Follow Us @soratemplates

Friday, June 13, 2014

May Allah protect you always.

7:14:00 PM 0 Comments


Iya saya sedang terkapar.


Nggak parah banget sebenernya. Tapi flu ini bikin saya jd nggak konsen kalau harus lama2 duduk mantengin huruf2 di komputer atau di jurnal. 

Dan sekarang, sedang duduk manis ngeliat cowok ganteng nonton film sewaan. Lumayan, bisa bengong satu dua jam ke depan (nggak bengong jg sih, buktinya tetep curcol di blog lagi) 😜. Wanita oh wanita, hobi koq curhat melulu , 😁.







Senyum terkembang ketika menemukan gelang vintage saya nangkring di pergelangan tangan. Terasa bahagia. Gelang ini sempat hilang beberapa bulan. Mungkin tepatnya bukan hilang, tp dulu sempat berniat mem-pensiun-kan si gelang tua, ketika suami saya sedikit memaksa untuk beli gelang baru nan jelita. Entah karena prihatin ngeliat gelang butut murahan di tangan istrinya, atau karena hal lain. 




Jadilah beberapa bulan lalu, saya punya gelang baru. Bukan barang yang sangat mahal juga (tau kan saya ogah pake barang2 yg terlalu mahal). Tapi, kalau harganya dibandingkan dengan harga beli si gelang tua, tentulah si gelang cantik berkali lipat nominalnya. Secara dulu gelang tuanya dibeli di kaki lima, seharga 8 ribu rupiah. Belinya pun beramai-ramai dengan ponakan-ponakan saya yang kala itu masih imut-imut. 


Tapi nyatanya, sejak saya punya gelang jelita itu, dan melepas gelang tua saya, yang terjadi justru saya nggak pake gelang sama sekali.
Alasannya banyak: 

#karena si gelang cantik nggak boleh dipake saat saya bersih2 rumah. Di statement pembeliannya jelas tertera "pemakaian dengan tidak semestinya bisa merubah bentuk gelang cantik ini". 

#dia pun harus dijaga dari segala tempaan bahan kimia yang bisa memudarkan kilaunya. Jd disarankan, untuk dipakai setelah anda pake parfum misalnya.


Ahh, repotnya. Jadilah si cantik tersimpan rapi di lemari. Masih bersama kotak dan kantong dari toko. 

Dan sejenak itu saya lupa, soal si gelang tua, yang kala itu dengan semena-mena saya simpan bersama alat2 tulis. Bahkan tanpa kotak pelindung.
Dan kemarin, ketika suami saya ribut mencari alat tulis. Dan sedikit bongkar-bongkar kotak ATK dirumah, saya melihat gelang tua saya lagi disudut kotak ATK, tetap seperti sedia kala. Tegar dan kokoh. 

Ah, saat itu juga saya memakainya lagi, dan mendadak bersyukur melihatnya lagi. Dan sekarang, tiba-tiba tersadar kalau ternyata  saya lebih nyaman saat memakai si gelang tua. Beruntungnya dia, melihat banyak fase hidup saya. Susah dan senang. Setia ditangan saya selama lima-enam tahun belakangan. Dia jadi saksi ketika deg-degan mau wawancara ielts, ketika sedih luar biasa saat si ganteng patah tulang belikat, kaget ketika nemu beberapa uban sekaligus di puncak semester, atau ketika saya sakit dan lelah seperti sekarang. Kalau dia manusia, dia sudah melihat banyak hal bersama saya. Dia juga melihat kami sekeluarga tumbuh dari waktu ke waktu. Tetiba saya sangat terpesona dengan tangguhnya gelang tua ini menemani saya, tanpa protes. Hahahaha.


Lalu apa kabar si cantik ? Dia baik2 saja, tetap tersimpan rapi dan damai di ruang gelapnya. Unik ya? Kadang karunia macam kecantikan ragawi justru bisa bikin si empunya terkurung di dunia damai. 

Dua gelang milik saya ini mengingatkan saya satu novel yg pernah saya baca bertahun lalu. Sayangnya lupa judulnya. Tapi sepenggal kisahnya adalah ketika seorang raja yang punya seorang putra mahkota kesayangan yang disimpannya baik2 didalam istana. Tak pernah diajak berperang karena tak ingin putranya terluka. Sedangkan putra bungsunya, yang tak seelok putra mahkota, menemaninya dalam setiap peperangan, dan menjadikan si bungsu pejuang yang tangguh luar biasa.




Jadi terpikir, mungkin sebaiknya saya tak perlu cemas berlebihan soal putra saya. 

Berkali-kali mengingatkan diri ini kalau saya nggak perlu selalu jadi alarm berjalan buat si anak. Memang ini kekurangan besar saya semenjak jadi ibu. Walau saya sadar, saya sudah mengingatkan diri saya sendiri kalau si anak juga perlu belajar soal konsekwensi, tapi mempraktekkan masterly inactivity itu proses yang berat pula buat saya yang kayaknya tergolong lumayan perfeksionis.  Kecemasan saya memang seolah tak berujung pangkal. Siapalah pula saya yang nggak akan bisa menjamin sepenuhnya kehidupan si anak. Allah-lah penjaminnya dan sebaik-baik pelindung, saya hanya diberi kesempatan untuk menjaganya sementara waktu, dan melihatnya tumbuh dan berkembang. Semua yang saya ajarkan, adalah supaya dia tangguh di kehidupannya kelak. Termasuk kalau saya jadi galak soal disiplin. 😁




Dan beberapa waktu lalu, saat merenung-renung sebelum terlelap. Dengan rapi dia menandai halaman buku bacaannya lagi, dan mengingatkan saya untuk juga menutup buku dan pergi tidur. Memang sekarang sesi bedtime stories kami agak beda dibanding tahun lalu. Saya tak lagi membaca lantang untuknya, tapi kami membaca buku pilihan masing2. Dan sesekali berdiskusi soal bacaan hari itu. Tertawa-tawa dan menyampaikan opini. Saat itu spontan saya bertanya:



"Fawwaz, do you know why mommy asks you to pray a lot and reading iqro everyday?"

"Yes mommy, because someday I know you will be old, and might not be able to protect me. I need Allah to protect me wherever I am".


Jawabannya sedikit mengejutkan, tapi mungkin dia sudah mulai menangkap sedikit essensi dari pentingnya berdoa. Tiga puluh menit berikutnya dihabiskan oleh dia  mengulang cerita2 saya soal perlindungan Allah. 




Ah, saya memang cuma bisa berusaha. Selebihnya hanya bisa berdoa. Semoga Allah memberimu yang terbaik dan melindungimu nak. Aamiin





Masih ada waktu, untuk terus belajar jadi orang tua. Dan terus belajar. Semangat ya Ibu-ibu. 




Muah!