Follow Us @soratemplates

Saturday, March 7, 2015

Fawwaz (and Family) Reverse Culture Shock

9:37:00 AM 0 Comments
Banyak yang bilang pulang kembali ke Tanah Air tercinta adalah bukan perkara mudah. Dan itu banyak benarnya,  karena ternyata beradaptasi kembali pun butuh nyali.
heheheheh.
Dalam rangka adaptasi ini juga, saya pernah takut menyeberang jalanan selama dua minggu, terkejut dengan banyaknya manusia di mall, jalan-jalan kota, dan pasar. Sempat juga nggak pede belanja sayur di tukang sayur atau di pasar karena alasan nggak bisa nawar, akhirnya lebih nyaman belanja apapun di supermarket. Dan yang paling parah adalah diare menyerang setiap kali nekat menggigit sepotong cabe rawit, padahal ujungnya doang, nggak sampai habis, hingga puncaknya diare selama (hampir) sebulan, meski putus nyambung. 

Tapi diluar semua hal yang tampak susah itu, banyak hal-hal lain yang juga patut disyukuri. Kembali mendapatkan gaji rupiah bikin saya jadi nekat belajar lagi belanja di abang-abang sayur. Mulai kritis dengan harga-harga di supermarket walaupun mereka bilang lagi "promo". Mulai realistis melihat struk gaji dan harga-harga bahan pokok. Pokoknya intinya, mulai lagi menyesuaikan target finansial keluarga supaya tampak lebih "normal", hahhaha, soalnya tadinya sempat kalap karena merasa semua jadi murah dan masih sempat punya gaji Dollar. 



Anyway, kembali ke kantor juga tidak terlalu buruk, tentunya juga karena ada banyak teman-teman yang menyenangkan. Padahal tadinya sempet galau juga. Duh, dikantor mau ngapain yak? jangan-jangan udah pada nggak kenal muka saya?. hihiihi….

Satu hal yang termasuk jadi momok adalah soal adaptasi si anak. Biarpun saya sudah menyuarakan soal pulang ke Indonesia ini sejak 3 bulan sebelumnya, tetap aja saya sama paniknya seperti dulu saat pertama kali datang ke Australia. Hal yang paling rumit adalah soal bahasa. Bukannya saya dan suami nggak berusaha untuk tetap me-maintain Bahasa Indonesia si anak (baca: Fawwaz), tapi kelihatannya Fawwaz sudah sangat nyaman dengan Bahasa Inggris-nya. Dan saya sempat takjub setelah hampir delapan bulan di Indonesia dia masih sangat lancar dengan aksen Brissie-nya. Karena banyak juga yang bilang, saking cepat adaptasi yang bisa dilakukan anak-anak, bahasa pun bisa menguap dalam hitungan minggu. Tadinya saya pikir Fawwaz akan sedikit "lupa" dengan Bahasa Inggris dan mulai lancar berbahasa Indonesia. Tapi sampai hari ini, nyatanya, dia oke-oke aja dengan bilingual setiap hari. Dan doi-pun memang sudah menyatakan terang-terangan pada saya "Mom, I will keep talking in English with you and Daddy, but in Indonesia for others". Saya pun nggak keberatan walau jadinya kami berdua sering mendapatkan pandangan heran dari orang lain kalo sedang beredar diluaran, yang kadarnya pun macam-macam. Mulai dari curi-curi pandang, melihat sekilas, bertanya, ngajakin ngobrol, sampai bertanya dengan penuh curiga, either saya ini baby sitter-nya si Fawwaz atau saya nikah sama Bule. hahahahah……   

Bahkan minggu lalu ketika saya ajak Fawwaz menemani saya belanja bahan baju koko buat si ayah, dengan polos pun si mas penjaga tokonya nanya, "Bu, itu bahasa apa?". hehehhe, saking kentalnya logat Australia Fawwaz yang memang terkenal bercengkok, naik-turun, sedikit mumbling dan terkesan lazy

Soal sekolah, adalah satu hal yang paling banyak mengisi ruang galau saya. Masih saya ingat betapa dia sangat menikmati acara belajarnya di Brisbane. Jadi saya dan suami sudah melakukan survey kecil-kecilan tentang sekolah yang ada di Cibinong. Pilihan saya jatuh di Sekolah Alam Indonesia (SAI). Yang kalau saya amati punya metode belajar hampir mirip seperti sekolah Fawwaz di IronSide Brisbane. Mirip K-13, pakai Tematik. Walau banyak orang protes soal Tematik ini, tapi anehnya saya hepi dengan metode ini. Personally, menurut saya ini lebih masuk akal. Tapi ini opini saya semata lho ya….kalo punya pendapat lain silahkan aja asal saya nggak di-bully, hahahhaa. Terlebih lagi, sekolah ini nggak pake ranking, mengutamakan akhlak bukan nilai akademik, yang sejalan dengan visi saya mendidik anak. Saya masih ingat saya menanyakan soal sekolah barunya setelah tiga bulan kemudian, yang dikatakannya adalah "yes I am happy with my new school Mommy". Dan si Ibu pun tersenyum lega.


Dan tentu saja, saya sangat menikmati melihat-lihat hasil evaluasi Fawwaz dalam Bahasa Indonesia walau kadang masih tampak terbata-bata. He is getting better, for sure. Saya memang masih mengagumi sistem pendidikan Australia yang mengedepankan attitudeliteracy, dan critical thinking.  Dan mereka memang tidak main-main soal ini. Tapi disisi lain saya juga menyayangkan karena memang tidak terlalu concern soal agama. Dan inilah celah yang harus kami isi, menyeimbangkan rohani dan akal. Adalah suatu tantangan tersendiri saat Fawwaz bertanya soal kerudung yang dikenakan ibunya, soal halal dan haram, hari natal, puasa dan Idul Fitri. Apalagi jika kita ada ditengah-tengah komunitas yang tidak terlalu perduli soal kepercayaan akan Tuhan. Dan SAI adalah sebaliknya, mengedepankan soal Allah, perilaku dan kepemimpinan. Dan saya bersyukur, setidaknya saya bisa tambal-sulam. Tapi saya senang melihat betapa banyak Fawwaz jadi lebih "dewasa" sekarang , hahahaha, memang sih seringnya tingkah laku kanak-kanaknya masih meluap-luap. Tapi di beberapa aspek lain. I can see the differences. 
Dan ketika saya katakan itu padanya, dia cuma bilang "How do you know Mom?" dan jawaban andalan saya tetap seperti biasa, "Because I am your mommy" hahhahha…

Di sekolah ini juga kelihatannya Fawwaz juga mulai banyak melihat dan berusaha mengidentifikasi dirinya sendiri. Seringkali dia bilang "Mom, do you know that I am a very active person?" atau "Mom, I am a genius". Saya sih cuman senyum-senyum aja, mungkin tepatnya sih 'mendekati' genius kali ya…. mungkin dia memang merasa jarang kesulitan soal belajar. Pernah tes IQ juga memang hasilnya diluar ekspektasi saya. Tapi saya selalu punya pemahaman IQ ini nomor sekian ketimbang soal bertingkah laku baik. Makanya saya beberapa kali bilang sama si anak, kalau "Brilliant brain is just meaningless without a good manner". Dulu sih dia selalu bilang "why?" tapi sekarang, kalau saya ingatkan soal itu lagi, tampaknya dia mulai sedikit berpikir dan mengerti. 

Belum lagi sebenarnya SAI juga bukan hanya cukup menantang bagi anak-anak didiknya saja, tapi juga buat para orang tuanya. Apalagi kalau orang tua yang cukup sering parno dan panik macam saya ini. Bayangkan, tiap bulan ada yang namanya outing, nah semester ini anak-anak kelas dua sudah mulai belajar camping. Duh, saya sih jujur aja agak takut, mungkin karena saya bukan orang lapangan seperti suami saya yang ngakunya hobi adventuring di alam luar. Kalo saya mah, toilet nggak bersih aja bisa ribut seharian, kadang malah lebih milih nggak jadi ke toilet umum daripada 'sedih' liat toiletnya. :P
Dari jaman kuliah S1 dulu, saya ngerasa lebih aman di laboratorium ketimbang ambil spesimen diluaran. Nah balik lagi soal camping Fawwaz ini, nampaknya suami saya pun tau saya sedikit gelisah. makanya sampai sempat nanya: "Ibu udah siap Fawwaznya mau camping?". saya cuman bilang dengan lesu " I have no choice" . Saya sadar sih, toh juga tetap didampingi guru-gurunya, dan kelihatannya benefitnya pun banyak untuk perkembangan mental si anak. Tapi yaaaa, saya tetep aja parno…. hahahah.

Akhir ceritanya adalah…. keluarga kecil ini akhirnya merasa lebih baik setelah sekian minggu beradaptasi dengan banyak hal baru. Apalagi si penulis cerita (alias saya) yang hampir selalu terbirit-birit setiap hari antara pekerjaan kantor dan rumah. 
Memang cape sih, apalagi kalau ngeliat betapa tingginya tumpukan setrikaan dikamar heehehhe.