Follow Us @soratemplates

Friday, April 18, 2014

Grade 1 VS Kelas 1 ….*edisi merenung

1:01:00 AM 0 Comments
Suatu kali,
Saat malam-malam ngobrol via BBM dengan salah satu sahabat terbaik, dan curhat soal anak-anak, pekerjaan, study kami, dan macem-macem yang lain, saya sempet berkeluh kesah kalau risau soal sekolah Fawwaz saat harus back for good ke Indonesia lagi.
(Well ya, kalau boleh dibilang kami memang selalu jadi tong sampah satu sama lain, ngomongin hal-hal yang masuk kategori penting banget-penting-nggak penting-sampai yang namanya nggak penting sama sekali buat diomongin, haha..)

IronSide State School




Saya bilang, saya masih terheran-heran soal anak-anak sekolah di Oz. Mulai dari Kindi sampai Universitas. Pelajaran anak saya (kelas 1 SD) di Brisbane boleh dibilang nggak sulit buat dia, bu guru wali kelas pun bilang doi nggak ada kesulitan mengikuti pelajaran meski perlu diperbaiki untuk beberapa hal. Tapi memang kalau dibanding-banding, pelajaran di Indonesia jauh lebih banyak dan jauh lebih sulit. Bikin mules nggak sih? Saya sempet juga ikutan nerves saat anak temen saya yang seumuran Fawwaz mau ujian semester, sedangkan Fawwaz? saya malah nggak tau dia ada ujian juga, tau-tau pas wawancara dengan wali kelas, bu guru memaparkan hasil mid-tes si ganteng. Tapi ya bener-bener emang nggak ada pengumuman apapun kecuali persiapan soal show and tell dari buku cerita, presentasi tentang hobi dan keluarga, itu pun via newsletter yang nampak santai dan nggak ada kata 'EXAM' sama sekali. Doengg…

ISS tampak samping
Pernah juga dapet cerita dari seorang temen kalau pelajaran SMA di Oz pun nggak sesusah yang ada di Indonesia. Benar-enggak nya, saya nggak tau, tapi mungkin iya, karena sohib saya pun bilang begitu, hihihi. Tapi ya, terlepas dari semua pelajaran yang nampaknya lebih mudah itu, saya terheran-heran saat anak-anak ini masuk Universitas. Percaya nggak, saya tahun kemaren sering kuliah bareng anak undergraduate (S-1), jadi anak-anak S-1 ini dapat materi kuliah yang sama persis seperti postgraduate student, bedanya ada di tugas kuliah, yang tentu aja bobot untuk master jauh lebih berat. Misal kalau untuk undergraduate tugasnya bisa dikerjakan berkelompok, dan pertanyaanya lebih banyak menekankan ke arah metode atau mencari data/informasi. Nah yang postgrad porsinya lebih ke arah menemukan masalah sekaligus menganalisa, tugasnya pun individual. Anyway, tapi yang jelas, materinya sama lho, lha wong kuliah bareng gitu. 

Nah ini yang bikin heran, kalau memang anggaplah materi pendidikan dasar Australia lebih mudah, bisa-bisanya ya saat kuliah, pola pendidikan dan materi yang kuliah mereka langsung lompat jadi level 'advanced'. Dan, mereka survive sodara! 
Yang artinya Survive melewati Turnitin (mesin pencari persentase kesamaan diantara ribuan tugas yang di submit setiap tahun, yang juga, nggak memungkinkan murid ini saling nyontek, karena kemiripan tugas sekitar 25% pasti bakal berakibat disuruh nulis ulang atau nggak lulus mata kuliah), sukses Exam tiap semester, survive dengan presentasi , labwork, report dan blablablabla lainnya. hahahha *meringis.
Susah nggak? buat saya sih iya. Apalagi karena faktor usia, *ngeles.
Itu baru undergraduate dan postgraduate, apa kabar PhD students? udah beberapa kali saya denger dari temen dikampus beberapa orang PhD candidates yang terjebak stress saat menjelang confirmation (kalau di Indonesia setara dengan presentasi proposal), karena ada resiko downgrade (alias riset anda nggak mencukupi untuk S-3, dan hanya layak untuk lulus sebagai master level). Biarpun beberapa orang bilang kejadiannya hanya satu persekian ratus orang, tp tetep kemungkinan itu ada *meringis lagi. 
Bergaul dengan para student PhD ini pun rupanya membangun kesadaran saya, kalau mereka-mereka ini semuanya adalah pejuang berani mati, hihihih, *angkat topi tinggi-tinggi.
nah ketika itu saya curhat sama sohib tercinta, saya sempet meragukan diri saya bisa survive jd PhD student kelak, sama seperti saya sempet ragu untuk kembali kuliah setelah hampir 10 tahun vakum dari bangku sekolah Brawijaya tercinta. Tapi temen saya bilang "we'll see Tika, paling-paling juga ntar kamu akan lebih milih rempong S-3 lagi koq" hahahah…. , anyway, emang susah kalo punya temen yang hobi sekolah kayak temen saya yang satu ini. :P

Anyway, back to topic, 
Berangkat dari pemahaman diatas, saya jadi makin penasaran sama kurikulum pendidikan dasar Australia. 
Jadi, saya liat-liat lagi buku-buku anak saya yang cuman ada 3, satu buku sight words, satu buku yang isinya list daftar buku cerita yang udah dibaca (buku cerita lho ya, bukan buku pelajaran, hahahha), satu lagi map untuk nyimpen buku cerita pijaman dari sekolah, sekali lagi, buku cerita, bukan buku pelajaran. Mana buku pelajarannya? nah nggak ada.  hihihihi…. 
Baru ada titik terang saat saya baca-baca lagi newsletter, ngobrol sama studentnya sendiri (aka: Fawwaz) dan ketika wawancara mid-semester dengan bu guru. Fawwaz punya dua tugas besar yang harus dipresentasikan di depan kelas semester ini, salah satunya adalah me-re-tell dari buku bacaan favoritnya. Setiap student akan dipandu dengan selembar worksheet untuk menceritakan ulang buku bacaan favorit mereka, jadi misalnya harus ada kata-kata pembuka, judul, macam-macam karakter yang ada di buku cerita, ending-nya, trus apa yang mereka rasakan ketika baca buku itu. Oh iya, termasuk sikap tubuh yang baik saat membawakan cerita di depan kelas. :D
newsletter lebih banyak berisi semacam pemberitahuan apa yang akan dikerjakan murid-murid disekolah, dan seringnya, pihak sekolah akan bilang kalau berlatih dirumah akan sangat membantu lancarnya proses belajar disekolah. 
Sampai akhirnya, saya berkesimpulan kalau mereka sangat mementingkan sikap yang baik dan mastering literacy. Semua proses belajar secara garis besar mengajarkan anak untuk belajar menyerap inti beragam bacaan, mengolah informasi dan menyampaikan kembali dalam bentuk lisan dan tulisan. Dan dilakukan berulang-ulang. Nggak heran, sekarang hampir setiap hari Fawwaz terbiasa untuk bercerita lagi apa yang dibaca dari sekolah, dan kadang sudah mulai bisa berdiskusi cukup panjang dengan ayah-ibunya dirumah, tapi tentu saja, kami nggak menyebutnya diskusi, tapi biasanya dia akan bilang: "Mommy, lets have a nice chat about time machine", dan biasanya saya cukup mendengarkan sambil sesekali bercerita seperti apa sekolah saya dulu saat Grade 1.

newsletter dari sekolah
Sekarang semua jadi masuk akal, karena si murid terbiasa membaca sendiri, berdiskusi, dan sharing pendapat, mau nggak mau itu membentuk perilaku mereka mengeksekusi tugas-tugas kuliah di perguruan tinggi. Setiap kali membaca, mereka akan mencoba mencari maksud tersembunyi yang disampaikan penulis literature, mengolah informasinya dan membentuk opini mereka pribadi, bukan sekedar menyelesaikan bacaan. Kebiasaan yang terbentuk sejak saat pertama kali mereka belajar dibangku sekolah, dimana, kebanyakan anak-anak seusia di Indonesia berkutat dengan hafalan, termasuk saya dulu. 

Sebaiknya, memang saya harus mulai banyak persiapan menjelang kepulangan ke Indonesia nanti. Menyiapkan mental si anak dan saya sendiri, dan punya aturan dan misi yang jelas untuk tujuan belajar mengajar ini. hehehehehe…….atau hanya akan terombang-ambing terjebak di sistem persekolahan di Indonesia yang kadang kurang bersahabat. Setidaknya, sepertinya, akan mengaktifkan lagi buku catatan tumbuh kembang Fawwaz dengan beberapa perbaikan disana-sini.

Ah, emang saya orangnya rempong ya.. hahahah
sudahlah..

See you again 
Ksskiss from Brisbane, Muahhh