Follow Us @soratemplates

Saturday, September 29, 2018

Yang mana dulu? Beli benang atau tentukan project merajut?

11:38:00 PM 0 Comments
Hai crocheters pemula!
Tulisan kali ini menuangkan kegalauan saya awal2 merajut dulu.
Jadi yang betul itu gimana? Beli benang nya dulu atau menentukan projectnya dulu?

Saya akan menganjurkan, tentukan dulu projectnya.
Beberapa orang mungkin akan bilang mending beli benang dulu.
Ya gapapa juga sih,, meskipun pengalaman saya kalau beli benang dulu itu musti nunggu "wangsit" mau dibikin apa benangnya. Selama wangsitnya belum dapet, selama itu pula benangnya nganggur dilemari.




Nah, sekarang yuk kita bahas kenapa musti project rajutnya dulu yang harus fix?
1. Karena benang yang available di toko offline dan online itu jenisnya puluhan. Mulai dari tekstur, komposisi benang, berapa ply, ply besar versus ply kecil, motif, dan ukuran.
Punya project yang sudah jelas akan membantu kita saat belanja benang, jadi kita nggak akan "tersesat" di toko craft. Menghindari compulsive buying yang akhirnya jelas menguras nominal kartu atm.
Saya ngaku sih, beberapa kali tersesat di toko akhirnya beli macem-macem yg belum terpakai. Heheheh....
Untungnyaaa.... yang saya beli dlm jumlah lumayan besar itu aneka ragam benang. Yang akhirnya saya cobain semua, justru dari ketersesatan itu banyak pelajaran yang bisa saya bagi setiap kali saya buka kelas merajut. :)

2. Pelajari instruksi pola dengan baik. Dalam pola biasanya ada keterangan memakai benang jenis apa, ukuran hook, dan berapa banyak yang dibutuhkan untuk menyelesaikan project tersebut. Apalagi kalau kita mau mengerjakan project-project besar, seperti syal yg cukup panjang, jaket, dll.
Nah saat belanja, pastikan membeli dalam jumlah yang cukup. Karena seringnya setiap batch pewarnaan benang akan sedikit ada colour shift, artinya warnanya kadang-kadang nggak bisa diproduksi sama persis.
Kadang2, seller benang juga juga mengingatkan tentang hal ini kok. Mereka baik ya...

3. Kalau misalnya kita ngeyel mau melakukan modifikasi benang, harus benar-benar dikalkulasi 'gauge' benangnya. Nah ini yg agak rumit. Jadi misalnya seperti ini, saya mau bikin alas duduk. Instruksi pola nya bilang, pakai jenis benang yang kaku (100% acrylic), dan gunakan crochet hook 5mm.
Ceritanya saya jatuh hati sama motif benang yang bahannya campuran antara cotton dan acrylic meskipun ukuran hook nya sama.




Perhatikan dua gambar diatas, ketiga rajutan dibuat dengan pola bulion stiches yang sama persis. Benang yang berwarna merah, adalah yang sesuai dengan instruksi (100% akrilik, kaku dan menggunakan crochet hook 5mm), benang stripe berwarna kuning adalah benang yang jadi incaran saya ( 50% akrilik 50% cotton, menggunakan crochet hook 5mm). Dan yang hijau adalah adalah benang yang terbuat 100% dari cotton, dengan crochet hook 2.5mm. 

Perbedaannya langsung terlihat signifikan ya. Jadi misalnya, dalam instruksi pola dikatakan membutuhkan 4 gulung benang menggunakan crochet hook 5mm, kalau saya ngeyel memakai benang type campuran antara cotton dan akrilik (berwarna kuning), mungkin akan memerlukan ekstra 1-2 gulung benang. Karena tipe benang sangat mempengaruhi ukuran hasil akhir produk. 
Apalagi kalau menggunakan benang yang kurang sesuai, seperti benang hijau, entah berapa kali lipat gulung benang yang diperlukan untuk menghasilkan produk dengan ukuran yang sama. Perhatikan juga bahwa ketebalan yang dihasilkan oleh tiga jenis benang itu sangat berbeda, tentunya untuk alas duduk akan terasa lebih empuk dan nyaman memakai benang yang tebal yaa...

Jadi itulah... konsep memilih benang yang harus diperhatikan supaya bisa menghasilkan project cantik seperti yang kita inginkan. 

Sampai ketemu di tips and trik merajut berikutnya yaa..

Salam Rajut!! 


Wednesday, September 26, 2018

MY -CArry All BAg- how to sew a bag for beginner.

9:52:00 PM 0 Comments

Hi everyone,
This post is inspired by youtube video from sewspire in here.
I was interested to give it a shot, since my first child asking for a bag that is big enough to carry his lunch, water bottle, spare of clothing and some times his big book on the weekend.

My choice came into this tutorial because it quite easy for a beginner like me. I should tell you that this is the first time I sew a bag. And I am quite pleased with the result.
What you need to prepare are:




* A pair of fabric, for outer and inner parts. I chose plain and striped fabrics for outer and inner parts, respectively.
* A brown plain fabrics match to the inner part to form divider inside the bag.
* 125 meters of webbing in a pair, for the handle.

as you can see, the green is for outer, stripe for the inner and plain brown for the divider.
For the size, I think you can adjust them, based on how big you need it to be.

I strongly recommend you to watch the video first, to get the ideas how the sewing goes on. Because I modified the end part of the sewing technique.
What I did first time was attaching the divider to the inner part of the bag. Once it done, I secured the handle into the outer.
Next step is to sew the body, the left and right of the bag (as seen on the picture below, shown by red arrow). Then continued by sewing the bottom. Do exactly the same for the inner.


We come to the part where I slightly modified attaching the inner and the outer.
What I did was arranging both the wrong side of inner and outer facing outside. This makes the handle, and the bag divider hid inside.


This is how I did the arrangement before securely sew the top. Both of the wrong side of the fabrics facing outside. Remember that the inner already has the divider, and the outer has the handle attached securely, as all of those things hid inside, you cannot see them while sewing the top using this technique.
Continue sewing the top of the bag, but leave around 20 cm un-sewed. Leave the hole open, then pull both fabrics through the un-sewed part.



This how it was looked like while both fabrics completely pulled out. Finally, you can sew the hole. And thats it! The bag is ready to go.







Have a nice day everyone!
*kiss*

Thursday, September 20, 2018

Cerita Mudik Lebaran: Wisata ke Telaga Menjer

10:07:00 PM 0 Comments

Wonosobo merupakan kota kecil di Jawa Tengah yang menjadi tempat kelahiran pak suami. Setiap lebaran kami sekeluarga berusaha untuk selalu pulang ke kampung halaman. Meskipun nyatanya kadang-kadang mudiknya tertunda atau batal, misalnya seperti tahun lalu, batal mudik pas jabang bayi baru berumur dua bulan, karena ibuknya si bayi nggak berani jalan jauh-jauh hahahah. Tahun ini keluarga cemara punya kesempatan untuk mudik karena ada cuti yang super panjang. Yang istimewa dari Lebaran tahun ini adalah karena seluruh kakak-Kakak dan adik ipar serta keponakan-keponakan yang totalnya lebih dari 20 orang bisa pulang kampung.
Bisa kebayang ramenya kayak apa kan?

Seperti biasa, kalau kami semua sedang tumplek dikampung, acara wajibnya adalah jalan-jalan ke salah satu tempat wisata yang ada di Wonosobo. Dari hasil rembukan sehari sebelum lebaran, ples masukan dari keponakan-keponakan yang udah beranjak remaja, kami putuskan untuk jalan-jalan ke Telaga Menjer saja. Kabarnya telaga ini sekarang punya view yang instagramable. Biasanya daerah wisata Dieng juga jadi lokasi liburan favorit keluarga besar, cuman kali ini nggak kuat kalo musti pake macet-macet. Mengingat jalanan ke dieng hampir selalu macet sejak berapa tahun terakhir ini. Selain itu  (masih katanya keponakan juga), di sekitar Telaga Menjer sudah di-upgrade hingga punya wisata baru yang kekinian. Salah satunya adalah Bukit Seroja, yang letaknya tepat di atas telaga menjer.




Hari kedua lebaran, buru-buru kami segera berangkat ke Bukit Seroja untuk menghindari macet di dalam kota Wonosobo. Pagi itu cuaca sangat cerah sehingga pemandangan Gunung Sindoro yang megah menemani perjalanan kami. Objek wisata Bukit Seroja dapat dijangkau melalui wilayah kecamatan Garung. Dari sana tinggal ambil belokan ke kiri, melewati pembangkit listrik tenaga air yang ada di dekat kecamatan Garung. Sesampainya di Telaga Menjer, perjalanan harus diteruskan sekitar 1 km ke lapangan Desa Tlogo. Di sana pun kami memarkirkan mobil dan melanjutkan perjalanan ke puncak Bukit Seroja dengan naik ojek. oh iya, naik ojek ini kayaknya wajib yaa.... karena tanpa ojek kampung ini kita nggak bisa nyampe ke puncak Bukit Seroja yang konon indah banget itu. Eh ya mungkin bisa aja kalau mau romatis-romatisan jalan gandengan tangan, dijamin berangkat pagi- sorenya baru bisa sampai di puncak dan kehausan. Nah karena geng keluarga kami anggotanya banyak ibu-ibu dan anak anak, baiknya naik ojek aja, cukup 10.000 kita udah diantar sampai ke puncak.
The Ikromi's grandchildren minus si bayi karena dikekepin ibunya :P

Telaga Menjer dilihat dari puncak Bukit Seroja.


Di sepanjang jalan berbatu yang hanya bisa dilewati oleh ojek ini, kami disuguhi oleh pemandangan Telaga Menjer dan beberapa spot-spot cantik untuk foto-foto. Berbagai platform berbentuk hati, bintang ataupun sarang cinta dibangun di sepanjang pinggir jalan untuk melayani turis-turis milenial yang sangat doyan dengan foto selfie dan update status di sosmed. Saya? lanjut terus lah lha wong disambi gendong bayik yang sehat banget.. udah nggak kepikiran buat ambil foto. Lagi pula
semua anggota liburan sudah sepakat untuk pergi ke puncak Bukit Seroja, oleh karena itu kami sengaja melewatkan spot-spot yang ada di panjang jalan itu.

Spot yang punya tulisan galau :)

Sesampainya di puncak, ternyata ada Cafe yang bentuknya cukup kekinian dan taman-taman instagramable. Saya bilang instagramable bukannya kenapa-kenapa, selain pemandangan yang memang indah dan udara sejuk, ada juga lho tulisan-tulisan galau ala remaja. Ternyata memang sangat hebat pengaruh sosmed yang mampu mengubah desa terpencil yang punya pemandangan apik menjadi objek wisata unggulan dan ditambah dengan beberapa platform untuk selfie. Saya ngapain aja? yang jelas beli makan-minum di cafe, foto-foto dan beli cilok. :P
Jangan nanya foto saya di deket tangga yang bisa melihat area danau dari ketinggian ya... soalnya nggak ada. Kalaupun ada kayaknya agak cemberut karena saya ini fobia ketinggian. Jadi udahlah, makan cilok dan foto-foto di deket taman aja.

Puas di Bukit Seroja, berikutnya adalah Telaga Menjer. Ini kedua kalinya buat saya dateng liburan disini.  Aktivitas yang nggak bisa dilewatkan disini yaitu berkeliling danau dengan menaiki gethek. Gethek itu sebutan lokal untuk perahu yang terbuat dari bambu. Duluuuu banget perahunya masih serba minimalis, eh kemaren perahu-perahu itu sudah bertransformasi jadi warna-warni ditambahin iringan musik dangdut. Saya nggak tau nih berapa tarif naik perahunya, karena tau-tau aja udah lunas dibayarin kakak ipar, aseeekkkk. :P
Foto yang diambil diatas perahu, anggep aja yang lain numpang lewat :D

Trus diperahu kita ngapain aja? ya foto-foto lah.
Perahunya lumayan stabil kok biarpun angin sore lumayan kencang.
Setelah puas jalan ke Bukit Seroja dan Telaga Menjer, kami pun kembali ke rumah kami di kampung, setelah sebelumnya mampir ke warung mie ongklok. Kami pun berhenti di salah satu warung untuk ramai-ramai menikmati makanan khas Wonosobo.

Demikianlah oleh-oleh cerita mudik kemarin yaaa.
Kalau berkesempatan mampir ke Wonosobo, jangan lupa untuk mampir ke Telaga Menjer, selain mengunjungi Dieng dan objek wisata di sekitarnya.
See ya!!

Tuesday, September 11, 2018

-NEVER EAT ALONE- ( The Genius of Audacity)

9:47:00 AM 0 Comments
The Genius of Audacity adalah salah satu chapter yang ada di dalam buku Never Eat Alone di bab pertama. Kalau lupa-lupa ingat resensi sebelumnya, boleh diintip disini yaaa...
Saya langsung terpikat pada bab ini karena banyak moral stories yang bisa diambil dari pengalaman-pengalaman hidup penulis, jadi bukan sekedar tips and trik. Bahkan cerita bermuatan positif itu ditulis sejak paragraf pertama. Alkisah beliau menceritakan tentang sang ayah, Pete Ferrazzi, pekerja dengan upah murah di salah satu perusahaan pembuatan baja. Walaupun sang ayah boleh dibilang tidak berpendidikan tinggi, tapi beliau tidak ingin Ferrazzi kecil hidup serba kekurangan seperti dirinya. Sang ayah lalu memahami bahwa ada satu jalan untuk merubah hidup si Ferrazzi kecil, yaitu bertemu dengan sang CEO.









Diceritakan dalam buku tersebut bahwa Ferrazzi senior lalu berkeras ingin bertemu dengan petinggi perusahaan, hingga akhirnya permintaan ini didengar oleh sang CEO dan dikabulkan. Walau pada kenyataannya mereka berdua tak pernah bertemu, karena sang ayah hanya mengantar Ferrazzi kecil bertemu sang CEO lalu seakan berserah pada nasib. Pertemuan tersebut rupanya mengesankan si Petinggi perusahaan, beliau tersentuh dan memberikan rekomendasi bagi Ferrazzi untuk mengenyam pendidikan terbaik ala orang-orang kaya. Satu pintu yang akhirnya benar-benar merubah hidup Ferrazzi.

Sifat kepahlawanan sang ayah rupa-rupanya belum cukup sampai disana. Satu cerita lainnya adalah ketika sang ayah melihat sepeda anak-anak teronggok di tempat sampah. eh ya, kalau di luar negeri agak lumrah membuang barang-barang yang sudah nggak terpakai di hari-hari tertentu. Di Australia ada yang namanya dumping day, hari-hari dimana beberapa keluarga akan mengeluarkan barang-barang nggak kepake dan orang lain akan memungut dengan senang hati. 

Dan kalau sudah ada diluar, barang-barang itu free yes, boleh diambil kapanpun, asal nggak keduluan yang lain :P.
Balik ke kisah pak Ferrazzi tadi, si ayah ini konon lalu mengetuk pintu rumah, dan bicara dengan sopannya kepada pemilik rumah bahwa dia tertarik untuk ngambil sepeda anak-anak tersebut (karena beliau merasa bisa memperbaikinya). Beliau dengan bangganya menambahkan bahwa putranya akan senang sekali menerima sepeda itu sebagai hadiah.
Bisa dibayangkan bukan, lelaki tua itu sejatinya mengakui bahwa dia sangat miskin dan menginginkan sepeda rusak itu sebagai hadiah untuk anak lelakinya. Reaksi pemilik rumah pun tampak sangat terkejut, saking terkejutnya bahkan menawarkan sepeda lain yang lebih besar untuk dibawa pulang juga oleh keluarga Ferrazzi. Nyonya rumah dari keluarga berada itu bercerita dengan bersemangat bahwa putra-putrinya sudah beranjak dewasa dan mereka punya sepeda layak pakai yang tersimpan di gudang. Bingo! mereka bawa pulang dua sepeda hari itu.

Dari kisah tersebut penulis memetik pelajaran dari sikap sang ayah, bahwa keberanian sejatinya terbentuk dari sifat-sifat baik sekaligus jenius. Hal tersebut menjadi energi bagi penulis setiap kali beliau menentukan target, menangkal ketakutan-ketakutan yang datang merajai pikiran. Mengingatkan penulis dan kita semua bahwa manusia-manusia yang memiliki sedikit toleransi terhadap resiko, yang selalu dikendalikan oleh rasa takut, memiliki kecenderungan untuk meraih sukses yang lebih sedikit.  Bayangkan saja, kalau si ayah cukup penakut atau pemalu untuk mengetuk pintu rumah, bisa dipastikan keluarga Ferrazzi hanya akan pulang membawa sepeda anak yang rusak, tanpa ekstra sepeda lainnya yang nyatanya masih bagus dan layak pakai.

Dan ya, saya merasa kecubit sikit-sikit, berhubung saya adalah orang yang hampir selalu play safe dan agak-agak penakut nyoba ini itu, malah seringnya orang lain yang yakin saya bisa ngerjain ini itu, padahal saya sendiri ragu-ragu. Bukan karena nggak pede yakk, saya mah orangnya pede-an, tapi penakut... hahahhaha...

Beliau menambahkan bahwa banyak orang merasa kurang nyaman membuka pembicaraan dengan orang baru dikarenakan masalah "public speaking". Well, dia berbagi resep bahwa untuk menangkal ketakutan tersebut; yang pertama harus dilakukan adalah memahami bahwa merasa takut memulai pembicaraan dengan orang asing adalah sesuatu yang sangat normal, lha wong semua orang juga gitu kok.
kedua, sadar diri bahwa bagaimanapun ketakutan itu harus kita hadapi, kita hilangkan.
ketiga, punya komitmen untuk membuat kemajuan-kemajuan dalam kasus ketidak-pedean public speaking ini. Kesimpulan saya sih, nggak ada jalan lain, kecuali latihan bicara di depan umum, bikin proggress dan kerjakan. 

Seperti yang dikutip dari Mark Twain berikut, "There are two types of speakers, those are nervous and those are liars".
Jadii, nervous itu normal ya, yang nggak boleh itu ikutan jadi anggota geng 'Liars"

Selamat latihaaan...



Saturday, September 8, 2018

Mengenal pola rajut (1)

11:14:00 AM 0 Comments
Duluuu sekali, ketika awal belajar merajut, saya pun bingung melihat diagram rajut.
Karena awal saya belajar modalnya dari youtube, heheheh. Jadi nggak ada polanya. Kita ikutin aja instruksi dan gerak tangan si tutor.
Memang sih pas SD pernah diajarin mama pegang hakpen dan dikasih benang wool. Tapi tanpa pola, dan cuma satu macam tusukan, jadi saya nggak tahan abisnya kayaknya kurang asik.

Beberapa kali saya bikin kelas kecil merajut, barulah saya paham. Ternyata tantangan paling bikin pusing selama belajar adalah mengamati dan mengikuti pola atau diagram rajut.
Saya sejujurnya lupa sih, awal-awal dulu belajar gimana prosesnya, karena memang belajar otodidak. Tapi rasa-rasanya beberapa buku rajut yang saya baca online cukup membantu.
Jadi garis besarnya, belajar pola rajut itu gampang kok, asal kita paham prinsip dasarnya, yaitu:
1. Sudah bisa membedakan berbagai macam pola tusuk.
2. Teliti menghitung, kalo males bisa pakai penanda rajut ya....
3. Bisa mengenali alur rajutan.
Beneran nggak sulit kok.



Kita coba ya......

 Mari kita lihat sama-sama pola diatas, yang saya tulis ulang ketika awal belajar untuk membantu saya sendiri mengenali alur rajut.

# yang harus dikenali pertama kali adalah bagian rangka rajut.
Pola pouch diatas, kerangka awalnya adalah 39 rantai, ditandai dengan tulisan *39 rantai berwarna hitam.
Berikutnya, setelah kita buat 39 rantai, what's next?

#ok, perhatikan di lajur satu (saya gambar polanya dengan warna merah, dengan tanda angka satu dalam lingkaran). Di dekat angka satu, ada ekstra 2 rantai tambahan, lalu dilanjutkan dengan pola half double crochet (hdc) pada setiap rantai rangka, hingga ke ujung yang lain. Di ujung kanan pola ini ditambahkan 3 tusuk hdc, sebelum dilanjutkan dengan 1 hdc untuk tiap satu rantai rangka pada sisi yang berlawanan.
Jika lajur satu selesai, kita seperti sudah membuat huruf U yang mengelilingi rantai rangka.

# lajur 2 pun sama, diawali dengan 2 rantai. Pada pola diagram diatas digambar dengan tinta biru. Caranya sama, 1 hdc untuk tiap satu rantai yang dibuat di lajur 1. Pada lajur 2 ini ada tanda V pada ujung kanan yang artinya untuk satu rantai dari lajur 1 akan diisi 2 hdc di lajur 2 (bercabang). Lajur dua pun akan menghasilkan crochet berbentuk huruf U.
Begitu seterusnya hingga 9 lajur selesai.

Yang harus dipahami adalah alur crochet selalu bergerak dari kanan ke kiri. Ada kalanya, kita harus memutar atau membalik rajutan, dan pola dilanjutkan dengan merajut di sisi belakang.

Menghitung pun tak kalah penting, karena setiap lajur yang dibuat akan menjadi patokan dasar untuk lajur berikutnya.

Dulu saat awal belajar, biasanya saya sedikit meluangkan waktu menggambar ulang pola, dan saya beri tanda tiap lajurnya, sambil membayangkan alur rajutan. Gunanya banyak sekali, yang jelas saya nggak perlu menghitung ulang setiap kali saya lupa sudah ada di lajur berapa. Ples pola nya bisa dicoret-coret sesuka hati.

Gambar di bawah ini adalah pola asli, yang saya abadikan dari pinterest. Pasti ketemu kalau di cari dengan keyword crochet pouch 😊.


Dan taraaa, ini pouch bikinan saya, yang sekarang udah berpindah tangan semua. They are in the safe hands.

Besok-besok, kita belajar pola yang lain yaaa...
Sampai jumpaaa...
Happy weekend ladies 😘😘😘

Thursday, September 6, 2018

My very own crochet hook collection

8:12:00 AM 0 Comments
Hello crocheters....
Tulisan kali ini khusus membahas tentang berbagai macam crochet hook.
Meski review ini sebatas varian crochet hook yang saya punya, tapi semoga membantu ya, khususnya bagi crocheter pemula.
Enjoy!



1. Sullivans's Aluminium Crochet Hook

Brand Sullivan ini adalah koleksi crochet hook yang pertama kali saya punya. Dijual perbiji di Lindcraft, masing-masing $4.5 AUS (seinget saya sih :P). Merupakan salah satu crochet hook favorit karena ternyata dengan berjalannya waktu, crochet hook ini cukup nyaman untuk dipakai mengait berbagai tipe macam benang, baik katun, poly, akrilik, pun yang berbahan kaos. Yang jelas juga cukup ringan, meski size terbesar sekalipun :P.

di Indonesia saya pernah lihat yang serupa, cuma kayaknya beda merek, harganya juga cuma naik beberapa ribu rupiah kalau di kurs-kan dari dollar Australia. Jadi saya cukup merekomendasikan yang merek ini ya...

2. Crochet hook Handle karet.
Crochet hook tipe ini baru saja saya beli. Niatnya sih buat ngajarin yang berminat untuk belajar merenda. Tapi tentunya harus dicoba dulu kan ya... hahaha.
Pertama kali liat kalo crochet ini lagi sale, saya langsung tertarik beli karena warna-warni. Alasan lain nya karena memang belum punya yang pakai handle karet. Komentar saya, ini lumayan nyaman, handle karetnya benar-benar mengurangi tekanan aluminium ke jari-jari. Tapiii.... saya merasa agak kurang nyaman kalau harus merenda benang ukuran besar (misalnya T-yarn) pakai hook ini.

Seperti yang kelihatan di gambar, panjangnya Handle karetnya lumayan menguasai 2/3 panjang hook. Nah T-yarn kan benangnya gendut tuh, otomatis nabrak bagian handle, jadi malah bikin gerak tangan kurang fleksible.
Tapi kalau pake benang ukuran normal, lets say 2.3-2.5mm, crochet hook ini bisa banget jadi andalan.
Belum lagi hiburan warna-warnanya yang tsakep.. :P. Liatnya aja udah bahagia.

oh iya ,,,, ini saya beli langsung satu set ya,,, saya kurang tau apakah ada yang bisa jual perbiji. Nggak ada merek yang tertera... tapi sepertinya ini buatan lokal.


3. Boye's colourful crochet hook

Jadi, crochet hook ini saya beli dalam kondisi seken tapi masih baguuus banget, dirawat dengan baik sama pemilik sebelumnya. Sama seperti Sullivans, ini juga saya sayang-sayang pake-nya. Enak untuk macam-macam benang. Kekurangannya mungkin mahal aja kali yaa, karena ini merek impor.

Cuman saya jadi rada mikir, ini warnanya bakal ngelupas ngga yaaa kalo keseringan saya pake?
kayaknya enggak juga sih.
hahahhah...











4. Boye's Crochet hook for lace.

Dari sekian banyak crochet hook yang saya punya, mereka ini yang paling imut-imut. Mereknya Boye juga, cuman yang ini nggak dilapisi lapisan warna.
polos dengan warna khas aluminium tapi sedikit lebih shiny ketimbang crochet hook aluminium biasa yang saya beli di Indonesia.

Dan entah kenapa saya malas banget beli benang berdiameter kecil buat nyoba crochet hook ini. Selama ini saya pakai buat menambah aksesoris pada rajutan saya, misalnya nambahin mutiara, kancing dan printilan2 kayu.











5. Tulip's Etimo Crochet Hook.
Koleksi Crochet hook brand Tulip etimo ini saya juga beli seken (duh buk, kok hobi banget sik beli barang seken :P)
Dan entah kenapa menurut saya kok pemakaiannya nggak secantik penampilannya (halah).
Bukannnya kenapa-kenapa sih, jadi crochet hook ini aluminiumnya dilapisi bahan glossy berkilat dan licin. Cantik sih. Tapi begitu saya pake buat mengait, eh benangnya geser terus, sepertinya karena pelapisnya licin banget. Padahal ya, merajut itu kan perlu mempertahankan tension-gauge disetiap lilitan benang, jadi jarak lilitan bisa konstan dari awal sampai rajutan selesai.
soo,, yang ini sih lebih banyak jadi pajangan aja. hehehehe
Nyesel beli? nggak juga..
Lha wong doi cakep :P .







6. Local double sided crochet hook.
Nah yang ini mudaaah banget dibeli di Indonesia.
Harganya pun beragam, saya punya merek clover, tulip yang harganya sekitar 20-25 ribu rupiah perbiji. tapi yaaaa kmrn nemu juga crochet hook aluminium tanpa merek di toko benang yang harganya 3 ribu rupiah. Penasaran saya beli lah barang dua biji, dan langsung coba-coba.
Komentar saya sih,,, bukannya nggak nyaman yang harga murah, bisa dipake kok, tapi ya jelas lebih nyaman yang harganya 20 ribuan. Hahaha...












Sementara cukup sekian reviewnya yaa...
kalo ada rejeki dan bisa nambah koleksi crochet hook saya,, insyaAllah reviewnya akan di update.
Semoga membantu ya untuk yang mulai mau belajar merenda.
Sampai jumpaaaa.......

Wednesday, September 5, 2018

review buku: Raa Raa's quiet time (the noisy lion)

12:24:00 AM 0 Comments

Review hari ini adalah buku anak-anak yang ditulis dalam bahasa Inggris berjudul "Raa Raa's quiet time"



Buku ini terdiri dari 7 lembar (sekitar 16 halaman) dan dicetak di kertas karton tebal dan berwarna. Cover yang berwarna-warni bikin buku ini tampak nenarik dibaca bersama orang tua. Saya mengamati beberapa kata dituliskan dalam ukuran besar dan tebal. Dengan sedikit improvisasi cara membaca dari orang tua, buku ini akan memudahkan anak-anak mengenal beberapa kosakata dalam bahasa Inggris.





Misalnya seperti kosakata "butterfly" yang ada di halaman 8, seperti yang tampak pada gambar disamping.
Jika dibaca dengan intonasi yang sedikit berbeda, dan kita tunjuk tulisannya. Otomatis si anak akan merekam suara sekaligus urutan alfabet yang ditunjuk. Metode belajar membaca seperti ini umum diajarkan di negara berbahasa inggris.
Unik nya lagi anak-anak akan dengan cepat 'menangkap' esensi dari kata-kata yang ditunjuk.

Saya jadi ingat, cara ini adalah cara membaca yang diajarkan disekolah si sulung di Ironside state school. Dia yang tadinya nol dalam bahasa Inggris, bisa lancar membaca dalam waktu 3 bulan, sekaligus menulis 😅😅😅.
Padahal tadinya bahasa indonesia pun dia gak bisa baca.

Salah satu alasan kenapa saya tertarik beli buku ini adalah karena diterbitkan oleh Ladybird Publisher. Reputasi mereka dalam menerbitkan buku literasi untuk anak sangat baik. Oh ya, ini saya beli di indonesia yaaa, jadi bukan buku-buku yang sengaja saya bawa dari brisbane. Belinya dalam kondisi sangat baik walaupun seken di toko online Halaman Moeka. Karena buku seken harganya pun ramah dikantong.

Buku ini bercerita tentang Raa Raa yaitu seekor singa kecil yang bersuara keras (ya kan singa, kalau suaranya imut namanya kucing dong ya) dan 3 teman-temannya yang terkejut ketika melihat seekor kupu-kupu yang terbang. Cerita berlanjut ketika tak ada satupun teman-teman Raa Raa yang tau nama makhluk tadi, hingga akhirnya mereka mengenal si makhluk mungil yang selalu terbang ini sebagai butterfly alias si kupu-kupu.

Saya bacakan buku ini buat si toddler ya.. walaupun si sulung sesekali juga ikutan ngintip2 buku ini.
Oh iya, karena si adek juga masih 16 bulan, jadi yang jelas targetnya adalah bukan belajar membaca, tapi cuma sekedar membiasakan diri dengan buku. So I do not expect too much, lol. But this is a good source for my home library.

Happy reading...😘😘