Follow Us @soratemplates

Wednesday, January 25, 2017

-NEVER EAT ALONE- (Being a member of the club)

-NEVER EAT ALONE-
Being a member of the club.

Judul                    : Never eat Alone (Expanded and Updated version)
Pengarang           : Keith Ferrazi
Genre                   : Pengembangan potensi diri
Penerbit               : Gagas media
Jumlah halaman  : 400++ halaman
Harga                  : Rp 300ribuan (lupa tepatnya berapa belinya :P)


Buku ini bukan punya saya tapi milik Pak Suami, tapi akhirnya saya tergoda baca juga karena satu dan lain hal. Utamanya karena beliau bilang bahwa buku ini punya langkah konkrit yang jarang ada di buku-buku lainnya yang banyak menyuguhkan ide tapi kering implementasi riil. Sebab lainnya karena saya mulai kahabisan buku bacaan (hahahhah), sampai-sampai kemaren saya baca ulang serial The Famous Five milik si sulung dan koleksi dongeng Classic Starts miliknya. Ditulis dalam bahasa Inggris, tapi mudah dipahami koq, don’t worry about that. Saya adalah Biologist, tapi saya pun bisa mengunyah dan menikmati buku ini.

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi 5 bagian utama, yaitu The mind set, The skill set, Turning connections into compatriots, Connecting the digital age, dan yang terakhir adalah Trading up and giving back.
Masing-masing bagian utama dibagi lagi menjadi beberapa chapter kecil. The mind set misalnya, terbagi menjadi 6 chapter bagian, yaitu Becoming the member of the club, Don’t keep score, What’s your mission? The genius Audacity dan The networking jerk.




And Let’s get started!!

The Mind Set ******CHAPTER 1 : Being a member of the club.

Bagian pertama buku ini diawali dengan kisah penulis buku tentang masa kecilnya di suatu kota terpencil yang disebut Youngstown, Pennsylvania. Dia menulis bahwa status ekonomi keluarganya adalah menengah kebawah, akan tetapi ayah dan ibunya bekerja keras memberikan kesempatan padanya untuk memperoleh pendidikan terbaik yang kala itu hanya akan dicicipi oleh kalangan berada. Dia bersekolah di sekolah swasta terbaik, membuatnya menyadari jurang perbedaan antara si-kaya dan si-miskin. Sisi baiknya, hal itu justru membuat si penulis bahkan belajar dan bekerja lebih keras dari siapapun saat itu. Hingga dengan prestasi yang dimilikinya, penulis berhasil bersekolah di Harvard Business School.

Dalam masa pencariannya di Harvard, kadang muncul perasaan bahwa dia terjebak di suatu tempat yang baginya terasa tidak mungkin bersaing dengan keluarga2 kaya lainnya yang seakan memang dilahirkan dengan naluri untuk menjadi pebisnis. Akan tetapi, dalam perjalanan masa mudanya, dia mengamati sesuatu yang kelak merubah cara pandangnya tentang dunia.
Di usianya yang masih belia, dia mengamati bahwa kesuksesan melahirkan kesuksesan lainnya yang mengakibatkan kaum kaya menjadi makin kaya raya. Sebaliknya, kemiskinan bukan hanya kekurangan di bidang finansial, akan tetapi merupakan penghalang dari bertemunya kita dengan orang-orang yang akan membantu mengeluarkan semua potensi yang kita miliki. Kesadaran semacam inilah yang akhirnya menyadarkannya bahwa tak penting seberapa pandainya kita, atau betapa sempurnanya talenta yang dianugerahkan pada kita sejak lahir, tak akan berarti banyak tanpa adanya campur tangan orang lain. You won’t get there alone.
Inilah titik balik saya mulai menyukai buku ini. Bahwa manusia itu sejatinya akan selalu lebih berkembang bersama-sama dan jika bertemu dengan orang yang tepat. Meredam individualisme yang akhir-akhir ini makin tampak nyata di komunitas manapun yang berakhir dengan ‘stabbing’ satu-sama lain. Menyakitkan bukan? Intinya, kalau kita mau sukses, kita kudu jadi manusia baik dulu. Mau membantu, karena kebaikan yang disebar itu akan berbalik arah memberikan kebaikan-kebaikan kepada kita.

Benar saja, paragraph-paragraph berikutnya menyajikan the power of generosity yang tak lekang waktu. Orang-orang sukses yang dikenalnya berlomba-lomba berlaku manis dan saling membantu satu sama lain, yang berakibat pada kokohnya networking yang mereka punya. Hal inilah yang disadarinya tidak dimiliki oleh teman-teman kuliahnya yang gagal setelah Harvard, mereka lupa bahwa bisnis adalah perusahaan yang dikelola oleh manusia dan memiliki bisnis artinya kita harus bisa bekerja sama dengan manusia lainnya dengan tulus. Karena ternyata, selama bertahun-tahun dia melihat kesalahan-kesalahan pada orang-orang yang berlaku baik namun manipulatif. Isn’t that nice? Jadi kebaikan kita memang haruslah tulus, bukan Quid pro Quo. 

Tips dari penulis dalam dunia bisnis adalah kehadiran seorang mentor yang ternyata sangat vital. Penulis menyimpulkan bahwa networking yang sebenar-benarnya adalah tentang membantu yang lainnya menjadi lebih sukses. Dan klasik seperti kisah sukses lainnya, beliau pun pernah merasa terjebak di suatu pekerjaan yang nampaknya kurang mengembangkan potensi dirinya. Untungnya, selama masa-masa membosankan itu dia tetap membina networking dengan teman2 semasa kuliah, para professor dan pebisnis. Dia-pun memberikan kuliah di akhir minggu dengan topik yang sangat beragam untuk komunitas-komunitas yang berminat.

Lompatan-lompatan kecil yang dibuatnya sekarang menjadikan penulis memiliki perusahaannnya sendiri, meskipun nampaknya langkah-langkah itu tak beraturan, Nampak tak berhubungan satu sama lain, akan tetapi, membentuk jalan hingga dia sukses mendirikan Ferrazi Greenlight, sebuah institusi riset, konsultan dan coaching. Saat ini, beliau dengan senang hati akan memberikan tips ataupun nasehat jika seseorang datang dan membutuhkan masukan darinya sebagai seorang expertise.

Babak akhir chapter ini ditutup dengan tiga poin penting dari beliau, bahwa membangun suatu networking sejatinya sangat menyenangkan, meski mungkin kadang memang sedikit time-consuming, akan tetapi akan sangat bagus untuk pengembangan potensi yang kita miliki. Karena pada intinya, kita akan selalu belajar banyak hal dari orang lain, dan sebaliknya.
Kedua, bahwa sebuah karir yang menuntut relationship yang terjalin baik akan berdampak bagus untuk perusahaan. Hal ini disebabkan karena setiap kali kita bertumbuh ke arah yang lebih baik, maka semua orang akan merasakan dampak positifnya, masih ingat kan yang saya tulis soal poin utama networking adalah menjadikan orang lain memiliki kesuksesan yang sama, bahkan lebih. Di satu sisi, beliau meyakinkan bahwa kita pun akan merasakan kepuasan tersendiri jika kita berhasil membantu orang lain.
Ketiga, bahwa koneksi dengan orang lain saat ini merupakan esensi dunia bisnis. Bahwa kita bertanggung jawab membentuk jalan kesuksesan kita sendiri, dengan informasi-informasi terkini yang berhasil kita dapatkan dari jaringan networking merupakan jalan terbaik untuk tetap bertahan di tangga teratas.

Ternyata yah, bisnis bukan melulu soal uang (kesimpulan saya sih), tapi juga soal empati dan bertumbuh bersama orang lain. Beliau menulis bahwa dia punya sekitar 10.000 nomor kontak yang dengan mudah akan dihubungi jika dia memerlukan sesuatu hal dan memastikan bahwa dirinya pun akan ada saat komunitas tersebut memerlukan campur tangannya. Menarik untuk diingat bahwa komunitasnya mendapatkan benefit untuk setiap kemajuan pribadi yang dicapai oleh beliau. Sudut pandang yang seperti ini yang saya sangat hormati. Bukannya apa-apa, I have been told by someone, that sometimes we have to step on someone else head to reach the highest position, which is not very me indeed. He keeps doing it until now, and going nowhere. Lol. Bicara dengan orang2 yang hanya mengambil manfaat dari orang lain seperti ini sebaiknya memang nggak sering-sering, kalo nggak hidup kita pun jadi pesimistik selain kita juga jatohnya kesal karena ngerasa cuma jadi batu lompatan :D.
Sorry de mori deh pak, saya nggak mau ikutan begitu, :P

Wah malah jadi ajang curcol, balik ke topik lagi. Nah sekarang, sudah berapa kontak yang kamu punya? Yang paling penting, sudahkah kita memberi manfaat untuk komunitas kita? Atau jangan –jangan kita emang belum punya komunitas vibrant yang aktif sharing benefit antar membernya? Kalo belum punya, hayuk bikin atuh, saya juga belum punya, hahahhahah…..
Pak penulis buku ini bilang, kalo dia aja pemuda dari daerah terpencil bisa bikin networking-nya sendiri, maka kamu-kamu semua pasti bisa, hahahhah….
*elap keringet…


***sekian dulu yee, moga saya nggak males nulis bab-bab berikutnya***

No comments: