Follow Us @soratemplates

Saturday, November 15, 2014

Proud to be Indonesian ---- Sesi curhat galau :D

10:44:00 PM 2 Comments
Akhir-akhir ini, kota Brisbane sangat cerah, bahkan kelewat cerah sebenarnya. Seperti hari ini, suhu menjelang 40 derajat, dan menuju musim panas.
Dan, panasnya bener-bener panas, bukan suam-suam kuku. 
Titik tertinggi di Brisbane pernah mencapai 42 derajat, (eh ya itu mah udah bisa dipake buat 'heat shock' kalo kita mau transformasi DNA, mau bikin kloning. Lumayan lah nggak perlu ngidupin waterbath. Hemat listrik sodara! hahhah ------> dan guyonan ini hanya untuk orang2 molekuler biologi)
Bicara soal cuaca, Brisbane sepertinya belum termasuk kota yang punya cuaca ekstrim. Kita nggak punya salju, nggak juga sampe kering kerontang yang tanahnya sampe berbelah-belah. Winter di Brissie paling-paling cuma nyampe 1-2 derajat, nggak sampe minus. Soal cuaca ini juga-lah faktor kenapa saya dulu memilih Brisbane ketimbang Sydney atau Melbourne atau Adelaide sebagai kota tujuan saat mau melanjutkan study. Soalnya saya tau banget, kalo udah kedinginan, saya mah males mau ngapa-ngapain, gimana nasib tugas-tugas nantinya.



Bicara soal makanan, nah ini nih yang saya nggak nyangka. Ternyata Australia secara umum itu koq sepertinya nggak ada makanan yang bener-bener khas lokal. Kebanyakan makanan yang dijual adalah makanan-makanan pendatang. Pernah nih saya maen ke daerah pesisir Australia, eh yang dijual paling-paling fish and chip dan fish and chip lagi. Bayangan saya sih di pinggir pantai ini mustinya banyak orang jualan ikan bakar dan sambel lalap. hahah , itu mah Indonesia ya..? 
Tapi juga mungkin karena saya hanya mengkonsumsi makanan yang hanya berlabel halal, jadi memang pilihan yang ada sangat terbatas.

Satu-dua bulan disini, saya langsung nyadar kalau ini bukanlah negara yang kaya akan sumberdaya ataupun budaya. Indonesia jauh lebih kaya. Bayangkan aja, hampir setiap suku pasti punya makanan khas, cemilan yang rasanya alhamdulillah lezat di lidah. Buah aneka rasa dan rupa. Nah makanan lagi deh -_- . Oke sekarang bunga-bungaan, saya cukup kaget karena banyak bunga-bunga yang saya pake maen sewaktu kecil di kampung dan udah mulai jarang ada di Indonesia tumbuh cantik dan subur di Brisbane.

Seperti yang saya tegaskan tadi, Indonesia jauh lebih kaya soal sumberdaya dan budaya. Tapi yang saya pelajari dari Australians adalah sikap positif ketika punya masalah. Saya pernah bikin status di Facebook soal banyaknya mission impossible yang dikerjakan di Autralia, yang berdampak kemajuan fantastis di bidang riset dan akhirnya meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Disinilah saya banyak belajar. Pernah suatu ketika saya ada regular meeting dengan supervisor saya, dan saya curcol soal hasil riset yang jauh dari harapan saya, dan komentar beliau pun diluar dugaan saya, alih-alih bilang saya nggak kompeten, dia justru bilang "Tika, don't be so negative about your result, there is always explanation for that, all you need to do is just learn, read and solve it". Nah, itu jadi satu pelajaran yang berharga banget. Don't give up!

Jika saja kita yang sudah kaya sumber daya alam nggak menyerah begitu saja terhadap kekurangan kita saat ini. Terus belajar memperbaiki diri dan berkarya. Singkirkan pikiran negatif. Tak perlulah kita takut akan istilah "Asing" yang selama ini seakan jadi momok di media. Karena saya koq yakin, kalau kita bisa punya daya tawar, bertransaksi dengan cantik, ikut berkiprah, nggak cuma jadi penonton.
Makanya boleh dong saya berangan-angan gimana indahnya Indonesia, kalau kita bisa berbenah diri  mulai beripikir lebih positif tentang bangsa kita sendiri, berusaha menjadikan Indonesia tempat tinggal yang nyaman, yang bersih, minim polusi, nggak ada korupsi, rate kejahatan yang rendah, masyarakatnya nggak ngomongin politik melulu, punya stasiun TV yang mendidik, guru-guru dan fasilitas pendidikan yang bagus, de-el-el. Saya jamin, kalau kita sudah bisa jadi seperti itu, manusia-manusia jenius yang selama ini kabur keluar negeri karena merasa lebih nyaman tinggal di LN, mereka akan balik tanpa diminta hahhah…… beberapa kali saya sempet ngobrol dengan orang2 yang berkarir di luar negeri ini, dan mereka juga sebenernya bukannya nggak kangen sama Indonesia, di hati yang terdalam, mereka tetep akan bilang 'Indonesia tanah air beta', cuman ya itu tadi, banyak faktor, antara pengen bikin perubahan tapi seringnya menyerah karena nggak tau juga harus berbuat apa dan mulai darimana.

Poin kedua adalah soal tulisan di media. Kadang tuh saya sedih bukan main liat trending topik di koran atau majalah Indonesia. Seringkali beritanya nggak berimbang. Mulai soal artis, pejabat korupsi, film teranyar, sampai soal politik. entah ya… tapi menurut saya banyak berita yang kadang saya sendiri nggak ngerti pelajaran apa yang bisa kita ambil dengan baca berita itu. Misalnya gini nih, ada artis yang baru aja melahirkan, trus di koran akan muncul si artis A melahirkan, via caesarian, trus si debay dikasih nama MMM. Titik.
nah lho, informasi macam begitu kan nggak penting buat semua orang, saya sih maunya ada juga dong informasi yang berguna buat pembaca, misal tips-tips persiapan melahirkan caesar, atau normal, saran2 untuk mengunjungi dokter terutama detik2 menjelang melahirkan, persiapan mental buat calon ibu baru, banyak lah yang bisa dibahas dan bermanfaat ketimbang diujung berita yang dibahas adalah mantan pacar si Artis A yang ngucapin selamat atas kelahiran debay. Itu baru soal artis, soal politik mah lebih 'hot' lagi, banyak yang kebakaran jenggot nulis ini itu yang menurut saya nggak jelas tujuannya apa. Akhirnya interpretasi orang jadi macam-macam. Belum lagi bikin tajuk berita yang bombastis padahal isinya adalah berita yang non-valuable. jiah…. hahahah. Suatu kali saya sampai sempat meredam emosi ibu saya yang termakan berita soal politik di TV, pelan-pelan saya kasih input dari sudut pandang berbeda, dan membiarkan beliau untuk berpikir sejenak. Hingga akhirnya beliau bisa menyimpulkan bahwa beliau harus lebih selektif soal berita di TV. Well done mommy! *big grin.

Hei bung yang nulis berita, sadarlah kalau anda adalah bagian dari mata rantai edukasi. Buat sebagian masyarakat Indonesia dengan akses informasi yang terbatas, anda adalah God Father of information yang juga akan membentuk pola pikir mereka. Karena mereka memiliki keterbatasan untuk mengakses berita penyeimbang, atau bahkan keterbatasan dalam memahami raw source material jika itu ditulis dalam bahasa asing. Dan itu sudah menjadi tugas anda untuk menyajikan berita dengan tulisan yang baik, koheren, dan informatif. Kita adalah bangsa yang besar dengan manusia-manusia yang pintar yang cukup bisa memahami tulisan-tulisan yang berbobot. Bukan berita tanpa makna yang menumpulkan kecerdasan berpikir dengan tulisan-tulisan yang provokatif. 

Tapi ya, Alhamdulillah, ditengah ketidak-mengertian saya akan arus informasi media di Indonesia saat ini. Saya masih punya teman-teman yang mampu berdiskusi dua arah, dengan tidak menyalahkan opini masing-masing, dan diberi kemampuan untuk berdiskusi secara terbuka tentang perbedaan-perbedaan pola pikir kami. Saya punya beberapa grup WhatsApp, BBM, Facebook dari berbagai komunitas yang pernah saya menjadi bagian dari mereka. Teman-teman yang menyadarkan saya bahwa masih ada segelintir manusia Indonesia yang peduli tentang kemajuan bagi masa depan Indonesia ditengah carutmarut informasi saat ini. Teman-teman yang tetap bertahan untuk berpikir positif tentang kearifan menyikapi perbedaan, mengedukasi tanpa saling merendahkan dan berjuang dari lingkup paling kecil, yaitu mengedukasi anak-anak dengan baik. Alhamdulillah.

Tapi memang, mereka jarang nongol di FB, hanya sebagian, nggak juga curcol di blog pribadi macam ibu-ibu galau kayak saya ini. hahhaha…… (*malu)
Mereka bekerja dalam diam, paling banter cuman diskusi di grup secara terbuka diselingi ocehan-ocehan khas pribadi masing-masing. Tapi cukup bikin saya lega. Masih ada harapan.



Brisbane. 
sunday, 16th of november 2014.

Saturday, September 27, 2014

Ternyata, kamu yang kutunggu.

9:06:00 PM 4 Comments
Yang sudah punya soulmate dan menikah, pasti pernah berantem kan?
trus kadang atau malah sering mikir "Oh my, yang kayak gini nih kenapa dulu aku nggak tau ya?"
hahhah, itu misalnya anda nemu tingkah laku yang super duper ajaib dari partner anda yang tadinya seolah-olah completely hidden sampai anda nggak nyangka sama sekali atau emang tadinya bukan masalah besar.
Well, saat anda masuk ke dalam ranah pernikahan. Semua emang berubah.
Yang tadinya oke dan asik aja bisa jadi bahan berdebat, apalagi ditambah kalo para perempuan itu ada di situasi mood-nya nggak bagus, karena hormonal sih biasanya, wow….. bisa panjang cerita soal saling komplain ini.





nah, intro di atas itu saya banget.
Bukan cuman karena saya termasuk orang yang hobi ngomel dan ngeluarin unek-unek. Tapi emang juga karena saya dan si ayah ini pas mau nikah ceritanya serba kilat, nggak pake ba-bi-bu.
Ketika saya di-propose dulu pun beliau-nya to the point banget, sampe bikin kaget (tapi hepi juga sih)... :P
Dan yang lebih ngagetin ini ketika saya memutuskan bilang "iya, oke, kita menikah"
Dan ujung-ujungnya mayoritas teman-teman dan sahabat saya bereaksi sama "Ha…? koq bisaaa??!!" ya tentu aja dengan gaya mereka masing-masing, sambil ketawalah, alis berkerut dikit lah…senyum-senyum, bengong dikit atau sampai taraf nggak bisa berkata apapun tergantung porsi keterkejutan mereka masing-masing.
Bukannya apa, soalnya saya dan si ayah ini bener-bener beda, bukan cuman soal penampakannya, tapi juga karakter, hobi, ide dan masih banyak lagi yang emang kalo dipikir2 nggak klop. Walaupun begitu, saya punya justifikasi kenapa saya bilang "iya" dong, hahha…. dan itu..bukan untuk konsumsi publik, kecuali teman-teman saya.

Nah, Jadi percayakan kalo akhirnya saya bilang perjalanan rumah tangga saya sama si ayah itu benar-benar bergantung sama komitmen dari dulu sampai sekarang. Cinta? saya mah jatuh cinta setelah menikah. Dan tentu sajaaaa, kami sering berantem, kalo nggak bisa bilang adu pendapat itu jadi semacam hobi.
Sampai akhirnya, disatu saat saya jenuh dan curcol sama ibu saya lewat telepon. Saya bilang, saya kesulitan untuk bisa mengerti suami saya. Dan tanpa disangka, respon ibu saya sangat mengejutkan, beliau bilang:
" Sebentar mbak, kamu dulu minta apa sama Allah soal suami?"
Dan saya bilang, "Aku dulu berdoa minta suami yang sholeh, rajin sholatnya, pinter, baik"
"Nah, mas farid itu sholatnya rajin toh?"
"iya sih ma.."
"pinter juga kan?"
"iya"
"baik?"
"baik sih…" (dan saya mulai bingung)
"Apa dulu kamu minta suami yang bantuin kamu masak?"
"enggak"
"beresin rumah?"
"enggak juga sih…"
"nah ya berarti Allah sudah kasih yang kamu mau kan mbak?"
Dan saya sukses ketawa terbahak-bahak pake malu dikit.
Ibu saya yang amat sederhana, ternyata punya kearifan yang jauh diatas rata-rata.

Sejak saat itu, saya mencoba berdamai dengan sikap ajaib suami saya, dan saya rasa saya pun punya tingkah laku diluar batas normal yang memang cuma bisa dimegerti oleh beberapa orang saja, termasuk suami saya.
Here we are, sampai hari ini pun, saya dan si ayah masih saling menyesuaikan.
dan kami pun harus menyesuaikan pula dengan hadirnya si anak.
I am not going to say it is hard, but challenging.

Jadi suatu hari,
saat saya dengar lagu ini;

kamu dikirim Tuhan, untuk melengkapiku tuk jaga hatikukamu hasrat terindah untuk cintakutakkan cemas, ku percaya kamukarena kau jaga tulus cintamuternyata kamu yang ku tunggu

Saya cuman senyum-senyum, iyalah… saya dapat persis yang saya minta.
laki-laki ajaib macam suami saya,
Yang hampir selalu nanya saya pulang sama siapa kalo saya pergi jauh-jauh, karena dia tau saya gampang kesasar dan hilang arah timur-barat-utara-selatan.
Yang juga merelakan cita-citanya sekolah ke eropa karena istrinya pengen ke Australia.
Bahkan memilih hidup di Brisbane meskipun dalam hatinya saya tau dia lebih rindu Sydney.
Orang yang nggak bisa makan cabe, dan demi dia saya pun berhenti makan pedes dan masakan saya jadi non-cabe.
Orang yang mikirnya: "kalo ada orang lain yang bisa ngerjain kenapa harus kita yang kerjain?"
sedangkan saya : "kalo bisa dikerjain sendiri kenapa harus bergantung sama orang lain?"

nah kan!
hahahh, klop sudah.

PS: buat yang masih single, berdoalah selengkap mungkin soal calon suami/istri anda nanti. DAn semoga tetap diberi yang terbaik. He always knows the best on us.



Friday, June 13, 2014

May Allah protect you always.

7:14:00 PM 0 Comments


Iya saya sedang terkapar.


Nggak parah banget sebenernya. Tapi flu ini bikin saya jd nggak konsen kalau harus lama2 duduk mantengin huruf2 di komputer atau di jurnal. 

Dan sekarang, sedang duduk manis ngeliat cowok ganteng nonton film sewaan. Lumayan, bisa bengong satu dua jam ke depan (nggak bengong jg sih, buktinya tetep curcol di blog lagi) 😜. Wanita oh wanita, hobi koq curhat melulu , 😁.







Senyum terkembang ketika menemukan gelang vintage saya nangkring di pergelangan tangan. Terasa bahagia. Gelang ini sempat hilang beberapa bulan. Mungkin tepatnya bukan hilang, tp dulu sempat berniat mem-pensiun-kan si gelang tua, ketika suami saya sedikit memaksa untuk beli gelang baru nan jelita. Entah karena prihatin ngeliat gelang butut murahan di tangan istrinya, atau karena hal lain. 




Jadilah beberapa bulan lalu, saya punya gelang baru. Bukan barang yang sangat mahal juga (tau kan saya ogah pake barang2 yg terlalu mahal). Tapi, kalau harganya dibandingkan dengan harga beli si gelang tua, tentulah si gelang cantik berkali lipat nominalnya. Secara dulu gelang tuanya dibeli di kaki lima, seharga 8 ribu rupiah. Belinya pun beramai-ramai dengan ponakan-ponakan saya yang kala itu masih imut-imut. 


Tapi nyatanya, sejak saya punya gelang jelita itu, dan melepas gelang tua saya, yang terjadi justru saya nggak pake gelang sama sekali.
Alasannya banyak: 

#karena si gelang cantik nggak boleh dipake saat saya bersih2 rumah. Di statement pembeliannya jelas tertera "pemakaian dengan tidak semestinya bisa merubah bentuk gelang cantik ini". 

#dia pun harus dijaga dari segala tempaan bahan kimia yang bisa memudarkan kilaunya. Jd disarankan, untuk dipakai setelah anda pake parfum misalnya.


Ahh, repotnya. Jadilah si cantik tersimpan rapi di lemari. Masih bersama kotak dan kantong dari toko. 

Dan sejenak itu saya lupa, soal si gelang tua, yang kala itu dengan semena-mena saya simpan bersama alat2 tulis. Bahkan tanpa kotak pelindung.
Dan kemarin, ketika suami saya ribut mencari alat tulis. Dan sedikit bongkar-bongkar kotak ATK dirumah, saya melihat gelang tua saya lagi disudut kotak ATK, tetap seperti sedia kala. Tegar dan kokoh. 

Ah, saat itu juga saya memakainya lagi, dan mendadak bersyukur melihatnya lagi. Dan sekarang, tiba-tiba tersadar kalau ternyata  saya lebih nyaman saat memakai si gelang tua. Beruntungnya dia, melihat banyak fase hidup saya. Susah dan senang. Setia ditangan saya selama lima-enam tahun belakangan. Dia jadi saksi ketika deg-degan mau wawancara ielts, ketika sedih luar biasa saat si ganteng patah tulang belikat, kaget ketika nemu beberapa uban sekaligus di puncak semester, atau ketika saya sakit dan lelah seperti sekarang. Kalau dia manusia, dia sudah melihat banyak hal bersama saya. Dia juga melihat kami sekeluarga tumbuh dari waktu ke waktu. Tetiba saya sangat terpesona dengan tangguhnya gelang tua ini menemani saya, tanpa protes. Hahahaha.


Lalu apa kabar si cantik ? Dia baik2 saja, tetap tersimpan rapi dan damai di ruang gelapnya. Unik ya? Kadang karunia macam kecantikan ragawi justru bisa bikin si empunya terkurung di dunia damai. 

Dua gelang milik saya ini mengingatkan saya satu novel yg pernah saya baca bertahun lalu. Sayangnya lupa judulnya. Tapi sepenggal kisahnya adalah ketika seorang raja yang punya seorang putra mahkota kesayangan yang disimpannya baik2 didalam istana. Tak pernah diajak berperang karena tak ingin putranya terluka. Sedangkan putra bungsunya, yang tak seelok putra mahkota, menemaninya dalam setiap peperangan, dan menjadikan si bungsu pejuang yang tangguh luar biasa.




Jadi terpikir, mungkin sebaiknya saya tak perlu cemas berlebihan soal putra saya. 

Berkali-kali mengingatkan diri ini kalau saya nggak perlu selalu jadi alarm berjalan buat si anak. Memang ini kekurangan besar saya semenjak jadi ibu. Walau saya sadar, saya sudah mengingatkan diri saya sendiri kalau si anak juga perlu belajar soal konsekwensi, tapi mempraktekkan masterly inactivity itu proses yang berat pula buat saya yang kayaknya tergolong lumayan perfeksionis.  Kecemasan saya memang seolah tak berujung pangkal. Siapalah pula saya yang nggak akan bisa menjamin sepenuhnya kehidupan si anak. Allah-lah penjaminnya dan sebaik-baik pelindung, saya hanya diberi kesempatan untuk menjaganya sementara waktu, dan melihatnya tumbuh dan berkembang. Semua yang saya ajarkan, adalah supaya dia tangguh di kehidupannya kelak. Termasuk kalau saya jadi galak soal disiplin. 😁




Dan beberapa waktu lalu, saat merenung-renung sebelum terlelap. Dengan rapi dia menandai halaman buku bacaannya lagi, dan mengingatkan saya untuk juga menutup buku dan pergi tidur. Memang sekarang sesi bedtime stories kami agak beda dibanding tahun lalu. Saya tak lagi membaca lantang untuknya, tapi kami membaca buku pilihan masing2. Dan sesekali berdiskusi soal bacaan hari itu. Tertawa-tawa dan menyampaikan opini. Saat itu spontan saya bertanya:



"Fawwaz, do you know why mommy asks you to pray a lot and reading iqro everyday?"

"Yes mommy, because someday I know you will be old, and might not be able to protect me. I need Allah to protect me wherever I am".


Jawabannya sedikit mengejutkan, tapi mungkin dia sudah mulai menangkap sedikit essensi dari pentingnya berdoa. Tiga puluh menit berikutnya dihabiskan oleh dia  mengulang cerita2 saya soal perlindungan Allah. 




Ah, saya memang cuma bisa berusaha. Selebihnya hanya bisa berdoa. Semoga Allah memberimu yang terbaik dan melindungimu nak. Aamiin





Masih ada waktu, untuk terus belajar jadi orang tua. Dan terus belajar. Semangat ya Ibu-ibu. 




Muah!

Friday, April 18, 2014

Grade 1 VS Kelas 1 ….*edisi merenung

1:01:00 AM 0 Comments
Suatu kali,
Saat malam-malam ngobrol via BBM dengan salah satu sahabat terbaik, dan curhat soal anak-anak, pekerjaan, study kami, dan macem-macem yang lain, saya sempet berkeluh kesah kalau risau soal sekolah Fawwaz saat harus back for good ke Indonesia lagi.
(Well ya, kalau boleh dibilang kami memang selalu jadi tong sampah satu sama lain, ngomongin hal-hal yang masuk kategori penting banget-penting-nggak penting-sampai yang namanya nggak penting sama sekali buat diomongin, haha..)

IronSide State School




Saya bilang, saya masih terheran-heran soal anak-anak sekolah di Oz. Mulai dari Kindi sampai Universitas. Pelajaran anak saya (kelas 1 SD) di Brisbane boleh dibilang nggak sulit buat dia, bu guru wali kelas pun bilang doi nggak ada kesulitan mengikuti pelajaran meski perlu diperbaiki untuk beberapa hal. Tapi memang kalau dibanding-banding, pelajaran di Indonesia jauh lebih banyak dan jauh lebih sulit. Bikin mules nggak sih? Saya sempet juga ikutan nerves saat anak temen saya yang seumuran Fawwaz mau ujian semester, sedangkan Fawwaz? saya malah nggak tau dia ada ujian juga, tau-tau pas wawancara dengan wali kelas, bu guru memaparkan hasil mid-tes si ganteng. Tapi ya bener-bener emang nggak ada pengumuman apapun kecuali persiapan soal show and tell dari buku cerita, presentasi tentang hobi dan keluarga, itu pun via newsletter yang nampak santai dan nggak ada kata 'EXAM' sama sekali. Doengg…

ISS tampak samping
Pernah juga dapet cerita dari seorang temen kalau pelajaran SMA di Oz pun nggak sesusah yang ada di Indonesia. Benar-enggak nya, saya nggak tau, tapi mungkin iya, karena sohib saya pun bilang begitu, hihihi. Tapi ya, terlepas dari semua pelajaran yang nampaknya lebih mudah itu, saya terheran-heran saat anak-anak ini masuk Universitas. Percaya nggak, saya tahun kemaren sering kuliah bareng anak undergraduate (S-1), jadi anak-anak S-1 ini dapat materi kuliah yang sama persis seperti postgraduate student, bedanya ada di tugas kuliah, yang tentu aja bobot untuk master jauh lebih berat. Misal kalau untuk undergraduate tugasnya bisa dikerjakan berkelompok, dan pertanyaanya lebih banyak menekankan ke arah metode atau mencari data/informasi. Nah yang postgrad porsinya lebih ke arah menemukan masalah sekaligus menganalisa, tugasnya pun individual. Anyway, tapi yang jelas, materinya sama lho, lha wong kuliah bareng gitu. 

Nah ini yang bikin heran, kalau memang anggaplah materi pendidikan dasar Australia lebih mudah, bisa-bisanya ya saat kuliah, pola pendidikan dan materi yang kuliah mereka langsung lompat jadi level 'advanced'. Dan, mereka survive sodara! 
Yang artinya Survive melewati Turnitin (mesin pencari persentase kesamaan diantara ribuan tugas yang di submit setiap tahun, yang juga, nggak memungkinkan murid ini saling nyontek, karena kemiripan tugas sekitar 25% pasti bakal berakibat disuruh nulis ulang atau nggak lulus mata kuliah), sukses Exam tiap semester, survive dengan presentasi , labwork, report dan blablablabla lainnya. hahahha *meringis.
Susah nggak? buat saya sih iya. Apalagi karena faktor usia, *ngeles.
Itu baru undergraduate dan postgraduate, apa kabar PhD students? udah beberapa kali saya denger dari temen dikampus beberapa orang PhD candidates yang terjebak stress saat menjelang confirmation (kalau di Indonesia setara dengan presentasi proposal), karena ada resiko downgrade (alias riset anda nggak mencukupi untuk S-3, dan hanya layak untuk lulus sebagai master level). Biarpun beberapa orang bilang kejadiannya hanya satu persekian ratus orang, tp tetep kemungkinan itu ada *meringis lagi. 
Bergaul dengan para student PhD ini pun rupanya membangun kesadaran saya, kalau mereka-mereka ini semuanya adalah pejuang berani mati, hihihih, *angkat topi tinggi-tinggi.
nah ketika itu saya curhat sama sohib tercinta, saya sempet meragukan diri saya bisa survive jd PhD student kelak, sama seperti saya sempet ragu untuk kembali kuliah setelah hampir 10 tahun vakum dari bangku sekolah Brawijaya tercinta. Tapi temen saya bilang "we'll see Tika, paling-paling juga ntar kamu akan lebih milih rempong S-3 lagi koq" hahahah…. , anyway, emang susah kalo punya temen yang hobi sekolah kayak temen saya yang satu ini. :P

Anyway, back to topic, 
Berangkat dari pemahaman diatas, saya jadi makin penasaran sama kurikulum pendidikan dasar Australia. 
Jadi, saya liat-liat lagi buku-buku anak saya yang cuman ada 3, satu buku sight words, satu buku yang isinya list daftar buku cerita yang udah dibaca (buku cerita lho ya, bukan buku pelajaran, hahahha), satu lagi map untuk nyimpen buku cerita pijaman dari sekolah, sekali lagi, buku cerita, bukan buku pelajaran. Mana buku pelajarannya? nah nggak ada.  hihihihi…. 
Baru ada titik terang saat saya baca-baca lagi newsletter, ngobrol sama studentnya sendiri (aka: Fawwaz) dan ketika wawancara mid-semester dengan bu guru. Fawwaz punya dua tugas besar yang harus dipresentasikan di depan kelas semester ini, salah satunya adalah me-re-tell dari buku bacaan favoritnya. Setiap student akan dipandu dengan selembar worksheet untuk menceritakan ulang buku bacaan favorit mereka, jadi misalnya harus ada kata-kata pembuka, judul, macam-macam karakter yang ada di buku cerita, ending-nya, trus apa yang mereka rasakan ketika baca buku itu. Oh iya, termasuk sikap tubuh yang baik saat membawakan cerita di depan kelas. :D
newsletter lebih banyak berisi semacam pemberitahuan apa yang akan dikerjakan murid-murid disekolah, dan seringnya, pihak sekolah akan bilang kalau berlatih dirumah akan sangat membantu lancarnya proses belajar disekolah. 
Sampai akhirnya, saya berkesimpulan kalau mereka sangat mementingkan sikap yang baik dan mastering literacy. Semua proses belajar secara garis besar mengajarkan anak untuk belajar menyerap inti beragam bacaan, mengolah informasi dan menyampaikan kembali dalam bentuk lisan dan tulisan. Dan dilakukan berulang-ulang. Nggak heran, sekarang hampir setiap hari Fawwaz terbiasa untuk bercerita lagi apa yang dibaca dari sekolah, dan kadang sudah mulai bisa berdiskusi cukup panjang dengan ayah-ibunya dirumah, tapi tentu saja, kami nggak menyebutnya diskusi, tapi biasanya dia akan bilang: "Mommy, lets have a nice chat about time machine", dan biasanya saya cukup mendengarkan sambil sesekali bercerita seperti apa sekolah saya dulu saat Grade 1.

newsletter dari sekolah
Sekarang semua jadi masuk akal, karena si murid terbiasa membaca sendiri, berdiskusi, dan sharing pendapat, mau nggak mau itu membentuk perilaku mereka mengeksekusi tugas-tugas kuliah di perguruan tinggi. Setiap kali membaca, mereka akan mencoba mencari maksud tersembunyi yang disampaikan penulis literature, mengolah informasinya dan membentuk opini mereka pribadi, bukan sekedar menyelesaikan bacaan. Kebiasaan yang terbentuk sejak saat pertama kali mereka belajar dibangku sekolah, dimana, kebanyakan anak-anak seusia di Indonesia berkutat dengan hafalan, termasuk saya dulu. 

Sebaiknya, memang saya harus mulai banyak persiapan menjelang kepulangan ke Indonesia nanti. Menyiapkan mental si anak dan saya sendiri, dan punya aturan dan misi yang jelas untuk tujuan belajar mengajar ini. hehehehehe…….atau hanya akan terombang-ambing terjebak di sistem persekolahan di Indonesia yang kadang kurang bersahabat. Setidaknya, sepertinya, akan mengaktifkan lagi buku catatan tumbuh kembang Fawwaz dengan beberapa perbaikan disana-sini.

Ah, emang saya orangnya rempong ya.. hahahah
sudahlah..

See you again 
Ksskiss from Brisbane, Muahhh








Saturday, March 15, 2014

Brisbane Survival Tips (2-Garage Sale-Thrift shop-Boxing Day)

10:49:00 AM 0 Comments
Jikalau pada posting sebelumnya saya mengulas tentang Tip-Shop
Kali ini, saya mau nge-post tentang trik lain kita bisa mendapatkan barang murah di Brisbane atau bahkan secara general di Australia.

1. Garage Sale.
Garage sale biasanya diadakan sepanjang weekend, disaat hampir semua orang punya waktu luang.
Saya adalah orang yang termasuk rajin mendatangi garage sale. heheheh.
Walau sejujurnya kalau boleh komentar, sering kali juga saya cuman datang dan nggak beli apapun. :P
Cuman seneng aja dateng dan liat-liat barang apa aja yang dijual pemilik rumah.
Daaaaan, saya nggak menampik kalau kadang saya juga 'nemu' barang yang seperti baru berkualitas bagus dengan harga yang sangat miring.
Satu lagi, anda kudu percaya kalo saya bilang garage sale ini-pun ada musimnya. hahahah
Biasanya sih di saat akhir tahun atau di akhir dan awal semester garage sale akan berjamuran digelar. BUkannya apa sih, saat-saat itu banyak mahasiswa yang bakalan back for good alias pulang ke tanah air mereka masing-masing dan cukup malas untuk bawa semua barang mereka. mengingat mahalnya ongkos shipping ke tanah air tercinta.
Jadilah biasanya mereka menggelar garage sale dengan beberapa orang teman. Enaknya lagi, kita bisa nawar, karena daripada nggak laku toh barang2 itu akhirnya tetap akan berakhir di area dumping. 
Seringnya lagi, kalau kita beli beberapa barang sekaligus, kita akan dapet bonusan alias gretongan, plus cookies dan ngobrol-ngobrol sejenak hahahha.





Beberapa garage sale events digelar secara regular.
Misalnya seperti yang digelar oleh pihak gereja yang dikelola dan dijalankan oleh kumpulan pensiunan kota Brisbane.
Tahun lalu, karena mash new comer, koq saya berasa agak-agak kalap ya..?
nah tahun 2014 ini saya lebih bisa mengendalikan diri, walau ternyata belanjanya tetep aja lumayan kalo dihitung-hitung, :P.
Seperti apa suasana annual garage sale 2014 ini, yuk mari kita intip beberapa fotonya.






Ah si ibuk, tetep aja senyum mengembang kalo emang niat belanja. :D


Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, kali ini saya nggak ngantri pagi pagi seperti tahun lalu, datengnya udah lumayan siang, sekitar jam 8.30-an, yang mana sekitar 1,5 jam dari jam dibukanya acara ini. Oh iya, ini cuman satu atau dua ruangan dari sekitar total 7 ruangan lain yang sempat saya foto, soalnya di ruangan lain udah serius belanja beberapa barang yang emang saya perlu.

2. Thrift Shop.
Nah kalo yang ini, memang toko yang buka hampir tiap hari, menjual secondhand goods dan biasanya memang dananya dikumpulkan untuk amal. Semisal untuk Red Cross Australia. Jumlah toko semacam ini pun nggak terlalu banyak. Biasanya sih cuman 1 toko di satu area suburb. Karena Thrift Shop st. Lucia cuman 10 menit jalan kaki dari kampus, saya pun sering keluar-masuk toko ini, hihihi *alesan.

3. Boxing Day.
Fenomena Boxing Day ini nih baru buat saya yang emang baru kali ini jalan-jalan keluar negeri. Boxing day adalah saat dimana mayoritas toko akan banting harga hingga 70% untuk semua produk yang mereka jual. Well, ya nggak semua sih, normalnya berkisar antara 50 % untuk produk garment, sepatu, buku-buku tertentu. Elektronik biasanya 'hanya' sekitar 20-30% (merujuk diskon yang ada di Ji-Bi HiFi), tapi ada juga yang sampai hampir 80% karena double discount untuk produk-produk khusus semacam peralatan hiking, sepatu gunung dan pernak-perniknya. Karena entah tiba-tiba saya jadi penyuka produk Kathmandu sejak menghuni Brisbane, jadi nya sempat juga menikmati diskon harga beberapa produknya, padahal gayanya kan maskulin gitu, enggak cocok banget sama saya yang cewek abis hahahaha….dan tebaklah siapa yang belanja kalap di toko ini.. *lirik Ayah.

Mejeng di depan salah satu Toko yang menyediakan diskon 50%.
Toko ini lebih gila lagi, diskonnya sampai 75%. 
Maaf yang ini cuman mau poto sama iklan bang Leonardo di balik kaca. hihihi
Boxing Day ini berlangsung kurang lebih 2 mingguan , mulai tanggal 26 Desember sampai awal Januari. Jadi lumayan lama, tapinya…di detik-detik hari terakhir boxing day usai, barang-barang yang tersisa jadi kurang beragam. Tapi kalau beruntung, tetap anda akan bisa nemu barang yang bagus. 
Cuman ya….2-3 hari pertama boxing day itu memang ajaib, kayaknya semua orang tumplek blek di pusat pertokoan, hahah. Jarang-jarang nih liat Brisbane banyak orang kayak begitu. :D

wah koq kayaknya, postingan saya banyak belanjanya sih? hahaha, enggak juga sebenernya, masalahnya bosen kalo harus nulis yang bau-bau penelitian atau jurnal, udah saban hari dijabanin.

Ok, enjoy Brisbane, enjoy Australia yaaa…..
Muah!!!

Friday, February 14, 2014

Sekolah lagi? yuuuk….. :D

9:55:00 PM 4 Comments
Ketika beberapa orang teman bertanya tentang Beasiswa AAS yang sedang saya jalani, sebenernya saya agak nggak pede jga mau jawab, karena koq rasanya nggak ada tips khusus ya..? Yang saya kerjakan dan saya persiapkan adalah serupa seperti yang disarankan dan dikerjakan banyak orang, yang pada intinya adalah: 'kerjakan dengan penuh kesungguhan'. That's it.

Sungguh-sungguh itu artinya:
# sungguh-sungguh ketika ngisi formulir
# sungguh-sungguh cari sekolahan yang diminati
# sungguh-sungguh cari info tentang sistem penilaian, persyaratan, pun sistem pembelajaran di negara  tujuan
# sungguh-sungguh belajar bahasa inggris
daaaan
# sungguh-sungguh berdoa (iyalaaaah, hahahha :D)





Nah. oke detail-nya begini:
Saat kita menentukan akan apply beasiswa tertentu, yang harus dipersiapkan di awal adalah persyaratan yang harus dipenuhi. Siapkan semua persyaratan ini jauh-jauh hari. Misalnya: untuk beasiswa AAS (detailnya bisa dilihat di website ini), salah satu syaratnya adalah TOEFL atau IELTS. 
Segeralah siapkan diri anda sebaik mungkin dan booking tempat untuk tes jauh-jauh hari, karena biasanya menjelang deadline beasiswa ditutup, lembaga penyelenggara tes IELTS atau TOEFL ini akan penuh, karena yang mo daftar beasiswa kan bukan cuman anda seorang, :D. Belum lagi, kalo anda harus mengulang, karena belum mencapai syarat minimal yang diperlukan.

University of Queensland

Untuk beasiswa AAS, ada juga formulir yang anda harus isi. Nah, usahakan untuk menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin. Tulis setiap jawaban dengan bahasa baku yang baik dan benar. 
Mulailah mengisi sejak jauh-jauh hari. Luangkan waktu minimal sebulan untuk mengisi formulirnya. Satu bulan? iya satu bulan, alias 30 hari, minimal. Bahkan kalo anda sudah bekerja, bisa makan waktu lebih. 
Saya hampir yakin bakal ada yang terlewat kalau ngisi formulirnya hanya seminggu sebelum tenggat, dan akan kelihatan minim persiapan. Untuk beasiswa AAS, formulir ini akan jadi semacam portofolio singkat, dimana tim reviewer akan 'meneropong' siapa anda. Jadi buatlah sebaik mungkin tanpa berkesan berlebihan.
Nah untuk beasiswa dari Ausaid ini, menurut si Ayah, 'Jantung' dari isian formulir pendaftaran berada pada tiga pertanyaan yang ada di bagian tengah. Ketiga kolom pertanyaan tersebut intinya menuntut anda untuk menerangkan a) apa yang pernah dikerjakan di Indonesia, b) apa yang akan dipelajari di universitas di Australia dan c) apa yang direncanakan akan dikerjakan sekembalinya ke Indonesia. Setelah dirasa-rasa ketiga pertanyaan tersebut kok seperti kita diminta bikin proposal ya…hmmmm. Dan senior penerima beasiswa yang dulu bernama ADS ini menceritakan sebisa mungkin untuk mengisi kolom yang disediakan secara penuh, jangan cuma separo atau bahkan cuma satu-dua kalimat saja.
Dan hasil survey kecil-kecilan saya, pertanyaan-pertanyaan tim reviewer saat hari anda diwawancara nggak akan jauh-jauh dari isian di formulir, mereka akan mengkonfirmasi ulang tulisan anda sendiri sambil melihat sejauh mana anda siap untuk melanjutkan Study di Australia. Jadi jangan coba-coba meminta tolong orang lain buat ngisi formulir ya….kecuali bertekad untuk bengong saat ditanya tim pe-wawancara. hehhehe :D
Setiap pemberi beasiswa juga pastinya punya kelompok target siapa yang berhak untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Kita seharusnya juga memahami bidang-bidang apa yang menjadi target pemberi beasiswa. Contohnya, beberapa tahun terakhir AAS lebih memprioritaskan untuk perempuan dari daerah timur, beberapa riset dibidang tertentu dan disability person. Kalau anda nggak termasuk dari kelompok prioritas itu, anda harus aware kalau kemungkinan anda memperoleh beasiswa bisa jadi jauh lebih kecil dan untuk itu anda harus punya persiapan yang diatas rata-rata.

Kembali ke soal belajar bahasa Inggris, dulu saya juga nggak pake les-lesan sih belajarnya. Trik-nya cuma membiasakan diri dengan 'bahasa Inggris'-nya sendiri dan lakukan dengan rutin. 
Reading setiap hari.
Listening setiap hari.
Speaking (sama tembok) setiap hari.
Writing setiap hari, minimal 250 kata dan koreksilah sendiri.
Mengoreksi tulisan kita sendiri?
Iya dong, harus bisa ngoreksi tulisan kita sendiri, karena kalau sudah kuliahpun jangan coba-coba ngumpulin tugas yang belum di proof read, nilainya bisa amit-amit. Trus caranya supaya bisa ngoreksi gimana mbak? yaaah, belajar lahhh, buku bahasa inggris kan udah bertebaran di toko buku, :D.
Saya belajar 2 minggu non-stop dikala itu. Eh nggak nonstop deng sebenernya. Karena tetep masak-masak, ngurusin anak, heheheh….. dan hasilnya?
IELTS pertama saya cuman dapet 6, dan dikursusin selama 6 bulan sebelum berangkat. hahhhaa….
You can do better than me laaah    :).

Persiapan lain yang mungkin banyak membantu adalah carilah info sebanyak mungkin tentang beasiswa yang dituju. Mulai dari berapa banyak peminatnya, bidang targetnya, jumlah pelamar yang akan diterima, dan lain-lain. Silahkan merujuk ke website Bli Made Andi yang punya ulasan lengkap tentang beasiswa AAS di tulisan beliau yang ini. Silahkan mampir ke websitenya, baca baik-baik supaya lebih termotivasi. Bisa juga ngobrol dengan alumni awardees kalo kebetulan anda kenal beberapa orang diantaranya.

Dan yang terpenting, banyak-banyaklah berdoa yaaaa….
Saya doakan selalu yang terbaik bagi semua pejuang pencari ilmu.

#salam sukses dari BNE




Sunday, February 9, 2014

Serundeng Daging

3:53:00 AM 0 Comments
Bosan dengan soto daging, empal, atau sekedar ditumis dengan sayuran,
Kali ini eksperimen di dapur adalah bikin serundeng Daging.
Berhubung ada sisa sedikit potongan daging di Freezer, yuk …

Serundeng daging kelapa yang lezat dan tahan berhari-hari. 





Bahan:
1. 250 - 300 gram daging sapi
2. 300 ml Santan kental.
3. 200 gram kelapa parut (saya pakai dessicated coconut, sebanyak 180 gram, dan rendam dengan air  hangat selama beberapa waktu sebelum digunakan)
4. 3 lembar daun salam
5. 1 sdt jahe bubuk.
6. 700 ml air (digunakan untuk merebus daging)
7. 5 lembar daun jeruk, buang tulangnya.
8. 1 sdt asam jawa.

Bumbu Halus:
1. 3 buah cabe merah besar
2. 10 butir bawang merah, (nah karena bawang merah di brisbane itu ukurannya segede gajah, saya pakai setengah dari bawang merah ).
3. 3 siung bawang putih.
4. 2 sdt jahe bubuk
5. 1 sdt ketumbar bubuk
6. 2 sdt garam
7. 1 sdm gula merah sisir.
8. 1 batang serai.
9. 1sdt lengkuas bubuk.

Cara memasak:
a. Rebus daging dengan daun salam dan jahe selama beberapa waktu hingga empuk.
    Angkat daging, Setelah itu potong dadu, ukurannya sesuai selera sih, tadi saya potong 1,5 X 1,5 cm   (kurleb ya…)

b. Haluskan semua bumbu halus, saya sih nggak ngulek, berhubung nggak punya cobek,
   Jadi semua bahan saya masukin ke dalam chopper, tambahkan sedikit air, dan haluskan sampai lembut.
   Setelah itu pindahkan ke wadah lain yang cukup besar, masukkan daging yang sudah dipotong-potong, daun jeruk dan asam jawa, biarkan selama 30 menit. pastikan daging terendam bumbu dengan baik.

c. Panaskan panci, tuang daging dan bumbu halus, tambahkan santan.
   Masak dengan api kecil sampai air sedikit berkurang. Tambahkan kelapa parut. Cicipi rasanya,    sesuaikan dengan selera.

d. Pindahkan serundeng yang masih sedikit basah kedalam penggorengan besar, aduk perlahan hingga mengering. Serundeng daging pun siap disantap.


Note:
*** resep serundeng daging ini saya adaptasikan dari resep aslinya dari blog lain (Blog sudah down), beberapa bahan dimodifikasi sehingga jadi sesuai selera keluarga dan tidak terlalu pedas. :D
Selamat menikmati ...
 

Friday, January 24, 2014

Brisbane Survival Tips (1-Tip Shop)

5:10:00 AM 0 Comments
Survival itu wajib, apalagi di negeri orang yang notabene beda budaya, beda bahasa dan beda sistem.
Ceritanya dulu, sebelum saya berangkat merantau di Brisbane, sebenernya sudah dibekali cukup banyak info yang lumayan detail supaya nggak terlalu kaget hidup di tempat yang baru.
Memang sih, manfaatnya banyak.
At least, saya emang nggak kaget-kaget amat kecuali soal harga barang, hahhah, dasar emak2 irit. :P

Yang mau saya bahas disini adalah soal beli perabot rumah.
Memang ada banyak tipe akomodasi yang bisa jadi pilihan, ada rumah, yang bisa di-share rame-rame, atau mau sewa unit apartemen juga bisa jadi pilihan. Nah unit apartemen ini pun ada tiga macam, fully furnished, yang artinya anda bisa bawa badan doang dan tinggal disitu sesuai masa kontrak. Dua tipe unit apartemen yang lain adalah partially furnished dan un-furnished.





Tahun pertama, karena banyak hal (antara lain karena nyoba2 apply dan lumayan kepepet), saya dan suami akhirnya dapet akomodasi yang fully furnished. Lengkap-kap-kap. 
Peralatan dapur, TV, AC, sofa, karpet, tempat tidur, mesin cuci, pengering, sapu, pel, bahkan ember dan gergaji yang nongkrong di garasi (cuman sayang mobilnya nggak ada hahahah). 
Nah ditahun kedua, karena banyak hal juga (karena mempertimbangkan harga, lokasi, waktu yang lebih luang untuk bisa milih2 rumah), akhirnya saya jatuh hati di sebuah unit yang partially furnished, sudah ada mesin cuci dan satu tempat tidur di main bedroom-nya, sofa, AC, tapi belum ada fridge dan musti nyari satu tempat tidur lagi.

Nah saat bikin list untuk beberapa barang yang emang perlu, eh si ayah kesasar di satu web yang cerita soal Tip shop di Brisbane. Jadi, toko ini eh sebenernya bukan toko juga sih, lebih mirip gudang barang bekas yang masih layak pakai dan dijual dengan harga amat miring. Ada dua tip shop yang kemaren sempat dikunjungi.
Pertama Tip Shop Acacia Ridge. Tempatnya lapang, barangnya pun lumayan lengkap, macam sepeda, kursi berbagai model. meja, pot-pot bunga, meja makan, carpet, lukisan, sampai mainan anak2 dan peralatan dapur. 

Baju dibrandrol seharga rata-rata $2, begitu juga peralatan makan dan dapur, yang beragam adalah harga tempat tidur, sofa dan meja makan. Jangan berharap anda bakal 'nemu' barang yang masih licin ya….tapi kalau anda jeli, bisa dapet barang berkualitas dengan harga murah.

Bagian depan Brisbane Tip Shop Acacia Ridge.
Berbagai macam tipe kursi, bahan kursi malas pantai! :D
                     
Nah, dapat pigura minimalis yang masih seperti baru, Tante -pun tampak bahagia :D.
Pernak-pernik seharga 50 sen - $2
Buruan berupa lukisan, kaca rias yang lumayan bagus namun sayang agak berdebu.
Kipas angin, CD bekas.
Koleksi film, dan CD seken.
Sepeda seken, beberapa masih nampak seperti baru.
Satu set dining table cantik ini harganya $100.
Ayah, diantara tumpukan kursi, matress dan sofa.
Buruan saya yang yahud hari itu, Panci kukus tiga tingkat yang masih kinclong seharga $2, hihihi.
                                      
 Belum puas, minggu berikutnya, kami mendatangi Tip shop yang lain, yaitu Geebung Tip Shop. Nah, Tip Shop Geebung ini lebih 'kecil' daripada yang ada di Acacia Ridge.

Penampakan depan Geebung Tip Shop.
Mas Fawwaz diantara tumpukan koper.

Gerbang depan 

Aneka pilihan tempat tidur kayu, harganya? mulai $10.


Macam pernak-pernik, buku-buku dan piring mini.



aneka keramik mulai dari 50 sen.


nah, disini saya 'nemu' tas bekas seharga $1 dan 50 sen, hihihi…..
Overall, dua macam tip shop ini layak dikunjungi, apalagi kalo anda memang niat berburu dalam acara ngisi 'rumah' sewa anda yang unfurnished atau partially furnished.
Oh iya, info lain adalah soal toilet, kalo yang Acacia Ridge emang udah jelas mereka nggak menyediakan toilet, jadi sebaiknya, bersiap-siaplah dulu sebelum kesana, nah kalo yang ada di Geebung, saya lupa nanya dan nggak melihat pengumuman apapun soal toilet, bisa jadi ada, tapi kelihatannya saya agak pesimis juga kalo ada toilet. Lebih baik sedia payung sebelum hujan #apasih.

truuus, sejauh pengamatan saya, Geebung punya barang yang sedikit lebih 'baru' ketimbang Acacia Ridge. Dan ternyata si ayah-pun punya pendapat yang sama. Tapi nggak tau juga sih, bisa jadi pas kebetulan saya kesana koleksi yang ada di Geebung emang masih banyak. Soal harga? nah ini yang saya juga masih ragu, kalo di Geebung, saya hampir yakin kalo anda bisa bargain, waktu itu saya nggak bargain samsek dan otomatis dapet diskon, lumayan, diskonnya nyampe $10. Dan pas pulang saya baru nyadar tulisan di sebelah nama tipshop-nya, yang bilang : "A great place to bargain"
hihihiih.
Tapi yang di Acacia Ridge, saya bayar sesuai harga sih, nggak dapet diskon, dan nggak nawar juga. 
Oh iya, dua-duanya buka cuman buka saat wiken, dari jam 8-3 sore, jadi jangan coba-coba dateng saat weekday yakk, dijamin tutup. 
:D

Oke sekian,
dan Selamat berburu!