah", sebaliknya mereka berhitung bersama dan mencari jawaban pula bersama-sama. Kultur yang beda dengan tipikal sekolahan di tanah air, dimana saya beberapa kali melihat para guru saya dulu berkata "itu salah", parah2nya pernah juga nemuin guru yang bilang. "Anak koq bodoh sekali".
Hadeuuuhuh, itu bikin sakit hati walau ditujukan bukan buat saya tapi bikin saya nyeri hati dan telinga.

Pelajaran kedua adalah: Betapa seringnya saya liat orang tua dan anak bertukar kata "I love you".
Seringnya, saat mereka akan masuk kelas, si ayah atau ibu akan memeluk si anak, dan akan berbisik, 
"I love you sweetheart" dan akan berbalas "I love you too mommy". Anak anak dari kelas yang lebih tinggi punya kebiasaan yang sedikit berbeda, biasanya si anak akan melambai dari pagar sekolah sambil berteriak "love you daddy", yang dibalas lambaian dan senyum dari si ayah di seberang jalan. Sebenernya saya bukannya nggak pernah secara eksplisit bilang saya sayang putra saya, tapi biasanya momennya bukan diacara berangkat sekolah. Nah, bukannya kalau mau sekolah para orang tua justru berpesan macam-macam? 
Alih alih bilang "love you son" yang ada "belajar yang baik dan jangan nakal disekolah ya!"
Hahaha.
Sejak itu sesering mungkin saya bilang "love you son", dalam segala cuaca dan segala acara, seringnya sih sebelum tidur atau saat floor time sore hari, maka saya akan berbisik-bisik "mom and dad love you Fawwaz". Awalnya dia tampak tersipu, selanjutnya, dia akan sering sekali menulis mom and dad love Fawwaz hampir di semua story book yang dibuatnya hari itu. Pernah suatu kali, sesaat sebelum dia terlelap saya berbisik "mommy loves you", dan dia menjawab " I know
mommy, I love you too", sedetik kemudian, dia pulas sampai pagi.


Berikutnya adalah: Mudahnya mengucapkan kata 'thank you'. Kalau yang satu ini, saya dan Fawwaz benar-benar belajar dari lingkungan. Bayangkan saja, hampir setiap kali kami naik bus, saat penumpang turun, maka si penumpang ini akan berkata "thanks" pada si sopir bus, bahkan kadang dengan kalimat lengkap "thank you sir". Setiap kali bertransaksi jual beli akan terucap kata terima kasih. Dan ini berimbas pada kebiasaan Fawwaz, sekecil apapun bantuan saya mengerjakan proyek besarnya hari itu dia akan bilang "thanks mommy", bahkan kadang plus  peluk dan cium.
Dan sekarang, setiap kali turun dari bus, tanpa ragu dia akan berkata "thanks" pada sopirnya, dengan mantap dan logat Brissie yang mulai kental terdengar.
Buat saya pribadi, hal ini menyenangkan. Saya masih ingat saat dia bertanya kenapa harus bilang "thanks" pada sopir bus? Ohhhhh, saya mulai "mendongeng" tentang pentingnya menghargai apapun pekerjaan orang lain, bayangkan kalau sopir bus nya ngambek, siapa yang mau anter kita ke sekolah? Bayangkan kalau tukang roti ngambek, kita ngemil apa kalau sore? Bayangkan kalau nggak ada tukang sepatu?
Sejak itu, dia selalu bilang "thanks" almost for everything he gets, and it sounds full of respect. So proud about it! Haha.

Berbagi pengalaman di depan kelas tentang gigi
Fawwaz yang tanggal untuk pertama kalinya.
Pelajaran terakhir adalah: speak up and creativity.
Saya nggak menyangkal kalau anak-anak disini (Brisbane) kelihatannya lebih terbiasa melontarkan ide dan belajar untuk memberi penghargaan untuk pendapat orang lain sedini mungkin. Nah, yang satu ini Fawwaz belum terlalu nyaman untuk spontan melontarkan ide. Dan bu guru pun berjanji untuk meningkatkan yang satu ini semester depan, mungkin itu sebabnya kemaren saya dapet note dari ibu guru Fawwaz kalau semester depan, para murid akan punya 4 kali sesi presentasi di depan kelas, dan sangat diharapkan peran aktif orang tua menyiapkan putra-putri mereka.
Oh my! Presentasi ya? Hahahahha, saya nggak pernah kebayang presentasi di depan kelas jaman SD, wkwkwkw.
Ini sangat berbeda dengan situasi belajar-mengajar di tanah air dimana rumus yang berlaku adalah " guru selalu benar".
Dan tak dipungkiri, saya pun produk dari sistem itu, dan jadi nggak keru-keruan rasanya kalau diminta mengutarakan ide di setiap asesmen kuliah saya, heheheh.
Bahkan kemaren saat gigi depan Fawwaz tanggal untuk pertama kalinya, dengan sukacita bu guru meminta dia untuk berbagi pengalaman tentang gigi tanggalnya, dan gigi yang tanggal jadi hot topik pembicaraan di kelas hari itu. Nah ini yang saya suka, belajarnya nggak melulu dari buku, tapi dari sharing pengalaman antar siswa, lebih fun dan kena dihati anak-anak.

Tentang kreativitas, saya punya cerita yang berbeda. Suatu hari saat saya bersih-bersih rumah karena dua orang sahabat yang datang berkunjung dari Sydney dan berencana menginap di rumah, saya bernegosiasi dengan Fawwaz untuk "menyingkirkan" sebagian hasil kreativitasnya di rumah. Yang saya tunjuk adalah sekoper penuh kertas-kertas, mainan handmade nya, gambar-gambar, kardus dan entah apalagi. Setelah negosiasi yang alot dia setuju membuang beberapa kardus dan kertas.
Selebihnya dia berpesan: " please do not put all of this in the bin mommy"
"But it is a mess Fawwaz, can we packed it up?" Saya menawar.
"No mommy, this is my treasure"
Jadilah koper harta karun itu tetap teronggok di sudut sofa yang mustinya bisa jadi tempat tidur yang nyaman untuk salah satu teman saya. Anyway, untungnya si om nggak keberatan untuk tidur di karpet. Memang sejak bersekolah di sini, Fawwaz keranjingan bikin sesuatu, entah itu story book (berupa beberapa lembar kertas A4 yang direkat, digambar dan diberi tulisan membentuk alur cerita sederhana), mobil-mobilan kardus, menggambar, atau entah apalagi tergantung moodnya hari itu. Rupa-rupanya, begitulah kegiatan anak-anak seusia Fawwaz disekolah, saya pernah dapet curhatan dari seorang ibu yang juga kebingungan membereskan hasil kreatifitas si gadis kecil dirumah. Hahaha, rupanya  masalah menyimpan barang-barang hasil karya anak ini bukan cuma masalah bagi saya seorang.
Seringnya juga, si anak akan dengan mudah menemukan barang-barang penunjang kreativitas ini di
toko-toko dan mupeng. Jadilah saya juga nyetok beberapa barang ini dirumah, wiggly eyes, pompom ball, aneka stick berwarna, lem, selotip, kertas warna warni, sampai kardus biskuit, tempat telur dr supermaket dan entah apalagi. Rumah saya hampir mirip rumah kardus.
Suatu kali pas berkunjung kedapur dan nemu mangkuk plastik, Fawwaz minta ijin supaya mangkuk saya bisa dipinjam sementara  karena menurutnya itu akan jadi perahu pirates yang keren. Sejam kemudian, dia sudah asyik dengan koper dan harta karun di dalamnya, plus mangkuk plastik dari dapur yang tiba-tiba udah nggak berbentuk mangkuk lagi karena penuh ornamen disana-sini.
Anyway, sebenernya kalau liat rumah berantakan saya pengen marah, tapi itulah konsekwensi dari aturan nonton tv 2-3 jam sehari dan no games yg berlaku dirumah, harus siap dengan rumah yang hampir selalu berserakan hasil kreativitas si anak.

Kesimpulannya: hindari kata salah, dan biasakan kata terima kasih, dan perbanyak pujian untuk setiap karya atau capaian proses belajarnya. Nggak perlu berlebihan memuji sih, secukupnya aja, sesuai takaran.
Satu lagi, Saya bukan praktisi parenting.
Yang saya share disini adalah pengalaman pribadi aja, yang saya yakin cuma bisa jadi pengingat bagi kita sebagai orang tua, karena pada dasarnya, semua yang saya tulis disini pasti ada di buku parenting manapun di dunia.
So tetap semangat ya parents!


Thursday, June 27, 2013

SyDNEy-part 2 (emotionally engaged)

7:27:00 AM 4 Comments
Seminggu sudah menyusuri Sydney, saya memang terpesona.
karena makanannya, 
karena kereta api dua lantainya,
karena Opera House-nya,
dan karena rasa kopi-nya :D

Tapi, kalau mau dibanding-banding, saya tetap lebih suka Brisbane kalau ngomongin tentang taman. Suatu kali pernah saya dan beberapa teman ngobrol tentang Australia, dan temen saya bilang, kalau Brisbane itu kota seribu taman (hampir setiap 500 meter anda akan bisa menemukan yang namanya "Park" dan hampir semuanya ramah anak, alias punya fasilitas bermain yang aman untuk keluarga), dan punya CityCat yang patut jadi kebanggaan, hahhaha.
Eniwai, saya nggak mau cerita kurang lebihnya tiap kota di Australia, tapi kali ini saya lebih mau cerita tentang romansa saya, dan mungkin ini bisa dirasakan saya seorang tentang kota ini.




Setelah beberapa hari tinggal di seputaran Macquarie Uni, kami pindah ke Bondi.
Dan jujur, langsung suka sama suasana Bondi Beach, mungkin karena saya dateng pas musim dingin ya? jadinya pantainya sepi dan berasa milik sendiri, :p
Dapet room di salah satu apartemen yang deket banget sama pantai, bagusnya adalah bisa main sesuka hati ke pantai, tapi nggak bagusnya, kadang kalau malam pas angin bertiup......serem, hahhaah.

Nah, suatu saat jalan-jalan ke Watson Bay,
Dan lihat satu sudut dipantai ini yang bikin saya terdiam sebentar.
Rasanya saya pernah lihat sudut pantai yang ini, tapi dimana ya? lama berpikir, akhirnya saya ingat dan ingatan ini bikin saya ketawa sendiri.
Saya ingat betul pernah menggambar pantai yang begini waktu saya masih di Sekolah Dasar.
Sejak kecil, saya suka menyanyi, suka menggambar dan sangat suka artwork.
Kecintaan saya dengan hal-hal ini sama besarnya seperti saya suka matematika, IPA dan sejarah.
Nah, waktu itu, di satu sesi pelajaran menggambar bebas, hampir seluruh kelas menggambar gunung, matahari, jalan dan sawah.
Saya Bosan.
Dan yang saya gambar saat itu adalah tebing tinggi yang terjal, dengan laut, dan pepohonan.
Tapi tentu saja, dengan keterbatasan teknik dan jari-jari yang kurang terlatih, gambar saya waktu itu nggak seindah ini. Tapi dikepala saya, mestinya terlihat seperti tebing terjal di Watson Bay.

Sudut Watson Bay yang mempesona dan bertahun-tahun rupanya tersimpan di kepala sebagai sketsa.
Dan ketika menemukan gambar imajinasi itu dalam bentuk riil di depan itu, saya hanya berujar "Alhamdulillah, Indahnya"

Dan perjalanan berlanjut dengan numpang perahu dari Watson Bay yang damai dan sangat direkomendasikan untuk berdiam diri menuju Circular Quay di pusat kota.
Mengitari Opera House lagi untuk kesekian kali.
Dan akhirnya memutuskan untuk naik kereta mengelilingi botanical garden dengan $25 untuk 2 orang dewasa dan satu anak-anak.
Para penumpang kereta dibawa berkeliling selama kurang lebih 25 menit, dan kami diperbolehkan turun di beberapa tempat untuk melihat sekeliling dan naik kereta berikutnya sampai akhir tujuan rute kereta mini.

Suami memutuskan untuk berhenti sejenak di tengah Kebun raya.
Dimana ada Garden Shop, Cafe dan paling dekat dengan bunga-bunga favorit saya.
Saat berkeliling, saya hampir berteriak senang ketika saya melihat bunga ini.

Setelah googling kesana kemari, baru tau kalau namanya Snow Drop. Simple dan cantik.
Bunga yang tadinya saya pikir cuman ada dikepala saya, ternyata nyata.
Gambarnya diambil dari google, karena foto yang saya buat sendiri nggak bisa menampilkan betapa cantik dan sederhanyanya Snow Drop ini. 
Bunga mungil berwarna putih ini sering saya lukis di kertas-kertas karya saya.
Dan hampir yakin kalau saya belum pernah melihat benda real-nya di tanah air saya.
Dulu sih saya sering berpikir, alangkah indahnya kalau ada bunga seperti ini, cantik dan simple. Tapi sayang, saya belum pernah melihatnya kecuali lewat goresan pensil diatas kertas sendiri, jadi mungkin, cuma ada di angan-angan. :D
Makanya merasa bahagia, pas bisa nemu benda ORI-nya, hehheheh.

"I wish" karya Arthur Fleischmann.
Perasaan yang sama juga muncul ketika melihat beberapa spot yang lain di seputaran Sydney Botanical Garden. Misalnya seperti karya yang ini ("I wish"). 
Emosi si pemahat benar-benar bisa dirasa, karena saya pun pernah melukis vignette dan pernah menggambar gadis manis dengan ekspresi dan emosi yang serupa.
Memang kalau lagi nggambar, biasanya saya melibatkan emosi tertentu.
Dan itu akan terlihat jelas dari hasil karya saya.


Di akhir perjalanan, sambil tertawa-tawa saya ceritakan semua luapan emosi saya sama si Ayah, yang cuman bisa merespon sambil senyum-senyum. 
Saya sih bukan penganut Dejavu.
Tapi sepertinya, lewat semua gambar-gambar itu saya melukiskan semua mimpi-mimpi saya.
Atau mungkin, saking banyaknya buku cerita yang dulu saya baca dan membentuk imajinasi saya tentang banyak hal yang akhirnya berubah jadi angan-angan, mimpi sekaligus cita-cita. Entahlah.

Rasanya pengen terbang ke rumah di kampung halaman dan ngeliat gambar-gambar saya lagi.
yang bertahun lalu, masih disimpan dengan rapi oleh mama saya.
Sampai saya heran, "kenapa disimpan ma?"
"karena mama suka", jawab ibu saya singkat.
Semoga masih ada, dan sekarang pengen rasanya melihat gambar-gambar itu lagi.
Dan mencari tau, mereka-reka, what's next?

Gambar dan lukisan yang rupanya lebih banyak menuangkan mimpi-mimpi saya yang mungkin ragu saya ungkap atau terlalu malu untuk diucap.
Dan mungkin, lain hari saya harus lebih banyak menggambar lagi, 
melukiskan mimpi-mimpi saya yang begitu banyaknya, bekerja keras mewujudkannya. 
Hingga suatu saat saya bisa duduk dengan ditemani secangkir kopi yang enak, untuk melihat semua  gambar (baca:impian) saya satu persatu terwujud.

And maybe, someday; 
I will have a favourable moment, to tell a story as a grandma to my lovely grand son and daughter, 
and let them free drawing their own dreams.
Pesan moralnya adalah: biarpun gambar anda jelek (itu cuman masalah teknik), yang penting, tetaplah menggambar. Dan simpan gambarnya dikepala. Semoga jadi kenyataan.
Cheers
:D

Tuesday, June 25, 2013

SyDNEY- part 1

7:44:00 AM 0 Comments
Yeap, setelah akhirnya direncanakan sejak jauh-jauh hari,
20 June kemaren resmilah kami sekeluarga bertolak ke Sydney.
fulfilling one of our dream
Di bandara, ketemu sama pasangan pengantin baru (tante Karin-Om Indra) yang lagi juga berencana keliling beberapa tempat di Australia mumpung liburan, yang jadi langsung bertukar cerita tentang tugas-tugas plus tukeran info tempat-tempat menarik yang bisa didatengin.
Dan karena penerbangan yang sempet delay selama hampir 1 jam, jadilah kongkow di Bandara sampe agak mati gaya, nggak parah sih, cuman Fawwaz sempet ngaku "I am boring mommy" katanya sambil ndelosor di tempat duduk. 








Mejeng dulu di bandara, sebelum bosen :P, kali ini patner potonya bukan Fawwaz, tapi temen hidup sehari-hari, heheheh....
Mendarat di Sydney bukan berarti bisa langsung leyeh-leyeh di tempat tidur, karena ternyata ketinggalan kereta terakhir dari central station yang akan nganter kita ke Macquarie Uni station, jadilah naek taxi saja, untung gak jauh-jauh, hampir jam 1 pagi waktu nyampe di tempat Om Adit, yang nawarin kamarnya buat kita sekeluarga. Untungnya, akomodasi ini tuh penuh dengan para bujang yang sepertinya punya kebiasaan tidur malem, jam segitu aja mereka masih segar bugar, hehehehehe.
Fawwaz pun langsung engaged sama om-om ini. 

Bangun tidur, sama-sama belum mandi, dan entah mereka nonton apa sampai asik begini .

Main Gitar :P
Esok harinya, Sydney mendung, tapi nggak menyurutkan niat buat jalan-jalan dong.
Hari pertama langsung jalan ke kota. 
Menyusur jalan kota Sydney, saat itulah saya koq merasa beneran ada di kota besar. Kalau dibandingin sama Brisbane (katanya sih Bne itu kota paling padat nomor tiga di Oz), Hmmm, merasa seperti orang kampung yang terpesona dengan semua gedung tua nan cantik di pusat kota. Yang menarik buat saya memang bukan gedung-gedung tinggi yang minimalis dan moderen, tapi justru yang bentuknya mirip-mirip kastil. Brisbane indah, meski agak sepi, tapi Sydney?? wah terpesona dong dengan semua fasilitasnya, tata kotanya, makanannya, hahahah, karena makanan halal ini termasuk salah satu issue di Brisbane, alias agak susah. Saya kan doyan makan. Jadi bertebarannya warung makanan Halal di Sydney itu seperti surga, pun saat bertransaksi teteup bisa pakai bahasa Indonesia :D #masih terpesona.

Bertahun yang lalu sering kali ngobrol sama Ayah tentang berfoto berdua di tempat ini, and the dream comes true, plus fotografer cilik yang dengan sukarela motoin Ayah-ibunya, thanks Sweetheart :*



Hari kedua, Sydney mulai diguyur hujan gerimis, dan dingin mulai terasa mengigit. Tapi belum kapok juga. Siang harinya, begitu hujan sedikit reda, pergi lagi ke tengah kota. Dan sempat mampir di Paddy's, eh ya....saya beneran takjub ada di tempat ini, percaya gak, berasa seperti ada di tanah abang. Harganya iyalah jelas lebih murce ketimbang yang ada di supermarket, dan anda sekalian bisa bargain disini. Jadi silahkan aja tawar-menawar. Pas lagi nawar mainan buat mas Fawwaz, dari harga $18 saya langsung nawar jadi $12, Ha? saya langsung dapet pelototan dari si abang penjual, rupanya kebiasaan nawar harga terendah pas masih sering belanja di Tanah Abang belom hilang, wkwkwkwkw.
Akhirnya saya perhalus bahasanya: "In reasonable price, how much you can give me for this?" 
Ujungnya, cuma bisa turun $2 aja, tapi mungkin kalo saya ngotot $15 bakal dikasih juga kali ya? Ah entahlah...
oh ya, satu lagi, kalau beruntung, anda juga bisa bertransaksi dalam bahasa Indonesia lho :D

Yang Seru juga ketika (di)sempetin janjian sama temen-temen sekelas EAP Jakarta dulu. Senangnya!!
Ajaib sekali setelah sekelas terpisah-pisah di Universitas impian masing-masing, ternyata bisa ketemu lagi. Yang dulu biasanya berbagi segala macem kabar berita di kelas, terpisah beberapa waktu dan akhirnya bisa ketemu lagi dan berbagi ledekan plus curhatan lagi. Walaupun nggak lengkap sekelas, tetap seneng, karena kita punya beberapa orang anggota kelas tambahan hahahah.

Nah dua orang 6M4, dan beberapa orang anggota kelas tambahan :P

Cheers :D

Ibu konjen Brisbane & Nyonya Konjen Sydney (katanya sih :D)
Idola baru mas Fawwaz, tante Sisi yang pintar menari.
Yippiee :D


Belajar terbang sama pakdhe Triono :p
Merpati Liar Tapi jinak lho, cantik pula. 
Jalan-jalan hari itu ditutup pake acara seremony poto bersama di depan Opera House (lagi).
dan pisahan di Circular Quay Sydney karena sudah menjelang malam.
Gerimis turun lagi.
Kebasahan lagi.
Tired, Freezing, yet Happy.

Muah.
Bunch of kisses from Sydney.