Follow Us @soratemplates

Friday, July 12, 2013

Parenting : Rapor



Semester pertama sudah berlalu buat kami sekeluarga, dan sudah pula menerima "rapor" masing-masing. Dan rupanya anggota keluarga terkecilah yang punya rapor paling bagus, dua orang lainnya? Yaaa Alhamdulillah, nggak perfecto kayak punya si kecil sih, tapi nggak ada juga yang failed. Tetap disyukuri dapet nilai segitu ditengah kesibukan yang tiada tara menyeimbangkan hidup antara student dan orang tua.


Satu hal yang bikin saya pribadi takjub adalah saat menerima rapor mas Fawwaz, karena tadinya saya
Resah menunggu bis ke sekolah
pikir saya bakal terima satu buku, yang berisi beberapa lembar, dimana tiap semester cukup diwakili satu halaman aja. Nyatanya, rapor Fawwaz jauh dari ekspektasi. Saya menerima 8 lembar kertas A4, yang isinya kemajuan Fawwaz seorang,  diceritakan secara detail untuk setiap mata pelajaran di sekolah, yang mencakup bahasa inggris, science, matematika dan sejarah.

Dan apa yang saya baca dilembaran- lembaran itu memang begitulah putra saya adanya.


Salut .


Saya nggak yakin seorang guru bisa menulis sebanyak itu kalau dia nggak mengenal muridnya dengan baik, karena menulis rapor semacam itu bukanlah mengarang suatu cerita fiksi.
Jadi rasanya itu sih bukan rapor, tapi personal report, haha.






Anyway, tiga kali pindah sekolah,saya jadi lumayan paham bedanya sistem edukasi di Indonesia dan Australia. Sedihnya, dengan berat hati, saya akui kalau saya lebih suka membaca rapor anak saya dari produk edukasi Australia ketimbang rapor fawwaz semasa sekolah di Indonesia yang berisi angka, dan minim komentar membangun dari para guru.
Dan dengan berat hati pula, saya akui, sekolah Fawwaz yang ini punya metode belajar yang lebih FUN, akibatnya, anak-anak bisa belajar lebih banyak tanpa mereka sadar kalau mereka sedang belajar.

Saya pun belajar banyak hal disini, terutama tentang parenting, dan biasanya pula, belajarnya pun tanpa
sengaja. Seperti misalnya, saat suatu sore saya ngobrol dengan orang tua teman Fawwaz yang berasal dari Syiria. Dari beberapa kali ngobrol, saya tau kalau si ibu ini merelakan karirnya demi mengurus anak-anak. Dia pernah bersekolah di Amrik untuk belajar program bahasa Inggris, dan dulunya pun adalah seorang guru bahasa Inggris di Syiria. Dan suatu ketika, ditengah obrolan kami, tiba-tiba putranya memotong pembicaraan,
"Mommy, I know that 5 and 5 makes 11"
"Hmmmm, really?" Sahut si ibu sambil sedikit berkerut kening.
"Yeah, sure!"
"Well yea,  maybe we can count it together"
Saat itulah si ibu mengacungkan  ke-10 jarinya , dan mereka mulai berhitung bersama hingga si bocah paham kalau 10 adalah jawaban terbaik.
Situasi semacam itu pernah juga saya dapati dikelas, dan ibu guru pun menggunakan pensil sebagai media berhitung, samapai akhirnya murid bisa menemukan jawabannya sendiri.
Dari kejadian itu saya tersadar, para orang tua dan guru itu nggak pernah bilang kata "salah".
Walaupun jelas-jelas jawaban anak-anak itu tidak betul, mereka nggak semerta merta bilang, " itu salah", sebaliknya mereka berhitung bersama dan mencari jawaban pula bersama-sama. Kultur yang beda dengan tipikal sekolahan di tanah air, dimana saya beberapa kali melihat para guru saya dulu berkata "itu salah", parah2nya pernah juga nemuin guru yang bilang. "Anak koq bodoh sekali".
Hadeuuuhuh, itu bikin sakit hati walau ditujukan bukan buat saya tapi bikin saya nyeri hati dan telinga.

Pelajaran kedua adalah: Betapa seringnya saya liat orang tua dan anak bertukar kata "I love you".
Seringnya, saat mereka akan masuk kelas, si ayah atau ibu akan memeluk si anak, dan akan berbisik, 
"I love you sweetheart" dan akan berbalas "I love you too mommy". Anak anak dari kelas yang lebih tinggi punya kebiasaan yang sedikit berbeda, biasanya si anak akan melambai dari pagar sekolah sambil berteriak "love you daddy", yang dibalas lambaian dan senyum dari si ayah di seberang jalan. Sebenernya saya bukannya nggak pernah secara eksplisit bilang saya sayang putra saya, tapi biasanya momennya bukan diacara berangkat sekolah. Nah, bukannya kalau mau sekolah para orang tua justru berpesan macam-macam? 
Alih alih bilang "love you son" yang ada "belajar yang baik dan jangan nakal disekolah ya!"
Hahaha.
Sejak itu sesering mungkin saya bilang "love you son", dalam segala cuaca dan segala acara, seringnya sih sebelum tidur atau saat floor time sore hari, maka saya akan berbisik-bisik "mom and dad love you Fawwaz". Awalnya dia tampak tersipu, selanjutnya, dia akan sering sekali menulis mom and dad love Fawwaz hampir di semua story book yang dibuatnya hari itu. Pernah suatu kali, sesaat sebelum dia terlelap saya berbisik "mommy loves you", dan dia menjawab " I know
mommy, I love you too", sedetik kemudian, dia pulas sampai pagi.


Berikutnya adalah: Mudahnya mengucapkan kata 'thank you'. Kalau yang satu ini, saya dan Fawwaz benar-benar belajar dari lingkungan. Bayangkan saja, hampir setiap kali kami naik bus, saat penumpang turun, maka si penumpang ini akan berkata "thanks" pada si sopir bus, bahkan kadang dengan kalimat lengkap "thank you sir". Setiap kali bertransaksi jual beli akan terucap kata terima kasih. Dan ini berimbas pada kebiasaan Fawwaz, sekecil apapun bantuan saya mengerjakan proyek besarnya hari itu dia akan bilang "thanks mommy", bahkan kadang plus  peluk dan cium.
Dan sekarang, setiap kali turun dari bus, tanpa ragu dia akan berkata "thanks" pada sopirnya, dengan mantap dan logat Brissie yang mulai kental terdengar.
Buat saya pribadi, hal ini menyenangkan. Saya masih ingat saat dia bertanya kenapa harus bilang "thanks" pada sopir bus? Ohhhhh, saya mulai "mendongeng" tentang pentingnya menghargai apapun pekerjaan orang lain, bayangkan kalau sopir bus nya ngambek, siapa yang mau anter kita ke sekolah? Bayangkan kalau tukang roti ngambek, kita ngemil apa kalau sore? Bayangkan kalau nggak ada tukang sepatu?
Sejak itu, dia selalu bilang "thanks" almost for everything he gets, and it sounds full of respect. So proud about it! Haha.

Berbagi pengalaman di depan kelas tentang gigi
Fawwaz yang tanggal untuk pertama kalinya.
Pelajaran terakhir adalah: speak up and creativity.
Saya nggak menyangkal kalau anak-anak disini (Brisbane) kelihatannya lebih terbiasa melontarkan ide dan belajar untuk memberi penghargaan untuk pendapat orang lain sedini mungkin. Nah, yang satu ini Fawwaz belum terlalu nyaman untuk spontan melontarkan ide. Dan bu guru pun berjanji untuk meningkatkan yang satu ini semester depan, mungkin itu sebabnya kemaren saya dapet note dari ibu guru Fawwaz kalau semester depan, para murid akan punya 4 kali sesi presentasi di depan kelas, dan sangat diharapkan peran aktif orang tua menyiapkan putra-putri mereka.
Oh my! Presentasi ya? Hahahahha, saya nggak pernah kebayang presentasi di depan kelas jaman SD, wkwkwkw.
Ini sangat berbeda dengan situasi belajar-mengajar di tanah air dimana rumus yang berlaku adalah " guru selalu benar".
Dan tak dipungkiri, saya pun produk dari sistem itu, dan jadi nggak keru-keruan rasanya kalau diminta mengutarakan ide di setiap asesmen kuliah saya, heheheh.
Bahkan kemaren saat gigi depan Fawwaz tanggal untuk pertama kalinya, dengan sukacita bu guru meminta dia untuk berbagi pengalaman tentang gigi tanggalnya, dan gigi yang tanggal jadi hot topik pembicaraan di kelas hari itu. Nah ini yang saya suka, belajarnya nggak melulu dari buku, tapi dari sharing pengalaman antar siswa, lebih fun dan kena dihati anak-anak.

Tentang kreativitas, saya punya cerita yang berbeda. Suatu hari saat saya bersih-bersih rumah karena dua orang sahabat yang datang berkunjung dari Sydney dan berencana menginap di rumah, saya bernegosiasi dengan Fawwaz untuk "menyingkirkan" sebagian hasil kreativitasnya di rumah. Yang saya tunjuk adalah sekoper penuh kertas-kertas, mainan handmade nya, gambar-gambar, kardus dan entah apalagi. Setelah negosiasi yang alot dia setuju membuang beberapa kardus dan kertas.
Selebihnya dia berpesan: " please do not put all of this in the bin mommy"
"But it is a mess Fawwaz, can we packed it up?" Saya menawar.
"No mommy, this is my treasure"
Jadilah koper harta karun itu tetap teronggok di sudut sofa yang mustinya bisa jadi tempat tidur yang nyaman untuk salah satu teman saya. Anyway, untungnya si om nggak keberatan untuk tidur di karpet. Memang sejak bersekolah di sini, Fawwaz keranjingan bikin sesuatu, entah itu story book (berupa beberapa lembar kertas A4 yang direkat, digambar dan diberi tulisan membentuk alur cerita sederhana), mobil-mobilan kardus, menggambar, atau entah apalagi tergantung moodnya hari itu. Rupa-rupanya, begitulah kegiatan anak-anak seusia Fawwaz disekolah, saya pernah dapet curhatan dari seorang ibu yang juga kebingungan membereskan hasil kreatifitas si gadis kecil dirumah. Hahaha, rupanya  masalah menyimpan barang-barang hasil karya anak ini bukan cuma masalah bagi saya seorang.
Seringnya juga, si anak akan dengan mudah menemukan barang-barang penunjang kreativitas ini di
toko-toko dan mupeng. Jadilah saya juga nyetok beberapa barang ini dirumah, wiggly eyes, pompom ball, aneka stick berwarna, lem, selotip, kertas warna warni, sampai kardus biskuit, tempat telur dr supermaket dan entah apalagi. Rumah saya hampir mirip rumah kardus.
Suatu kali pas berkunjung kedapur dan nemu mangkuk plastik, Fawwaz minta ijin supaya mangkuk saya bisa dipinjam sementara  karena menurutnya itu akan jadi perahu pirates yang keren. Sejam kemudian, dia sudah asyik dengan koper dan harta karun di dalamnya, plus mangkuk plastik dari dapur yang tiba-tiba udah nggak berbentuk mangkuk lagi karena penuh ornamen disana-sini.
Anyway, sebenernya kalau liat rumah berantakan saya pengen marah, tapi itulah konsekwensi dari aturan nonton tv 2-3 jam sehari dan no games yg berlaku dirumah, harus siap dengan rumah yang hampir selalu berserakan hasil kreativitas si anak.

Kesimpulannya: hindari kata salah, dan biasakan kata terima kasih, dan perbanyak pujian untuk setiap karya atau capaian proses belajarnya. Nggak perlu berlebihan memuji sih, secukupnya aja, sesuai takaran.
Satu lagi, Saya bukan praktisi parenting.
Yang saya share disini adalah pengalaman pribadi aja, yang saya yakin cuma bisa jadi pengingat bagi kita sebagai orang tua, karena pada dasarnya, semua yang saya tulis disini pasti ada di buku parenting manapun di dunia.
So tetap semangat ya parents!


No comments: