Follow Us @soratemplates

Saturday, September 27, 2014

Ternyata, kamu yang kutunggu.

9:06:00 PM 4 Comments
Yang sudah punya soulmate dan menikah, pasti pernah berantem kan?
trus kadang atau malah sering mikir "Oh my, yang kayak gini nih kenapa dulu aku nggak tau ya?"
hahhah, itu misalnya anda nemu tingkah laku yang super duper ajaib dari partner anda yang tadinya seolah-olah completely hidden sampai anda nggak nyangka sama sekali atau emang tadinya bukan masalah besar.
Well, saat anda masuk ke dalam ranah pernikahan. Semua emang berubah.
Yang tadinya oke dan asik aja bisa jadi bahan berdebat, apalagi ditambah kalo para perempuan itu ada di situasi mood-nya nggak bagus, karena hormonal sih biasanya, wow….. bisa panjang cerita soal saling komplain ini.





nah, intro di atas itu saya banget.
Bukan cuman karena saya termasuk orang yang hobi ngomel dan ngeluarin unek-unek. Tapi emang juga karena saya dan si ayah ini pas mau nikah ceritanya serba kilat, nggak pake ba-bi-bu.
Ketika saya di-propose dulu pun beliau-nya to the point banget, sampe bikin kaget (tapi hepi juga sih)... :P
Dan yang lebih ngagetin ini ketika saya memutuskan bilang "iya, oke, kita menikah"
Dan ujung-ujungnya mayoritas teman-teman dan sahabat saya bereaksi sama "Ha…? koq bisaaa??!!" ya tentu aja dengan gaya mereka masing-masing, sambil ketawalah, alis berkerut dikit lah…senyum-senyum, bengong dikit atau sampai taraf nggak bisa berkata apapun tergantung porsi keterkejutan mereka masing-masing.
Bukannya apa, soalnya saya dan si ayah ini bener-bener beda, bukan cuman soal penampakannya, tapi juga karakter, hobi, ide dan masih banyak lagi yang emang kalo dipikir2 nggak klop. Walaupun begitu, saya punya justifikasi kenapa saya bilang "iya" dong, hahha…. dan itu..bukan untuk konsumsi publik, kecuali teman-teman saya.

Nah, Jadi percayakan kalo akhirnya saya bilang perjalanan rumah tangga saya sama si ayah itu benar-benar bergantung sama komitmen dari dulu sampai sekarang. Cinta? saya mah jatuh cinta setelah menikah. Dan tentu sajaaaa, kami sering berantem, kalo nggak bisa bilang adu pendapat itu jadi semacam hobi.
Sampai akhirnya, disatu saat saya jenuh dan curcol sama ibu saya lewat telepon. Saya bilang, saya kesulitan untuk bisa mengerti suami saya. Dan tanpa disangka, respon ibu saya sangat mengejutkan, beliau bilang:
" Sebentar mbak, kamu dulu minta apa sama Allah soal suami?"
Dan saya bilang, "Aku dulu berdoa minta suami yang sholeh, rajin sholatnya, pinter, baik"
"Nah, mas farid itu sholatnya rajin toh?"
"iya sih ma.."
"pinter juga kan?"
"iya"
"baik?"
"baik sih…" (dan saya mulai bingung)
"Apa dulu kamu minta suami yang bantuin kamu masak?"
"enggak"
"beresin rumah?"
"enggak juga sih…"
"nah ya berarti Allah sudah kasih yang kamu mau kan mbak?"
Dan saya sukses ketawa terbahak-bahak pake malu dikit.
Ibu saya yang amat sederhana, ternyata punya kearifan yang jauh diatas rata-rata.

Sejak saat itu, saya mencoba berdamai dengan sikap ajaib suami saya, dan saya rasa saya pun punya tingkah laku diluar batas normal yang memang cuma bisa dimegerti oleh beberapa orang saja, termasuk suami saya.
Here we are, sampai hari ini pun, saya dan si ayah masih saling menyesuaikan.
dan kami pun harus menyesuaikan pula dengan hadirnya si anak.
I am not going to say it is hard, but challenging.

Jadi suatu hari,
saat saya dengar lagu ini;

kamu dikirim Tuhan, untuk melengkapiku tuk jaga hatikukamu hasrat terindah untuk cintakutakkan cemas, ku percaya kamukarena kau jaga tulus cintamuternyata kamu yang ku tunggu

Saya cuman senyum-senyum, iyalah… saya dapat persis yang saya minta.
laki-laki ajaib macam suami saya,
Yang hampir selalu nanya saya pulang sama siapa kalo saya pergi jauh-jauh, karena dia tau saya gampang kesasar dan hilang arah timur-barat-utara-selatan.
Yang juga merelakan cita-citanya sekolah ke eropa karena istrinya pengen ke Australia.
Bahkan memilih hidup di Brisbane meskipun dalam hatinya saya tau dia lebih rindu Sydney.
Orang yang nggak bisa makan cabe, dan demi dia saya pun berhenti makan pedes dan masakan saya jadi non-cabe.
Orang yang mikirnya: "kalo ada orang lain yang bisa ngerjain kenapa harus kita yang kerjain?"
sedangkan saya : "kalo bisa dikerjain sendiri kenapa harus bergantung sama orang lain?"

nah kan!
hahahh, klop sudah.

PS: buat yang masih single, berdoalah selengkap mungkin soal calon suami/istri anda nanti. DAn semoga tetap diberi yang terbaik. He always knows the best on us.