Follow Us @soratemplates

Tuesday, September 11, 2018

-NEVER EAT ALONE- ( The Genius of Audacity)

The Genius of Audacity adalah salah satu chapter yang ada di dalam buku Never Eat Alone di bab pertama. Kalau lupa-lupa ingat resensi sebelumnya, boleh diintip disini yaaa...
Saya langsung terpikat pada bab ini karena banyak moral stories yang bisa diambil dari pengalaman-pengalaman hidup penulis, jadi bukan sekedar tips and trik. Bahkan cerita bermuatan positif itu ditulis sejak paragraf pertama. Alkisah beliau menceritakan tentang sang ayah, Pete Ferrazzi, pekerja dengan upah murah di salah satu perusahaan pembuatan baja. Walaupun sang ayah boleh dibilang tidak berpendidikan tinggi, tapi beliau tidak ingin Ferrazzi kecil hidup serba kekurangan seperti dirinya. Sang ayah lalu memahami bahwa ada satu jalan untuk merubah hidup si Ferrazzi kecil, yaitu bertemu dengan sang CEO.









Diceritakan dalam buku tersebut bahwa Ferrazzi senior lalu berkeras ingin bertemu dengan petinggi perusahaan, hingga akhirnya permintaan ini didengar oleh sang CEO dan dikabulkan. Walau pada kenyataannya mereka berdua tak pernah bertemu, karena sang ayah hanya mengantar Ferrazzi kecil bertemu sang CEO lalu seakan berserah pada nasib. Pertemuan tersebut rupanya mengesankan si Petinggi perusahaan, beliau tersentuh dan memberikan rekomendasi bagi Ferrazzi untuk mengenyam pendidikan terbaik ala orang-orang kaya. Satu pintu yang akhirnya benar-benar merubah hidup Ferrazzi.

Sifat kepahlawanan sang ayah rupa-rupanya belum cukup sampai disana. Satu cerita lainnya adalah ketika sang ayah melihat sepeda anak-anak teronggok di tempat sampah. eh ya, kalau di luar negeri agak lumrah membuang barang-barang yang sudah nggak terpakai di hari-hari tertentu. Di Australia ada yang namanya dumping day, hari-hari dimana beberapa keluarga akan mengeluarkan barang-barang nggak kepake dan orang lain akan memungut dengan senang hati. 

Dan kalau sudah ada diluar, barang-barang itu free yes, boleh diambil kapanpun, asal nggak keduluan yang lain :P.
Balik ke kisah pak Ferrazzi tadi, si ayah ini konon lalu mengetuk pintu rumah, dan bicara dengan sopannya kepada pemilik rumah bahwa dia tertarik untuk ngambil sepeda anak-anak tersebut (karena beliau merasa bisa memperbaikinya). Beliau dengan bangganya menambahkan bahwa putranya akan senang sekali menerima sepeda itu sebagai hadiah.
Bisa dibayangkan bukan, lelaki tua itu sejatinya mengakui bahwa dia sangat miskin dan menginginkan sepeda rusak itu sebagai hadiah untuk anak lelakinya. Reaksi pemilik rumah pun tampak sangat terkejut, saking terkejutnya bahkan menawarkan sepeda lain yang lebih besar untuk dibawa pulang juga oleh keluarga Ferrazzi. Nyonya rumah dari keluarga berada itu bercerita dengan bersemangat bahwa putra-putrinya sudah beranjak dewasa dan mereka punya sepeda layak pakai yang tersimpan di gudang. Bingo! mereka bawa pulang dua sepeda hari itu.

Dari kisah tersebut penulis memetik pelajaran dari sikap sang ayah, bahwa keberanian sejatinya terbentuk dari sifat-sifat baik sekaligus jenius. Hal tersebut menjadi energi bagi penulis setiap kali beliau menentukan target, menangkal ketakutan-ketakutan yang datang merajai pikiran. Mengingatkan penulis dan kita semua bahwa manusia-manusia yang memiliki sedikit toleransi terhadap resiko, yang selalu dikendalikan oleh rasa takut, memiliki kecenderungan untuk meraih sukses yang lebih sedikit.  Bayangkan saja, kalau si ayah cukup penakut atau pemalu untuk mengetuk pintu rumah, bisa dipastikan keluarga Ferrazzi hanya akan pulang membawa sepeda anak yang rusak, tanpa ekstra sepeda lainnya yang nyatanya masih bagus dan layak pakai.

Dan ya, saya merasa kecubit sikit-sikit, berhubung saya adalah orang yang hampir selalu play safe dan agak-agak penakut nyoba ini itu, malah seringnya orang lain yang yakin saya bisa ngerjain ini itu, padahal saya sendiri ragu-ragu. Bukan karena nggak pede yakk, saya mah orangnya pede-an, tapi penakut... hahahhaha...

Beliau menambahkan bahwa banyak orang merasa kurang nyaman membuka pembicaraan dengan orang baru dikarenakan masalah "public speaking". Well, dia berbagi resep bahwa untuk menangkal ketakutan tersebut; yang pertama harus dilakukan adalah memahami bahwa merasa takut memulai pembicaraan dengan orang asing adalah sesuatu yang sangat normal, lha wong semua orang juga gitu kok.
kedua, sadar diri bahwa bagaimanapun ketakutan itu harus kita hadapi, kita hilangkan.
ketiga, punya komitmen untuk membuat kemajuan-kemajuan dalam kasus ketidak-pedean public speaking ini. Kesimpulan saya sih, nggak ada jalan lain, kecuali latihan bicara di depan umum, bikin proggress dan kerjakan. 

Seperti yang dikutip dari Mark Twain berikut, "There are two types of speakers, those are nervous and those are liars".
Jadii, nervous itu normal ya, yang nggak boleh itu ikutan jadi anggota geng 'Liars"

Selamat latihaaan...



No comments: