Follow Us @soratemplates

Friday, September 6, 2013

Tentang belajar membaca (2)

7:33:00 AM 5 Comments
Duluuuuu sekali, saya pernah nulis tentang bagaimana saya menghentikan ambisi saya supaya Fawwaz bisa membaca di usia terlalu dini. (bisa ditengok cerita lengkapnya disini).
Karena nyatanya memang bisa membaca di usia 3 tahun itu adalah ambisi terparah untuk putra saya.
Untungnya, saya punya banyak teman yang bisa "mengingatkan" saya via tulisan-tulisan mereka, dan saya merasa sangat bersyukur untuk itu.

Dan sekarang, tiga tahun kemudian, tanpa diduga, Fawwaz bisa lancar membaca dan menulis dalam dua bahasa. Suka membaca setiap potongan kertas yang ada, dan juga tampaknya mulai tumbuh menjadi seorang book-lover seperti ibunya. Menakjubkan ya?
Nah disini kewajiban saya untuk juga berbagi, kronologi kemajuan membaca Fawwaz.
Semoga bisa bermanfaat, paling enggak menepis kegalauan para ibu yang menemukan putra-putri belum juga bersemangat belajar membaca. It is totally fine ibu-ibu. Sekarang saya bener-bener percaya kalau otak si kecil memang perlu waktu untuk"menelan" informasi berupa susunan huruf, tugas kita hanyalah meng-introdusi bahwa susunan huruf itu punya makna dan rupanya sangat menyenangkan untuk membacanya.




Usia 4-5 tahun.
Iseng-iseng saya beli buku yang judulnya kurang lebih: 'panduan membaca untuk si kecil'.
beberapa hari memperkenalkan Fawwaz dengan metode membaca di buku itu, yang saya perhatikan adalah: Fawwaz sama sekali belum sadar kalau rangkaian ejaan kata itu punya makna. Maka saya hentikan membaca buku panduan belajar membaca itu. Dan saya balik lagi ke acara semula, lebih banyak bercerita dari buku, tentang apa saja.
Hafalan Fawwaz dikala itu lebih banyak tentang surat-surat pendek saja.
Selebihnya adalah menggambar, berhitung sederhana, dan spelling huruf (bukan membaca).

Masalah mulai timbul ketika di sekolah TK-nya di Kampung halaman saya (kota Jember_Jawa timur).
Bu guru meminta Fawwaz menulis satu halaman penuh.
Dan karena sebelumnya saya memang belum pernah mengajarkan bagaimana cara menulis, jadilah tulisan Fawwaz macam cakar anak ayam yang baru lahir, besar-kecil, tebal-tipis, pun nggak juga bisa dibilang lurus. Saya inget betul gimana utinya, ibu-saya, stress bukan kepalang melihat tulisan anak-saya. Maklum, kalau dibanding tema-temannya di TK itu, Fawwaz memang bisa dibilang nggak bisa nulis sama sekali. Tapi dengan tenang saya bilang pada ibu saya "nggak papa ma, nanti juga bagus koq tulisannya, cuma perlu latihan aja".

Sempet juga saya kursusin bahasa inggris untuk persiapan ke Brisbane, sebenernya sih yang ini supaya Fawwaz nggak bosen aja. hehehehe. Nyatanya.... kursusnya cuma bertahan 1.5 bulan.
Selama kursus pun rupanya dia lebih banyak menikmati bersosialisasi dengan teman-teman baru ketimbang 'bahasa inggrisnya'. Tak apalah, pikir saya.
Oh iya, Fawwaz sempat menikmati dua sekolah semasa TK.
Sekolah pertama di Bogor, dan sekolah kedua di Jawa Timur.
Nah selama itu pula saya punya catatan pribadi tentang perkembangan 'akademik' Fawwaz, buku catatan ini saya bikin sendiri, bukan dari sekolah. Mengapa? karena sejujurnya, saya sama sekali nggak merasa puas dengan "rapor" Fawwaz dari sekolah. (Catet: saya emang tipe ibu-ibu rewel ya :p )
Satu catatan besar saya dikala itu: walau dengan bombardir pe-er menulis, belajar membaca dan berhitung setiap harinya (dan menurut saya itu kebanyakan untuk takaran anak TK), saya belum melihat tanda-tanda Fawwaz mulai pengen membaca kalimat.
Mulailah saya panik dikit mengingat Fawwaz bentar lagi mau SD, baca sana-baca sini, cari-cari metode supaya Fawwaz paling enggak tertarik sama bentuk benda segi empat yang namanya BUKU.
Dia minta buku apapun, saya OK-in.
Hasilnya? dia tetep belum bisa baca, hahahhahah....

Usia 5-6 tahun.
Tepat di usia Fawwaz 5.5 tahun, kami sekeluarga hijrah ke Brisbane, Australia.
Sejujurnya, dalam hati, saya ngerasa seperti ngasih pil pahit buat anak saya.
Saya aja udah kursus bahasa inggris 6 bulan masih jiper ngomong sama bule di hari-hari pertama, lah apalagi anak saya?
Duuuuuuuh.......
Tapi rupanya, Fawwaz jauh lebih tangguh dari pada ayah-ibunya. Setelah 3 hari nggak berucap sepatah katapun, hari ke-empat disekolah he started making friends. Oh senangnya :D.
Dan ini yang menarik, saya sempet "curhat" kekhawatiran saya sama ibu guru wali kelas, dan apa tanggapan beliau? "it doesn't matter, he would be good". Dan beliau tampak sangat yakin dengan setiap muridnya kalau mereka semua adalah juara.

Sejak awal, Fawwaz dibekali sebuah buku yang judulnya "SIGHT WORDS" book.
Buku ini berisi potongan-potongan kata yang sangat lazim digunakan dalam bahasa inggris. Lupakan grammar, ini adalah pelajaran mengenal kata. Kapan-kapan saya akan upload halaman-demi halaman buku sight words ini (karena ternyata hari ini folder Fawwaz lagi dikumpulin di sekolah :D )
Dimulai dari simple word macam HE, SHE, MOM, DAD, IS de elel, sampai level agak susah.
Daaan.... saya rasa ini yang paling penting: Fawwaz dapat pinjaman buku 4 buah buku cerita setiap minggu dari sekolah.
Dan setiap minggu para orang tua wajib lapor perihal proses membaca buku cerita itu.
Buku-buku ini juga diberi label sesuai tingkat kesulitannya, mulai dari level 1 sampai berapa ya? saya belum tau (sampai sekarang Fawwaz ada di level 14).
Dari buku ini Fawwaz mulai suka membaca jenis
buku lain selain twaddle books.
Level satu berisi dua-tiga kata disetiap halaman. misalnya kalo dihalaman pertama tertulis :Apple is red. maka dihalaman kedua akan tertulis : tomato is red.
Bosan ya? memang, karena tujuannya supaya anak-anak kenal kata : RED.
dan sekali mereka nemu kata "red" di halaman berikutnya, mereka punya rasa percaya diri yang besar kalau kata itu harus dibaca "red". prinsipnya adalah : mengulang.
So, di setiap buku, paling enggak anak-anak akan kenal satu kosa kata. Minimal.
kalau bisa 3-4 kata, itu bonus.
Rupa-rupanya karena rajinnya bu guru meminjami anak saya buku-buku ini, mau nggak mau Fawwaz jadi punya kebiasaan membaca buku. Paling enggak sebelum tidur.
Dan kalau saya lagi sibuk mencari-cari sesuatu informasi di sebuah buku, maka dia akan berlagak sibuk membaca buku-bukunya pula. Sambil pamer, kalau dia sudah lancar membaca satu buku. hahhaha.
pernah juga dia membantu saya menstabillo tiga halaman penuh jurnal saya pas lagi ditinggal memasak, alasannya: Supaya ibu gampang mencari kata-kata penting.
Rupanya dia tertarik ketika saya mencoret beberapa baris di paper akademik untuk tugas-tugas kuliah saya, sampai berinisiatif untuk mencoret semua lines yang ada di paper akademik itu :D.

Sejak Fawwaz ada di level 12, saya mulai ngajarin dia untuk membaca buku-buku yang ada dirumah. Buku pertama adalah "The miracle Planet". Buku tua, saya dapet gratisan. Isinya tentang bumi tentu aja, dengan gambar yang apik.
Dan tentu saja, supaya sebuah buku kelihatan menarik, orang tua atau pendidik perlu "melakukan translasi bahasa", dari bahasa buku yang baku ke dalam bahasa keseharian anak-anak. Gimana caranya?
Anda harus paham isi bukunya supaya bisa menjelaskan
dengan baik.
"Diary of Wimpy Kid", buku yang akhir-akhir ini ditenteng
Fawwaz kemana-mana, Supermarket, mau tidur, makan sampai
akhirnya sempet ketinggalan di sekolah .
Kalaupun kurang paham, janjikan bahwa saat senggang anak-dan orang tua bisa mencari tahu bersama-sama. Sama sekali bukan pekerjaan mudah, karena biasanya saya butuh waktu beberapa menit untuk menjelaskan ke bahasa anak-anak. Kadang juga saya dan suami butuh bantuan youtube, atau wiki map, untuk menjelaskan bagian-bagian tertentu.
Pokoknya tunjukkan setiap sisi fantastik dari buku-buku yang dibaca, walau cuman satu halaman.
Mengetahui bahwa sekarang tubuh mungilnya mulai paham akan sesuatu, bersama itu pula percaya dirinya akan tumbuh dengan sangat baik.

Beberapa minggu terakhir ini, setiap wiken, disaat ayah harus ke perpustakaan dan berkutat dengan tugas-tugas, saya cukup mengeluarkan tumpukan buku-buku untuk dibaca oleh Fawwaz, dan kadang berkarya dengan inspirasi yang datang dari buku-buku itu. Berita baiknya, dalam kurun waktu kurleb delapan bulan, dari sama sekali nol soal membaca, sekarang sudah beralih jadi seorang penikmat buku. Saya mulai menangkap kebosanan di buku-buku pinjaman dari sekolah (karena bisa dibaca dlm waktu 5 menit aja), dan akhirnya saya mulai memperkenalkan dia dengan buku-buku yang keliahtannya agak berat, nggak ada paksaaan untuk harus dibaca setiap lembar, tapi saya usahakan akan ada pelajaran berharga di setiap lembar yang dibacanya, itu aja.

Dan semoga, kebiasaan membaca ini benar-benar jadi hobi yang melekat sepanjang hidupnya.
Aamiin.

Sekian dulu ya....
semoga minggu depan saya bisa upload detail buku sight words Fawwaz...
dan bisa jadi inspirasi untuk metode belajar si buah hati

Cheers,