Follow Us @soratemplates

Saturday, November 15, 2014

Proud to be Indonesian ---- Sesi curhat galau :D

10:44:00 PM 2 Comments
Akhir-akhir ini, kota Brisbane sangat cerah, bahkan kelewat cerah sebenarnya. Seperti hari ini, suhu menjelang 40 derajat, dan menuju musim panas.
Dan, panasnya bener-bener panas, bukan suam-suam kuku. 
Titik tertinggi di Brisbane pernah mencapai 42 derajat, (eh ya itu mah udah bisa dipake buat 'heat shock' kalo kita mau transformasi DNA, mau bikin kloning. Lumayan lah nggak perlu ngidupin waterbath. Hemat listrik sodara! hahhah ------> dan guyonan ini hanya untuk orang2 molekuler biologi)
Bicara soal cuaca, Brisbane sepertinya belum termasuk kota yang punya cuaca ekstrim. Kita nggak punya salju, nggak juga sampe kering kerontang yang tanahnya sampe berbelah-belah. Winter di Brissie paling-paling cuma nyampe 1-2 derajat, nggak sampe minus. Soal cuaca ini juga-lah faktor kenapa saya dulu memilih Brisbane ketimbang Sydney atau Melbourne atau Adelaide sebagai kota tujuan saat mau melanjutkan study. Soalnya saya tau banget, kalo udah kedinginan, saya mah males mau ngapa-ngapain, gimana nasib tugas-tugas nantinya.



Bicara soal makanan, nah ini nih yang saya nggak nyangka. Ternyata Australia secara umum itu koq sepertinya nggak ada makanan yang bener-bener khas lokal. Kebanyakan makanan yang dijual adalah makanan-makanan pendatang. Pernah nih saya maen ke daerah pesisir Australia, eh yang dijual paling-paling fish and chip dan fish and chip lagi. Bayangan saya sih di pinggir pantai ini mustinya banyak orang jualan ikan bakar dan sambel lalap. hahah , itu mah Indonesia ya..? 
Tapi juga mungkin karena saya hanya mengkonsumsi makanan yang hanya berlabel halal, jadi memang pilihan yang ada sangat terbatas.

Satu-dua bulan disini, saya langsung nyadar kalau ini bukanlah negara yang kaya akan sumberdaya ataupun budaya. Indonesia jauh lebih kaya. Bayangkan aja, hampir setiap suku pasti punya makanan khas, cemilan yang rasanya alhamdulillah lezat di lidah. Buah aneka rasa dan rupa. Nah makanan lagi deh -_- . Oke sekarang bunga-bungaan, saya cukup kaget karena banyak bunga-bunga yang saya pake maen sewaktu kecil di kampung dan udah mulai jarang ada di Indonesia tumbuh cantik dan subur di Brisbane.

Seperti yang saya tegaskan tadi, Indonesia jauh lebih kaya soal sumberdaya dan budaya. Tapi yang saya pelajari dari Australians adalah sikap positif ketika punya masalah. Saya pernah bikin status di Facebook soal banyaknya mission impossible yang dikerjakan di Autralia, yang berdampak kemajuan fantastis di bidang riset dan akhirnya meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Disinilah saya banyak belajar. Pernah suatu ketika saya ada regular meeting dengan supervisor saya, dan saya curcol soal hasil riset yang jauh dari harapan saya, dan komentar beliau pun diluar dugaan saya, alih-alih bilang saya nggak kompeten, dia justru bilang "Tika, don't be so negative about your result, there is always explanation for that, all you need to do is just learn, read and solve it". Nah, itu jadi satu pelajaran yang berharga banget. Don't give up!

Jika saja kita yang sudah kaya sumber daya alam nggak menyerah begitu saja terhadap kekurangan kita saat ini. Terus belajar memperbaiki diri dan berkarya. Singkirkan pikiran negatif. Tak perlulah kita takut akan istilah "Asing" yang selama ini seakan jadi momok di media. Karena saya koq yakin, kalau kita bisa punya daya tawar, bertransaksi dengan cantik, ikut berkiprah, nggak cuma jadi penonton.
Makanya boleh dong saya berangan-angan gimana indahnya Indonesia, kalau kita bisa berbenah diri  mulai beripikir lebih positif tentang bangsa kita sendiri, berusaha menjadikan Indonesia tempat tinggal yang nyaman, yang bersih, minim polusi, nggak ada korupsi, rate kejahatan yang rendah, masyarakatnya nggak ngomongin politik melulu, punya stasiun TV yang mendidik, guru-guru dan fasilitas pendidikan yang bagus, de-el-el. Saya jamin, kalau kita sudah bisa jadi seperti itu, manusia-manusia jenius yang selama ini kabur keluar negeri karena merasa lebih nyaman tinggal di LN, mereka akan balik tanpa diminta hahhah…… beberapa kali saya sempet ngobrol dengan orang2 yang berkarir di luar negeri ini, dan mereka juga sebenernya bukannya nggak kangen sama Indonesia, di hati yang terdalam, mereka tetep akan bilang 'Indonesia tanah air beta', cuman ya itu tadi, banyak faktor, antara pengen bikin perubahan tapi seringnya menyerah karena nggak tau juga harus berbuat apa dan mulai darimana.

Poin kedua adalah soal tulisan di media. Kadang tuh saya sedih bukan main liat trending topik di koran atau majalah Indonesia. Seringkali beritanya nggak berimbang. Mulai soal artis, pejabat korupsi, film teranyar, sampai soal politik. entah ya… tapi menurut saya banyak berita yang kadang saya sendiri nggak ngerti pelajaran apa yang bisa kita ambil dengan baca berita itu. Misalnya gini nih, ada artis yang baru aja melahirkan, trus di koran akan muncul si artis A melahirkan, via caesarian, trus si debay dikasih nama MMM. Titik.
nah lho, informasi macam begitu kan nggak penting buat semua orang, saya sih maunya ada juga dong informasi yang berguna buat pembaca, misal tips-tips persiapan melahirkan caesar, atau normal, saran2 untuk mengunjungi dokter terutama detik2 menjelang melahirkan, persiapan mental buat calon ibu baru, banyak lah yang bisa dibahas dan bermanfaat ketimbang diujung berita yang dibahas adalah mantan pacar si Artis A yang ngucapin selamat atas kelahiran debay. Itu baru soal artis, soal politik mah lebih 'hot' lagi, banyak yang kebakaran jenggot nulis ini itu yang menurut saya nggak jelas tujuannya apa. Akhirnya interpretasi orang jadi macam-macam. Belum lagi bikin tajuk berita yang bombastis padahal isinya adalah berita yang non-valuable. jiah…. hahahah. Suatu kali saya sampai sempat meredam emosi ibu saya yang termakan berita soal politik di TV, pelan-pelan saya kasih input dari sudut pandang berbeda, dan membiarkan beliau untuk berpikir sejenak. Hingga akhirnya beliau bisa menyimpulkan bahwa beliau harus lebih selektif soal berita di TV. Well done mommy! *big grin.

Hei bung yang nulis berita, sadarlah kalau anda adalah bagian dari mata rantai edukasi. Buat sebagian masyarakat Indonesia dengan akses informasi yang terbatas, anda adalah God Father of information yang juga akan membentuk pola pikir mereka. Karena mereka memiliki keterbatasan untuk mengakses berita penyeimbang, atau bahkan keterbatasan dalam memahami raw source material jika itu ditulis dalam bahasa asing. Dan itu sudah menjadi tugas anda untuk menyajikan berita dengan tulisan yang baik, koheren, dan informatif. Kita adalah bangsa yang besar dengan manusia-manusia yang pintar yang cukup bisa memahami tulisan-tulisan yang berbobot. Bukan berita tanpa makna yang menumpulkan kecerdasan berpikir dengan tulisan-tulisan yang provokatif. 

Tapi ya, Alhamdulillah, ditengah ketidak-mengertian saya akan arus informasi media di Indonesia saat ini. Saya masih punya teman-teman yang mampu berdiskusi dua arah, dengan tidak menyalahkan opini masing-masing, dan diberi kemampuan untuk berdiskusi secara terbuka tentang perbedaan-perbedaan pola pikir kami. Saya punya beberapa grup WhatsApp, BBM, Facebook dari berbagai komunitas yang pernah saya menjadi bagian dari mereka. Teman-teman yang menyadarkan saya bahwa masih ada segelintir manusia Indonesia yang peduli tentang kemajuan bagi masa depan Indonesia ditengah carutmarut informasi saat ini. Teman-teman yang tetap bertahan untuk berpikir positif tentang kearifan menyikapi perbedaan, mengedukasi tanpa saling merendahkan dan berjuang dari lingkup paling kecil, yaitu mengedukasi anak-anak dengan baik. Alhamdulillah.

Tapi memang, mereka jarang nongol di FB, hanya sebagian, nggak juga curcol di blog pribadi macam ibu-ibu galau kayak saya ini. hahhaha…… (*malu)
Mereka bekerja dalam diam, paling banter cuman diskusi di grup secara terbuka diselingi ocehan-ocehan khas pribadi masing-masing. Tapi cukup bikin saya lega. Masih ada harapan.



Brisbane. 
sunday, 16th of november 2014.