Follow Us @soratemplates

Wednesday, April 17, 2013

Mirroring

7:18:00 AM 0 Comments

Suatu ketika, disaat sedang kerja kelompok dengan teman saya dikampus, saya cerita kejadian di rumah pagi itu. Saya bilang kalau hari itu entah kenapa anak saya mogok sarapan.

Ketika ditanya kenapa?
Cuman nggak pengen makan……..
Olala…..sahabat baru saya ini langsung geleng2 kepala, sementara saya cuman senyum-senyum aja.
Maklum siiih, karena memang si cantik ini belum merencanakan punya anak walau sudah menikah, jadi mungkin memang belum sadar kalau punya anak itu berarti kudu siap dengan banyak hal diluar dugaan. …….heheheh.





Dan lalu beberapa saat kemudian, saat makan siang, kami pergi ke resto halal asia di dekat kampus. Sempat bingung, mau naik bis atau jalan kaki aja ya? akhirnya memutuskan untuk jalan kaki saja, karena bis yang ditunggu tak kunjung datang.
Naaaah, ditengah sedang berjalan kaki, dan sudah menempuh separuh perjalanan, lewatlah bis yang tadi ditunggu-tunggu. Tapi tentu saja, karena disini bis nggak boleh berhenti disembarang tempat, maka bis itu berlalu dengan cueknya.
Dan reflek saya bilang: “hey, look, that is the bus”
Dan dia senyum-senyum aja sih. Lalu obrolan seputar kampus pun berlanjut.
Satu dua menit kemudian, lewatlah bis yang lain, yang harusnya juga bisa mengantar kami ke resto asia tujuan.
“Dinora look, the second bus” kata saya sambil cengengesan.
Akhirnya dia dengan santai bilang,” I guess, your son get that attitude from you tika…”.
Hahahahahahah, sejenak saya mikir, tingkah saya yang mana ya? Hooooh, agak bawel ya? , mungkin siih, dalam hati saya mengiyakan, hihihhihi………

Hari itu, saya pulang dari kampus dengan berjanji kalau saya akan belajar lebih banyak lagi tentang anak saya, yang mungkin memang adalah cerminan dari diri saya, ayahnya, saudaranya, guru-gurunya, dan termasuk teman-temannya.

Renungan di malam harinya mengantarkan saya ke cerita masa lalu dari beberapa teman semasa sekolah dulu. Beberapa teman saya “sengaja” bikin masalah, sebagai bentuk protes untuk orang tua.
Penyebabnya sih beragam, mulai dari orang tua yang terlalu sibuk, perceraian, nggak ada komunikasi, sampai yang kelihatannya dilakukan tanpa sadar oleh banyak orang tua, yaitu membedakan satu anak dengan yang lain.
Nah, kelihatannya sepele, tapi sebenernya itu bukan hal kecil untuk anak-anak. Saya punya teman yang akhirnya dapet cap “kurang baik” dari lingkungan tempat tinggalnya, walau dia unggul dari beberapa sisi lain. Dia protes “hanya” karena dia merasa paling nggak cantik, dan merasa paling disisihkan di keluarga. Beberapa kali terlontar ucapan, “orang tuaku hanya memperdulikan kakakku”.
Padahal kalo dilihat-lihat temen saya ini bisa dibilang pintar bukan main. Dan suatu saat dia pun curhat, sebenernya dia berusaha keras belajar, untuk menutupi kekurangannya di mata orang tuanya. Karena dia nggak cantik, nggak terkenal, seperti kakak-kakaknya, dia berusaha menebus semuanya dengan belajar keras, demi membuat orang tuanya bangga akan kehadirannya di dunia, seperti mereka bangga pada kakak-kakaknya. Tapi sayangnya si orang tua nggak pernah menyadari hal ini. Ironis yaaa….. sedih bukan main saya kalau inget cerita itu. Tapi syukurlah, sekarang dia hidup lebih dari cukup, tapi sayangnya masih tercipta jarak dengan orang tuanya, dan cap “kurang baik” itupun terus melekat.

Nah, sejak itu saya belajar satu hal. Anak yang katanya nggak behave, bisa jadi sebenernya adalah korban, bukan pelaku. Mereka cuman produk dari nggak seimbangnya perhatian dalam keluarga. Warning yang cukup serius untuk para orang tua dengan anak lebih dari satu orang.

untuk kasus mogok makan dipagi hari itupun, saya sadar. Saya buru-buru karena deadline beberapa tugas kuliah sekaligus. Terselip perasaan bersalah. Maka sorenya, saya berjanji untuk minta maaf untuk tingkah laku saya dipagi hari yang mungkin nggak menyenangkan karena terburu waktu.
Nggak diduga, sepulang sekolah hal pertama yang dilakukan putra saya adalah menghampiri saya dan bilang “ibu, aku minta maaf”.

Ah, rasanya saya harus belajar satu hal lagi dari anak saya, yaitu untuk mudah minta maaf.